GEDUNG MUI BALI RESMI BERDIRI: 18 TAHUN PERJUANGAN, DARI UTANG HINGGA PANDEMI
GEDUNG MUI
BALI RESMI BERDIRI: 18 TAHUN PERJUANGAN, DARI UTANG HINGGA PANDEMI
Wawancara Khusus Bersama Ketua
MUI Bali
Denpasar —
Peresmian Gedung Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Bali pada April 2026
menjadi tonggak penting perjalanan panjang umat Islam di Bali. Di balik
berdirinya gedung megah tersebut, tersimpan kisah perjuangan yang tidak
ringan—dimulai dari keterbatasan dana, utang, hingga terhenti akibat pandemi.
Berikut
petikan wawancara Suara Umat bersama Ketua MUI Provinsi Bali, KH Machrusun.
SUARA UMAT
(SU):
Bapak bisa menceritakan bagaimana awal mula gagasan pembangunan gedung MUI ini?
KH
MACHRUSUN:
Kalau kita tarik ke belakang, gagasan ini sudah ada sejak tahun 2008. Waktu itu
yang menggagas adalah almarhum PAYC Hasan Ali bersama sekretarisnya, Haji Sikit
Senarianto. Mereka melihat bahwa MUI Bali perlu memiliki kantor yang
representatif untuk melayani umat.
Ini bukan
kebutuhan sesaat, tapi kebutuhan jangka panjang umat.
SU:
Bagaimana proses awal hingga akhirnya lahan bisa dimiliki?
KH
MACHRUSUN:
Prosesnya tidak mudah. Tanah itu dibeli dengan penuh perjuangan. Ada pinjaman,
ada donasi, ada sumbangan dari umat.
Bisa
dikatakan, sejak awal gedung ini sudah dibangun di atas semangat gotong royong.
Akhirnya
pada tahun 2014, tanah itu berhasil dibeli dan dijadikan wakaf untuk
pembangunan gedung MUI.
SU:
Lalu kapan pembangunan fisik mulai dilakukan?
KH
MACHRUSUN:
Pada masa kepemimpinan almarhum Haji Taufik Asadi, utang-utang yang ada mulai
dilunasi. Setelah itu baru kita bisa fokus ke pembangunan fisik.
Peletakan
batu pertama dilakukan sekitar tahun 2019.
Itu menjadi
titik awal nyata pembangunan gedung ini.
SU:
Namun sempat terhenti, apa yang terjadi?
KH
MACHRUSUN:
Betul. Tidak lama setelah dimulai, muncul pandemi COVID-19. Dampaknya sangat
besar, termasuk pada pembangunan ini.
Kegiatan
terbatas, pendanaan juga terhambat.
Akhirnya
pembangunan sempat berhenti. Tapi bukan berhenti selamanya, hanya tertunda.
SU:
Kapan pembangunan kembali dilanjutkan hingga akhirnya rampung?
KH
MACHRUSUN:
Pembangunan dilanjutkan kembali pada tahun 2025. Alhamdulillah, dalam waktu
sekitar satu tahun bisa diselesaikan.
Dan
akhirnya pada tahun 2026 ini diresmikan oleh Gubernur Bali, Wayan Koster.
Ini
pencapaian luar biasa, mengingat perjalanan panjang yang telah dilalui.
SU:
Apa kendala terbesar selama proses pembangunan?
KH
MACHRUSUN:
Kendala utama tentu soal pendanaan. Itu klasik, tapi nyata.
Namun
karena ini kerja bersama, banyak pihak yang membantu.
Kalau
istilah di Bali, semuanya “ngayah”—bekerja bersama tanpa pamrih.
SU:
Apa makna pribadi bagi Bapak atas berdirinya gedung ini?
KH
MACHRUSUN:
Saya sebagai bagian dari umat tentu sangat bersyukur.
Ini bukan
hanya gedung, tapi simbol perjuangan, kesabaran, dan kebersamaan umat Islam di
Bali.
SU:
Setelah gedung ini berdiri, apa langkah ke depan MUI Bali?
KH
MACHRUSUN:
Justru ini awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Kita ingin semua komisi
dan lembaga di MUI bekerja maksimal.
Dari
tingkat provinsi sampai kabupaten dan kota harus bergerak.
Tidak boleh
ada yang pasif. Semua harus aktif melayani umat.
Karena
memang tugas kita adalah melayani dan mengabdi.
SU:
Pesan terakhir untuk umat Islam di Bali?
KH
MACHRUSUN:
Mari kita jaga kebersamaan ini. Gedung ini milik umat, dibangun oleh umat, dan
harus dimanfaatkan untuk umat.
Perjuangan
sudah kita lewati bersama. Sekarang saatnya memperkuat pengabdian.
CATATAN
REDAKSI
Gedung MUI
Bali bukan sekadar hasil pembangunan fisik, tetapi buah dari proses panjang
yang penuh dinamika. Dari utang hingga pandemi, dari keterbatasan hingga
kebersamaan—semua menjadi bagian dari sejarahnya.
18 tahun
bukan waktu yang singkat. Tapi bagi umat yang bersatu, tidak ada perjuangan
yang sia-sia.(AMBAR)



