Detail Artikel

“Dua Dokter, Satu Panggung: Energi dan Elegansi MC Menghidupkan HUT Lantipda Gianyar”

“Dua Dokter, Satu Panggung: Energi dan Elegansi MC Menghidupkan HUT Lantipda Gianyar”

Gianyar — Di balik suksesnya perhelatan HUT ke-1 Lantipda Kabupaten Gianyar yang berpadu dengan semangat Hari Kartini, terdapat peran penting dua figur yang menghidupkan alur acara sejak awal: dr. Teguh Wisesa dan drg. Hartiningsih. Keduanya tampil bukan sekadar sebagai pembawa acara, tetapi sebagai penyambung energi, penjaga ritme, sekaligus pengikat suasana kebersamaan.

Sejak awal, keduanya membuka acara dengan penuh kehangatan dan penghormatan kepada para tamu undangan. Narasi pembuka yang disampaikan mencerminkan kesantunan, profesionalisme, sekaligus kepekaan budaya.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, salam sejahtera, salam budaya, salam kebajikan… izinkan kami menyampaikan penghormatan kepada seluruh tamu undangan dan hadirin yang berbahagia,” demikian pembuka yang disampaikan dengan penuh wibawa.

Tak sekadar formalitas, keduanya juga mampu mencairkan suasana dengan pendekatan yang ringan namun tetap elegan.

“Boleh kita berikan tepuk tangan untuk kita semua… selamat datang dan selamat bergabung dalam kebersamaan hari ini,” ucap mereka, mengundang partisipasi hangat dari seluruh hadirin.

Keberhasilan mereka sebagai MC tampak dari kemampuan mengalirkan acara secara sistematis tanpa kehilangan sentuhan humanis. Mereka tidak hanya membacakan susunan acara, tetapi juga memberi warna melalui diksi yang puitis dan komunikatif.

“Izinkan kami membacakan susunan acara… dimulai dari pembukaan, tari pembuka, menyanyikan lagu kebangsaan, hingga rangkaian hiburan dan kebersamaan,” ungkap mereka dengan intonasi yang terjaga.

Yang menarik, di sela-sela pembacaan, keduanya juga menyelipkan sentuhan estetika melalui kalimat-kalimat bernuansa sastra:

“Lukisan adalah seni, indah dengan batu permata… di pantai ada pohon kelapa…”

Kalimat sederhana ini menjadi bukti bahwa peran MC tidak hanya sebagai pemandu teknis, tetapi juga sebagai pencipta suasana.

Puncak keindahan pembukaan semakin terasa saat mereka mempersilakan penampilan Tari Tenun dari Lantipda Bangli, yang menjadi simbol pembuka acara.

“Untuk selanjutnya akan kita saksikan tari pembukaan… kepada penampil kami persilakan,” ucap mereka dengan penuh penghormatan.

Sebagai dua profesional di bidang kesehatan, kehadiran dr. Teguh dan drg. Hartiningsih menunjukkan bahwa pengabdian tidak terbatas pada ruang praktik, tetapi juga hadir dalam ruang sosial dan budaya. Keduanya tampil dengan artikulasi yang jelas, penguasaan panggung yang matang, serta kemampuan menjaga dinamika acara tetap hidup dari awal hingga akhir.

Lebih dari itu, mereka berhasil menghadirkan keseimbangan antara formalitas dan kehangatan, menjadikan acara tidak terasa kaku, namun tetap berkelas.

Peran mereka menjadi pengingat bahwa sebuah acara besar tidak hanya ditentukan oleh konsep dan rangkaian kegiatan, tetapi juga oleh siapa yang menghidupkannya di atas panggung.

Dalam konteks ini, dr. Teguh dan drg. Hartiningsih telah membuktikan bahwa profesionalisme, empati, dan komunikasi yang baik mampu menghadirkan pengalaman yang berkesan bagi setiap hadirin.

Sebuah panggung, dua dokter, dan satu harmoni: mengalirkan semangat Lantip dengan kata dan rasa.(RAYD+AMBAR)

 

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'