Gubernur Bali Ajak Semua Elemen Percepat Pembangunan Bali yang Tertib, Bersih dan Bermartabat
Gubernur Bali
Ajak Semua Elemen Percepat Pembangunan Bali yang Tertib, Bersih dan Bermartabat
Sinopsis:
Dalam
sambutannya pada acara Halal Bihalal MUI Provinsi Bali, Sabtu 19 April 2025,
Gubernur Bali, Dr. Ir. Wayan Koster, M.M., memaparkan berbagai agenda
percepatan pembangunan daerah. Mulai dari pengelolaan sampah, transportasi
publik, hingga pengendalian warga negara asing (WNA) yang melanggar aturan. Ia menekankan
bahwa pembangunan Bali tak bisa berjalan sendiri, melainkan harus digerakkan
bersama oleh seluruh masyarakat, termasuk tokoh agama dan ormas Islam.
Mengurai
Permasalahan Sampah dengan Pendekatan Edukatif dan Manusiawi
Dalam
sambutannya, Gubernur Koster menegaskan bahwa permasalahan sampah di Bali
merupakan pekerjaan besar yang memerlukan komitmen dan konsistensi. Ia
mengakui, selama tiga tahun pandemi COVID-19, banyak program pengelolaan sampah
menjadi terhambat, bahkan sempat stagnan.
"Pandemi
membuat kami harus mengalihkan fokus pada penanganan kesehatan dan keselamatan
masyarakat. Program pengelolaan sampah pun ikut tertunda. Tapi kini, saatnya
kita gas kembali," ujarnya.
Pemerintah
Provinsi Bali telah mengeluarkan berbagai regulasi, seperti Peraturan Gubernur
Bali No. 97 Tahun 2018 tentang pembatasan penggunaan plastik sekali pakai,
serta aturan tambahan yang membatasi penggunaan minuman dalam kemasan plastik
di ruang publik dan acara-acara pemerintahan.
Namun, Gubernur
menekankan bahwa pendekatan penegakan hukum terhadap masalah sampah tidak bisa
dilakukan secara represif.
"Kita
tidak bisa terlalu keras, karena masyarakat kita juga sedang pulih dari tekanan
ekonomi dan mental pasca pandemi. Pendekatan harus lebih edukatif, manusiawi,
dan bertahap."
Transportasi
Publik dan Infrastruktur: Solusi Kemacetan dan Mobilitas
Gubernur juga
memaparkan berbagai program transportasi publik yang kembali digulirkan. Salah
satunya adalah Trans Metro Dewata (bus ‘Tayo’ Bali) yang kini telah kembali
beroperasi.
"Yang
membanggakan, pembiayaan operasionalnya tidak lagi dibebankan sepenuhnya pada
APBN, tapi telah menjadi hasil gotong royong antara Pemerintah Provinsi Bali
dan tiga kabupaten/kota: Denpasar, Badung, dan Gianyar," jelasnya.
Tak hanya itu,
Gubernur mengungkapkan bahwa dalam waktu dekat akan dibangun beberapa underpass
strategis di simpang-simpang padat Denpasar seperti di Tohpati, Bali Beach
Sanur, dan Pesanggaran.
"Di Sanur,
kami juga sedang membangun fasilitas parkir terpadu di area pelabuhan untuk
mendukung pariwisata dan konektivitas Nusa Penida dan sekitarnya."
Selain itu,
proyek besar jalan tol Gilimanuk-Mengwi yang masuk dalam skema Proyek Strategis
Nasional masih dalam tahap finalisasi perencanaan. Jalan ini diharapkan
mempercepat konektivitas Bali bagian barat dengan pusat ekonomi di tengah dan
selatan pulau.
Dalam jangka
panjang, Bali juga akan memiliki subway atau MRT yang menghubungkan
kawasan-kawasan strategis, serta jalan baru Denpasar–Singaraja untuk memangkas
waktu tempuh dan mendukung pertumbuhan ekonomi di utara pulau.
Penertiban WNA
“Nakal”: Tegas Tapi Terukur
Isu warga
negara asing (WNA) yang melanggar aturan juga menjadi perhatian Gubernur. Ia
mengungkapkan bahwa dalam beberapa waktu terakhir, banyak WNA yang menyalahgunakan
izin tinggal untuk bekerja ilegal, bahkan menjadi pengemudi layanan daring
(ojek online).
"Ada WNA
jadi sopir Grab. Ini merusak tatanan ketenagakerjaan kita, dan tentu saja
melanggar hukum. Kita akan bertindak tegas, tapi tetap sesuai prosedur," tegas
Koster.
Gubernur
menyampaikan bahwa dirinya telah berkoordinasi dengan Imigrasi dan aparat
terkait untuk meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas WNA yang tidak sesuai
dengan izin tinggalnya.
Ajakan
Kolaborasi: MUI & Ormas Sebagai Mitra Pemerintah
Dalam forum
yang dihadiri oleh lebih dari 50 ormas Islam se-Bali itu, Gubernur Koster
menyampaikan harapan agar para tokoh agama, khususnya MUI Provinsi Bali, ikut
terlibat aktif mendampingi masyarakat dalam menyukseskan program-program
pembangunan.
"Siapapun
yang ber-KTP Bali, baik asli maupun pendatang, mari kita jaga Bali
bersama-sama. Jangan hanya menuntut hak, tapi mari turut serta membangun."
Beliau juga
menyebut bahwa ormas-ormas Islam yang ada di Bali bukan sekadar penonton,
melainkan mitra strategis pemerintah. "Peran MUI dan ormas Islam sangat
penting dalam menjaga moral, etika sosial, dan semangat gotong royong."
Penutup: Bali
Butuh Kita Semua
Gubernur Koster
menutup sambutannya dengan ajakan moral kepada semua pihak:
“Bali bukan
hanya milik pemerintah. Bali adalah milik kita semua. Dan untuk menjadikannya
bersih, tertib, aman, dan bermartabat, kita harus bergandeng tangan.
Pemerintah, ulama, ormas, dan seluruh warga.”(Raden Alit)



