Detail Artikel

GEDUNG MUI BALI RESMI BERDIRI: 18 TAHUN PERJUANGAN, DARI UTANG HINGGA PANDEMI

GEDUNG MUI BALI RESMI BERDIRI: 18 TAHUN PERJUANGAN, DARI UTANG HINGGA PANDEMI

Denpasar — Perjalanan panjang hampir dua dekade akhirnya berbuah manis. Gedung Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Bali resmi berdiri dan difungsikan pada tahun 2026. Di balik kemegahan bangunan tiga lantai itu, tersimpan kisah perjuangan yang tidak sederhana—penuh keterbatasan, utang, hingga hantaman pandemi global.

Ketua MUI Bali, KH Machrusun, menegaskan bahwa gedung ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan simbol keteguhan umat dalam menjaga eksistensi dan pelayanan keagamaan di Bali.

“Ini bukan proses singkat. Sejak 2008 digagas, baru hari ini benar-benar bisa difungsikan,” tegasnya.

DIMULAI DARI GAGASAN, BERLANJUT DENGAN PERJUANGAN

Cikal bakal pembangunan gedung ini dirintis oleh tokoh-tokoh MUI terdahulu, di antaranya almarhum PAYC Hasan Ali bersama Sekretaris Umum Haji Sikit Senarianto. Mereka menyadari pentingnya kehadiran kantor MUI yang layak dan representatif.

Namun, realitas di lapangan jauh dari mudah.

Pembelian lahan dilakukan dengan cara yang tidak ringan—pinjaman, donasi, hingga sumbangan umat menjadi tulang punggung awal.

Tahun 2014 menjadi tonggak penting ketika lahan tersebut akhirnya berhasil dibeli dan diwakafkan untuk kepentingan umat.

MELUNASI UTANG, MEMULAI HARAPAN

Memasuki masa kepemimpinan almarhum Haji Taufik Asadi, persoalan lama mulai diselesaikan. Utang-utang yang membebani perlahan dilunasi.

“Utang waktu itu tidak sedikit, tapi bisa diselesaikan. Dari situlah pembangunan mulai dirintis,” ungkap KH Machrusun.

Tahun 2019 menjadi titik awal pembangunan fisik, ditandai dengan peletakan batu pertama.

PANDEMI MENGHENTIKAN, BUKAN MEMATIKAN

Ketika harapan mulai tumbuh, badai datang. Pandemi COVID-19 menghantam dan memaksa pembangunan terhenti.

Aktivitas terbatas, ekonomi melemah, dan pembangunan pun tersendat.

Namun perjuangan tidak berhenti—hanya tertunda.

KEBANGKITAN DAN PENYELESAIAN CEPAT

Tahun 2025 menjadi momentum kebangkitan. Pembangunan kembali dilanjutkan dengan semangat baru.

Hasilnya nyata—dalam waktu sekitar satu tahun, gedung berhasil dirampungkan dan diresmikan pada 2026 oleh Gubernur Bali, Wayan Koster.

“Ini kerja kolektif. Semua ikut terlibat. Semua ngayah,” tegas KH Machrusun.

Istilah “ngayah” menjadi kunci—kerja bersama tanpa pamrih demi kepentingan umat.

KENDALA NYATA: DANA

Di balik percepatan pembangunan, satu persoalan klasik terus membayangi: pendanaan.

“Kendala utama tetap dana. Tapi dengan kebersamaan, itu bisa diatasi,” ujarnya lugas.

GEDUNG BERDIRI, TUGAS BARU MENANTI

Bagi MUI Bali, berdirinya gedung ini bukan akhir, melainkan awal tanggung jawab yang lebih besar.

KH Machrusun menegaskan bahwa seluruh elemen organisasi akan digerakkan secara maksimal.

“Semua komisi, semua lembaga harus bekerja. Dari provinsi sampai kabupaten dan kota. Tidak boleh ada yang diam,” tegasnya.

Targetnya jelas: pelayanan umat yang lebih cepat, lebih luas, dan lebih nyata.

SIMBOL PERJUANGAN UMAT (AMBAR)

Gedung MUI Bali hari ini bukan hanya berdiri sebagai kantor. Ia adalah simbol dari:

  • keteguhan dalam keterbatasan
  • kekuatan gotong royong umat
  • dan konsistensi dalam mengabdi

Dari utang, dari donasi, dari keterhentian akibat pandemi—hingga akhirnya berdiri kokoh.

Inilah wajah nyata perjuangan umat Islam di Bali: tidak selalu mudah, tetapi tidak pernah menyerah.

Dengan gedung baru ini, harapan pun menguat—bahwa MUI Bali akan semakin hadir, semakin dekat, dan semakin dirasakan manfaatnya oleh umat.

Perjuangan panjang telah dilalui. Kini saatnya membuktikan pengabdian yang lebih besar.(AMBAR)

 

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'