Detail Artikel

Evan Pergi, Persaudaraan Tetap Hidup"

Evan Pergi, Persaudaraan Tetap Hidup"

Jakarta—Di sebuah jalan yang hiruk pikuk, di tengah deru mesin dan sorot lampu kendaraan, seorang pengemudi ojek daring bernama Evan berpulang. Sebuah insiden merenggut nyawanya, meninggalkan luka mendalam di hati rekan seprofesi, keluarga, dan mereka yang pernah disentuh jasanya.

Bagi sebagian orang, ojek online hanyalah wajah lain dari kota: seragam hijau-hitam atau biru yang lalu-lalang di simpang jalan. Namun di balik itu, mereka adalah denyut nadi yang lahir dari keterbatasan transportasi publik, dari kebutuhan rakyat jelata akan mobilitas murah, cepat, dan manusiawi. Sejak awal, kehadiran mereka kerap dipandang dengan sebelah mata—dicibir, ditolak, bahkan kadang berujung benturan. Tapi waktu membuktikan: merekalah yang hadir sebagai jawaban, penghubung antar rumah dan kantor, antar pasar dan sekolah, antar hati dan kebutuhan.

Pandemi COVID-19 menyingkap sisi lain profesi ini. Ketika jalanan sepi dan dunia dibekap ketakutan, para pengemudi ojol tetap melaju. Mereka mengetuk pintu rumah dengan titipan makanan, obat-obatan, bahkan harapan. Di masa itu, simpati dan dukungan material maupun batin mengalir, karena masyarakat menyadari: tanpa mereka, roda kehidupan mungkin akan terhenti lebih cepat.

Kini, ojek online bukan lagi sekadar pilihan profesi bagi mereka yang tak punya jalan lain. Ada dosen yang selepas mengajar ikut mengantar penumpang. Ada guru yang di sela kesibukannya mengantarkan paket. Ada pekerja formal dan informal yang menemukan ruang persaudaraan di balik helm dan jaket itu. Mereka bukan hanya profesi, mereka adalah komunitas: keluarga yang dipertemukan oleh jalan, penghasilan, dan kerinduan akan solidaritas.

Kematian Evan di Jakarta menjadi duka bersama. Dari lorong kota hingga pelosok negeri, kabar kepergiannya mengalir cepat. Ribuan, bahkan ratusan ribu pengemudi ojol hadir mengantar jasadnya ke peristirahatan terakhir. Bukan sekadar iringan motor, melainkan lautan persaudaraan. Mereka datang tanpa memandang suku, agama, bahasa, atau latar belakang. Mereka hanya tahu satu hal: seorang saudara telah pergi, dan persaudaraan harus tetap hidup.

Duka itu pun menjalar bak kemarau panjang di hati para pengemudi di seluruh Indonesia. Namun dari kesedihan, tumbuh kesadaran: bahwa profesi ini bukan hanya tentang mencari nafkah, tetapi juga tentang menjaga nyala kebersamaan. Tentang bagaimana satu helm yang sama warna bisa mempersatukan perbedaan.

Evan mungkin telah tiada. Tetapi di setiap belokan jalan, di setiap penantian penumpang, di setiap deru knalpot yang terdengar dini hari, persaudaraan yang ia tinggalkan akan terus menyala. Karena ojek online bukan hanya kendaraan, melainkan cermin bahwa dalam dunia yang sering terpecah, selalu ada ruang bagi solidaritas yang tak mengenal batasa(RAYd) 

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'