Detail Artikel

“Geguritan yang Menyentuh Jiwa: Saat Kata Menjadi Jalan Pengabdian di HUT Lantipda Gianyar”

“Geguritan yang Menyentuh Jiwa: Saat Kata Menjadi Jalan Pengabdian di HUT Lantipda Gianyar”

Gianyar — Di tengah semarak perayaan HUT ke-1 Lantipda Kabupaten Gianyar yang berpadu dengan spirit Hari Kartini, sebuah momen hening justru menjadi titik terdalam dari keseluruhan rangkaian acara. Melalui lantunan geguritan, nilai-nilai kehidupan disampaikan dengan bahasa jiwa—perlahan, namun menggema.

Geguritan yang dibawakan dalam acara tersebut tidak sekadar menjadi hiburan, melainkan media kontemplasi tentang makna hidup, pengabdian, dan ketulusan. Dalam setiap baitnya, tersirat pesan kuat tentang pentingnya menjaga keyakinan dan menjalani hidup dengan kesadaran spiritual.

“Dalam makna hidup ini kita tetap mengandalkan keyakinan dan keberdayaan untuk memajukan kehidupan,” demikian salah satu pesan yang tertuang dalam narasi geguritan.

Kekuatan utama geguritan ini terletak pada penekanannya terhadap “hati luhania”—sebuah konsep yang merujuk pada kesadaran batin dan ketulusan dalam bertindak.

“Segala karya hendaknya dilakukan berdasarkan hati luhania,” menjadi pengingat bahwa setiap tindakan yang lahir dari ketulusan akan menemukan jalannya sendiri.

Pesan ini terasa relevan dengan semangat Lantipda yang menjunjung tinggi nilai asih (kasih), bakti, dan kepedulian sosial. Dalam geguritan tersebut juga ditegaskan bahwa pengabdian bukanlah sekadar aktivitas, melainkan wujud nyata dari rasa kemanusiaan.

“Ketulusan dalam melakukan pengabdian sosial adalah jalan menuju makna hidup yang sejati,” tersirat dalam alur bait yang disampaikan.

Lebih dalam lagi, geguritan ini mengajak setiap individu untuk tidak sekadar menjalani hidup, tetapi menghidupkan nilai dalam setiap langkah.

“Dari hati yang tulus, manusia akan menemukan jalan,” sebuah kalimat sederhana yang sarat filosofi.

Dalam konteks acara, kehadiran geguritan menjadi penyeimbang dari rangkaian hiburan dan seremoni. Ia menghadirkan ruang jeda—tempat di mana hadirin diajak untuk merenung, memahami, dan merasakan.

Tak heran jika momen ini menjadi salah satu bagian paling berkesan, karena ia menyentuh dimensi yang lebih dalam: jiwa dan kesadaran kolektif.

Sejalan dengan tema besar kegiatan, geguritan ini mempertegas bahwa lansia bukanlah fase akhir yang pasif, melainkan fase penuh makna yang tetap bisa memberi dan menginspirasi.

Di antara riuh tawa dan gemerlap perayaan, geguritan hadir sebagai suara sunyi yang justru paling lantang: mengingatkan bahwa hidup yang bermakna lahir dari hati yang tulus.(RAYD)

 

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'