ECO ENZYME NUSANTARA: Gerakan Relawan dari Bali untuk Selamatkan Bumi
ECO ENZYME NUSANTARA: Gerakan
Relawan dari Bali untuk Selamatkan Bumi
Denpasar, 22 April 2026 — Permasalahan sampah dan
pencemaran lingkungan di Bali kian menjadi sorotan. Di tengah kondisi tersebut,
muncul gerakan berbasis masyarakat yang menawarkan solusi sederhana namun
berdampak luas, yakni Eco Enzyme. Ketua Eco Enzyme Nusantara Bali, Ir. Hj.
Ketut Rawi Adnyani, membagikan kisah, perjuangan, serta harapannya dalam
wawancara bersama Radio Megantara Bali.
Rawi Adnyani, perempuan
kelahiran Denpasar, 6 November 1961 ini, sejak muda telah memiliki kepedulian
tinggi terhadap lingkungan. Lulusan Universitas Udayana tersebut memilih jalur
wirausaha sejak tahun 1992, dengan berbagai bidang usaha, mulai dari penyediaan
alat laboratorium hingga pengembangan bibit tanaman hutan.
Namun, seiring waktu, fokus
hidupnya bergeser. “Karena merasa peduli saja, jadi otomatis tertarik. Kalau
tidak dari hati, itu tidak bisa bertahan,” ujarnya saat menjelaskan alasan
terjun ke dunia sosial dan lingkungan.
Selain aktif sebagai relawan,
Rawi juga terlibat dalam berbagai organisasi sosial seperti Rotary. Ia sering
menginisiasi kegiatan penanaman pohon dan kolaborasi lintas sektor, mulai dari
masyarakat, TNI, hingga kepolisian, khususnya di wilayah hulu seperti Kintamani
dan sekitar Danau Batur.
Awal Mula
Eco Enzyme di Bali
Eco Enzyme Nusantara sendiri
berdiri pada tahun 2019, namun Rawi baru mengenalnya pada 2020. Ketertarikannya
muncul setelah memahami manfaat besar dari cairan hasil fermentasi limbah
organik tersebut.
“Saya langsung membuat 500
liter. Pikiran saya waktu itu, ini bisa membantu membersihkan Danau Batur yang
tercemar,” ungkapnya.
Danau Batur memang dikenal
sebagai salah satu sumber air utama di Bali. Namun, aktivitas keramba ikan
menyebabkan pencemaran yang cukup serius. Eco Enzyme kemudian digunakan sebagai
salah satu upaya alami untuk membantu pemulihan kualitas air.
Seiring waktu, gerakan ini
berkembang pesat. Dari yang awalnya sulit mengajak masyarakat, kini Eco Enzyme
justru banyak diundang untuk sosialisasi.
“Dulu kita yang mencari orang,
sekarang kita yang diundang,” katanya.
Manfaat Eco
Enzyme: Dari Rumah Tangga hingga Lingkungan
Eco Enzyme dibuat dari limbah
organik seperti kulit buah yang difermentasi. Selain mengurangi sampah, cairan
ini memiliki berbagai manfaat.
Menurut Rawi, penggunaan Eco
Enzyme dalam kehidupan sehari-hari mampu:
- Menetralisir bahan kimia sintetis rumah
tangga
- Membersihkan lantai, dapur, hingga
sayuran dari pestisida
- Menjaga kesehatan kulit dan membantu
penyembuhan luka
- Meningkatkan kualitas air dan tanah
- Mengurangi emisi gas metana dari sampah
organik
“Kalau sampah organik dibiarkan,
akan menghasilkan gas metana yang memperparah pemanasan global. Tapi kalau
diolah jadi eco enzyme, justru bermanfaat,” jelasnya.
Tak hanya untuk manusia, Eco
Enzyme juga bermanfaat bagi hewan dan ekosistem. Cairan ini dapat digunakan
untuk kolam ikan, peternakan, hingga mengurangi bau dan penyakit pada hewan.
Gerakan
Global dari Aksi Lokal
Eco Enzyme Nusantara kini telah
memiliki legalitas resmi dan berkembang tidak hanya di Indonesia, tetapi juga
di berbagai negara seperti Thailand, Malaysia, India, hingga Jepang.
Visi utamanya adalah “mewujudkan
bumi kembali indah dan lestari demi kelangsungan hidup semua makhluk.”
Meski bergerak sebagai relawan
tanpa orientasi bisnis, dukungan dari berbagai pihak terus mengalir, termasuk
pemerintah daerah yang mulai memanfaatkan Eco Enzyme dalam program lingkungan.
Harapan
untuk Masyarakat
Di akhir wawancara, Rawi
menyampaikan pesan kuat kepada masyarakat.
“Mari kita olah sampah organik
kita, jadikan eco enzyme, dan gunakan. Itu yang paling penting,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa perubahan
besar bisa dimulai dari rumah tangga. Dengan mengolah sampah sendiri,
masyarakat tidak hanya mengurangi pencemaran, tetapi juga ikut berkontribusi
dalam menjaga bumi dari krisis lingkungan.
Gerakan Eco Enzyme menjadi bukti
bahwa solusi lingkungan tidak selalu harus rumit atau mahal. Dari dapur rumah,
perubahan bisa dimulai—untuk Bali, dan untuk dunia. (AMBAR)



