Detail Artikel

Fahmi Syahirul Alim: Guru Bukan Sekadar Ujung Tombak, tetapi Fondasi Pendidikan Indonesia

Fahmi Syahirul Alim: Guru Bukan Sekadar Ujung Tombak, tetapi Fondasi Pendidikan Indonesia

Denpasar, 9 Agustus 2026 — Tiga hari rangkaian Temu Guru Gembira di Bali akhirnya sampai pada penghujung kegiatan. Namun, bagi Fahmi Syahirul Alim, M.A., penutupan bukanlah akhir dari sebuah acara. Justru, momentum tersebut menjadi titik awal untuk membawa pengalaman, energi positif, dan pembelajaran kembali ke sekolah masing-masing.

Dalam sambutan penutupannya, Fahmi menegaskan bahwa guru tetap menjadi fondasi utama pendidikan, karena gurulah yang setiap hari bersentuhan langsung dengan peserta didik.

“Betapa pun kebijakan itu bagus, kebijakan itu sangat inovatif, tetapi tetap guru adalah fondasi utama. Karena mereka yang bersentuhan dengan para murid.”

Pernyataan tersebut menjadi salah satu pesan penting dalam penutupan kegiatan yang diikuti 40 guru tersebut.

Dari Acara Menjadi Ruang Evaluasi

Fahmi melihat Temu Guru Gembira bukan sekadar kegiatan seremonial. Hasil asesmen yang dilakukan selama kegiatan, menurutnya, dapat menjadi bahan evaluasi sekaligus melihat perubahan yang terjadi pada peserta.

Ia menyoroti munculnya sejumlah indikator positif, antara lain pertumbuhan relasi positif, penerimaan positif, growth mindset, serta berkembangnya autonomy personal.

Bagi Fahmi, pengalaman selama tiga hari melalui diskusi, coaching, refleksi, dan aktivitas bersama dapat memberikan dampak yang lebih dalam dibandingkan kegiatan yang hanya berbentuk seminar.

“Ini bukan event yang hanya sekadar acara. Tapi ini adalah agenda yang bisa menjadi evaluasi.”

Ia bahkan menilai pendekatan yang dilakukan selama tiga hari memiliki potensi lebih efektif karena memberikan ruang kepada guru untuk mengalami, berbagi, dan berefleksi secara langsung.


Guru Tidak Bisa Berjuang Sendirian

Salah satu pesan paling kuat dari sambutan Fahmi adalah pentingnya partisipasi semesta dalam pendidikan.

Menurutnya, beban pendidikan tidak dapat sepenuhnya diletakkan di pundak guru. Jika semua persoalan pendidikan dibebankan kepada guru, risiko burnout dan stres akan semakin besar.

“Kita tidak bisa me-deliver tugas-tugas berat ini hanya kepada guru. Guru akan burnout, akan stres. Perlu ada partisipasi dari masyarakat.”

Karena itu, pendidikan membutuhkan keterlibatan berbagai unsur, mulai dari orang tua, masyarakat, lingkungan sekolah, hingga komunitas.

Gagasan tersebut sejalan dengan pendekatan pendidikan yang menempatkan sekolah bukan sebagai ruang yang berdiri sendiri, tetapi sebagai bagian dari ekosistem yang saling mendukung.


Dari Bali, Energi Guru Gembira Diharapkan Menyebar

Fahmi berharap 40 guru yang mengikuti kegiatan ini tidak berhenti sebagai peserta.

Mereka diharapkan menjadi pembawa pengalaman baru di sekolah masing-masing.

“Apa yang dirasakan Ibu-Ibu, tolong dikembalikan kepada anak-anak masing-masing.”

Yang dimaksud bukan sekadar membawa pulang materi, tetapi membawa semangat, pengalaman, cara pandang, dan energi kegembiraan yang diperoleh selama kegiatan.

Temu Guru Gembira, menurut Fahmi, harus melahirkan efek berantai: guru mengalami perubahan, kemudian perubahan itu dirasakan oleh murid dan lingkungan sekolah.

Guru belajar untuk dirinya, kemudian membawa hasil belajarnya untuk anak-anaknya.


Guru adalah Pembelajar Sepanjang Hayat

Di tengah perubahan dunia pendidikan yang semakin cepat, Fahmi mengingatkan guru untuk terus menjadi pembelajar.

Baik guru senior maupun junior, lulusan S2 maupun S3, menurutnya, proses belajar tidak pernah berhenti.

“Belajar tidak pernah berhenti.”

Semangat tersebut juga berkaitan erat dengan gagasan pembelajaran mendalam (deep learning) yang mendorong guru untuk terus belajar, membangun empati, serta mampu memberikan ruang jeda sebelum merespons sebuah situasi.

Fahmi menilai kemampuan untuk berhenti sejenak sebelum bereaksi, memahami situasi, dan melatih empati menjadi semakin penting dalam menghadapi kompleksitas dunia pendidikan saat ini.


Menghadapi Tantangan Baru: Media Sosial dan AI

Jika pada masa lalu tantangan guru banyak berkaitan dengan keterbatasan infrastruktur, kondisi saat ini menghadirkan tantangan baru.

Era digital, media sosial, dan kecerdasan artifisial (AI) telah mengubah lingkungan tempat anak-anak tumbuh dan belajar.

Informasi dari media sosial dapat masuk ke kehidupan peserta didik tanpa selalu melalui proses penyaringan yang memadai.

Karena itu, Fahmi menekankan pentingnya kerja sama antara guru, siswa, dan orang tua.

Guru tidak cukup hanya memahami pembelajaran di kelas. Mereka juga perlu memahami lingkungan digital yang membentuk cara berpikir dan perilaku peserta didik.


“Gadget adalah Pisau Bermata Dua”

Fahmi juga mengajak guru melakukan refleksi terhadap penggunaan gawai.

Ia mengakui bahwa dirinya sendiri masih terus belajar mengendalikan kebiasaan menggunakan perangkat digital, termasuk kebiasaan scrolling sebelum tidur maupun membuka telepon genggam segera setelah bangun.

Menurutnya, terlalu banyak informasi yang dikonsumsi setiap hari dapat membuat pikiran kehilangan fokus dan bahkan meningkatkan tekanan psikologis.

“Bagaimana kita membatasi gadget. Gadget ini menjadi apa ya? Pisau. Kadang kita bisa gunakan positif, tapi juga bisa menjadi sesuatu yang...”

Pesan tersebut relevan tidak hanya bagi guru, tetapi juga bagi masyarakat secara luas.

Teknologi seharusnya menjadi alat yang membantu manusia, bukan justru mengendalikan kehidupan manusia.


Guru Juga Harus Menjadi Pencerita Kebaikan

Salah satu gagasan menarik dalam penutupan adalah ajakan kepada guru untuk menggunakan media sosial sebagai ruang berbagi pengalaman dan cerita positif.

Fahmi melihat masih banyak cerita baik dari sekolah dan guru di berbagai daerah yang belum terdokumentasikan dan belum diketahui publik.

Padahal, setiap guru memiliki pengalaman, praktik baik, perjuangan, dan inovasi yang layak dibagikan.

“Silakan berbagi pengalaman. Berbagi cerita.”

Di tengah derasnya informasi digital, cerita-cerita positif tentang pendidikan perlu diperbanyak.

Guru bukan hanya pengguna media sosial. Guru juga dapat menjadi produsen pengetahuan dan cerita baik tentang pendidikan Indonesia.


40 Guru, Sebuah Awal dari Bali

Fahmi menyebut 40 guru yang hadir dalam Temu Guru Gembira sebagai bagian dari sebuah pilot project.

Jumlah tersebut mungkin belum besar jika dibandingkan dengan jumlah guru di Indonesia. Namun, perubahan besar selalu dapat dimulai dari kelompok kecil yang memiliki komitmen untuk bergerak.

“40 guru hebat ini... mulai dari Bali.”

Bali dinilai memiliki posisi yang strategis karena merupakan wilayah yang sangat terbuka terhadap perjumpaan berbagai budaya dan masyarakat dunia.

Karena itu, Bali diharapkan menjadi salah satu titik awal untuk membawa semangat guru gembira lebih luas ke berbagai daerah di Indonesia.


Bukan Sekadar Pulang Membawa Sertifikat

Pada akhirnya, pesan Fahmi bermuara pada satu hal: hasil terbaik dari Temu Guru Gembira bukanlah apa yang dibawa pulang secara fisik, tetapi perubahan yang dibawa kembali ke sekolah.

Guru diharapkan pulang dengan relasi yang lebih kuat, pikiran yang lebih terbuka, energi yang lebih positif, serta kesadaran bahwa mereka tidak berjalan sendirian.

Dari 40 guru di Bali, diharapkan lahir 40 titik perubahan baru.

Dan dari titik-titik kecil itulah, semangat guru gembira dapat bergerak dari satu sekolah ke sekolah lainnya, dari satu daerah ke daerah lainnya.

**Guru Gembira untuk Semua.

Guru Berdaya untuk Indonesia.**

Sambutan Fahmi Syahirul Alim, M.A. sekaligus menjadi penegasan bahwa merawat guru berarti merawat masa depan pendidikan Indonesia. Temu Guru Gembira boleh berakhir di Bali, tetapi semangat dan praktik baiknya justru diharapkan baru mulai bergerak ketika para guru kembali ke sekolah masing-masing. (RAYD)

 Donasi PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'