Detail Artikel

H. Darwin Hutabarat: Sopo Godang Dibangun untuk Merawat Jati Diri Batak dan Menanamkan Karakter pada Generasi Muda

H. Darwin Hutabarat: Sopo Godang Dibangun untuk Merawat Jati Diri Batak dan Menanamkan Karakter pada Generasi Muda

JIMBARAN, BADUNG, BALI — Ada kegelisahan yang tumbuh di balik ikhtiar pembangunan Gedung Serbaguna Sopo Godang Yayasan SAROHA Muslim Bali. Kegelisahan itu bukan semata-mata tentang belum tersedianya gedung untuk berkumpul, melainkan tentang kemungkinan memudarnya pengetahuan generasi muda terhadap akar budaya dan identitas leluhurnya sendiri.

Ketua SAROHA Muslim Bali, H. Darwin Hutabarat, mengungkapkan bahwa organisasi tersebut berawal dari pertemuan sederhana sejumlah kecil orang Batak di Bali. Mereka berkumpul dari rumah ke rumah, menjalin silaturahmi, dan menjaga hubungan persaudaraan melalui pertemuan yang berlangsung secara bergantian.

Dari pertemuan sederhana itu, perlahan tumbuh sebuah cita-cita yang lebih besar: membangun wadah yang memiliki dasar kelembagaan lebih kuat, sekaligus menyediakan ruang bagi pelestarian adat, pendidikan karakter, dan penguatan identitas generasi penerus.

Dalam wawancara bersama H. Imam Asrorie, Pimpinan Suara Umat, Darwin menuturkan bahwa pada sekitar 2018 muncul niat untuk memperkuat organisasi melalui pembentukan yayasan.

“Kumpul delapan sampai sepuluh orang seperti arisan. Jadi pindah ke rumah, pindah ke rumah, pindah ke rumah.” Demikian Darwin menggambarkan awal perjalanan perkumpulan tersebut.

Kesederhanaan itu justru memperlihatkan bahwa organisasi tidak selalu lahir dari bangunan besar atau fasilitas yang lengkap. Ada kalanya ia bermula dari pertemuan kecil, percakapan sederhana, dan kerinduan orang-orang yang hidup jauh dari tanah kelahiran.

Dari Pertemuan Rumah ke Rumah Menuju Rumah Bersama

Bagi masyarakat perantauan, jarak dari kampung halaman tidak hanya berarti jarak geografis. Ada pula jarak antargenerasi yang perlu dijembatani: antara anak-anak yang tumbuh di lingkungan baru dan warisan budaya yang membentuk identitas keluarga mereka.

Darwin melihat kebutuhan untuk memperkuat organisasi agar kegiatan masyarakat Batak Muslim di Bali tidak berhenti pada pertemuan silaturahmi. Ia berharap keberadaan yayasan dapat menjadi landasan untuk membangun program yang lebih berkelanjutan.

Pembebasan tanah dan rencana pembangunan Sopo Godang menjadi bagian dari ikhtiar tersebut.

“Niatnya juga yayasan ini biar nanti bisa seperti inilah yang sudah kami bebaskan tanah ini,” tuturnya, merujuk pada cita-cita menghadirkan fasilitas bersama bagi komunitas SAROHA Muslim Bali.

Gedung itu diharapkan bukan hanya menjadi tempat berkumpul ketika ada acara, melainkan menjadi ruang yang hidup dengan kegiatan pendidikan budaya, pembinaan generasi muda, musyawarah, serta aktivitas sosial.

Sebab, sebuah organisasi akan semakin bermakna ketika mampu mewariskan nilai, bukan hanya mempertahankan nama.

Ketika Anak Muda Mulai Jauh dari Akar Budayanya

Salah satu hal yang menjadi perhatian Darwin ialah kenyataan bahwa sebagian anak muda keturunan Batak yang tumbuh di Bali belum sepenuhnya mengenal identitas budayanya.

Ia mengungkapkan kegelisahan tersebut dengan bahasa sederhana, tetapi mengandung pesan mendalam.

“Anak-anak muda yang anaknya orang Batak ini enggak tahu dia Batak. Lucu juga, kan?” ujarnya.

Pernyataan itu bukan sekadar kritik kepada generasi muda. Lebih dari itu, ia merupakan refleksi tentang pentingnya keluarga dan komunitas mengambil peran dalam memperkenalkan warisan leluhur sejak usia dini.

Identitas budaya tidak otomatis dipahami hanya karena seseorang memiliki garis keturunan tertentu. Ia perlu dikenalkan, dijelaskan, dan dihidupkan melalui pengalaman sehari-hari.

Dalam tradisi Batak, misalnya, panggilan kekerabatan memiliki makna yang tidak sederhana. Istilah seperti tulang, hula-hula, boru, dan dongan tubu mengandung hubungan sosial, penghormatan, serta tata krama yang diwariskan turun-temurun.

Darwin menilai pengetahuan semacam itu perlu ditanamkan kembali kepada anak-anak agar mereka memahami bagaimana menghormati kerabat dan menempatkan diri dalam hubungan kekeluargaan.

Ia menceritakan pengalaman ketika seorang anak hendak memanggil seseorang dengan sebutan tulang, tetapi masih perlu bertanya lebih dahulu mengenai cara dan ketepatan panggilan tersebut.

Pengalaman itu menjadi gambaran kecil tentang tantangan pewarisan budaya di lingkungan perantauan. Ketika anak-anak tidak lagi akrab dengan istilah kekerabatan, pengetahuan yang dahulu hidup dalam keseharian keluarga berisiko semakin jauh dari generasi berikutnya.

Bagi Darwin, Sopo Godang diharapkan menjadi salah satu jembatan agar anak-anak keturunan Batak mengenal asal-usulnya, memahami tata krama adat, dan tumbuh dengan kesadaran terhadap identitas keluarganya.

Membangun Karakter Sejak Dini: Disiplin, Kebersihan, dan Antre

Namun, cita-cita Darwin tidak berhenti pada pengenalan adat. Ia juga ingin menjadikan pendidikan karakter sebagai bagian penting dari pembinaan generasi muda.

Dalam wawancara tersebut, ia menekankan perlunya menanamkan kedisiplinan sejak kecil. Pendidikan itu, menurutnya, tidak harus selalu dimulai melalui pelajaran formal atau nasihat panjang. Kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari justru dapat menjadi sarana pembentukan karakter yang kuat.

Salah satu contoh yang ia sampaikan ialah kebiasaan membuang sampah pada tempatnya.

Darwin mengingatkan bahwa anak-anak perlu dibiasakan bertanggung jawab terhadap sampah yang mereka hasilkan. Kebiasaan kecil seperti itu mengajarkan bahwa kebersihan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama, bukan semata-mata urusan petugas kebersihan.

Selain kebersihan, ia menyoroti pentingnya budaya antre.

Baginya, antre bukan hanya persoalan menunggu giliran. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang kesabaran, ketertiban, penghormatan terhadap hak orang lain, dan kesediaan menempatkan kepentingan bersama di atas keinginan pribadi.

Ia mengisahkan pengamatannya ketika menyaksikan kegiatan pelayanan vaksinasi, saat masih ada orang yang kesulitan mengikuti tertib antrean.

Dari pengalaman itu, Darwin melihat perlunya pembiasaan disiplin yang dimulai sejak usia dini dan diterapkan secara konsisten dalam keluarga maupun lingkungan komunitas.

“Yang kami bikin nanti,” demikian ia menjelaskan harapannya mengenai pembinaan yang ingin dikembangkan.

Gagasan tersebut memperluas makna pembangunan Sopo Godang. Gedung yang direncanakan bukan sekadar tempat untuk menyelenggarakan acara adat atau pertemuan organisasi, melainkan diharapkan menjadi lingkungan yang mendukung pembentukan pribadi yang tertib, peduli, dan bertanggung jawab.

Dengan demikian, pelestarian budaya tidak hanya berbicara tentang mengenakan pakaian adat, mengingat istilah kekerabatan, atau menyelenggarakan seremoni. Ia juga menyentuh nilai-nilai yang membentuk perilaku manusia dalam kehidupan bersama.

Gotong Royong Menegakkan Rumah Persaudaraan

Dalam bagian akhir wawancara, Darwin menyampaikan bahwa pembangunan tersebut merupakan ikhtiar bersama yang membutuhkan dukungan banyak pihak.

Ia menyadari bahwa setelah tanah tersedia, masih ada pekerjaan besar untuk mewujudkan bangunan yang dapat digunakan oleh keluarga besar SAROHA Muslim Bali.

Karena itu, ia mengajak masyarakat dan pihak-pihak yang memiliki kepedulian untuk memberikan dukungan sesuai kemampuan masing-masing.

“Mudah-mudahan Bapak-Ibu semua sudi mendukung kami. Mungkin membantu semuanya. Allah yang akan menggantinya nanti.” Demikian harapan Darwin dalam transkrip wawancara.

Ajakan tersebut disampaikan dengan kerendahan hati. Ia tidak menempatkan pembangunan sebagai keberhasilan seorang ketua atau sekelompok pengurus, melainkan sebagai pekerjaan bersama yang memerlukan kepercayaan dan partisipasi.

Di balik sebuah gedung, selalu ada banyak tangan yang bekerja. Ada yang menyumbangkan tenaga, memberikan pemikiran, menyisihkan rezeki, menguatkan semangat, atau sekadar menyebarkan kabar baik agar semakin banyak orang mengetahui tujuan pembangunan tersebut.

Semua bentuk dukungan itu memiliki arti ketika diarahkan pada tujuan yang jelas dan dikelola secara bertanggung jawab.

Bagi komunitas perantauan, pembangunan fasilitas bersama juga memiliki dimensi emosional. Ia menjadi penanda bahwa kehidupan di tanah rantau tidak harus menghapus hubungan dengan akar budaya. Sebaliknya, lingkungan baru dapat menjadi tempat tumbuhnya tradisi yang dirawat dengan cara yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Sopo Godang: Lebih dari Sekadar Bangunan

Rencana pembangunan Gedung Serbaguna Sopo Godang Yayasan SAROHA Muslim Bali di Jimbaran membawa harapan yang melampaui kebutuhan akan ruang fisik.

Di sana, anak-anak diharapkan mengenal bahasa dan tata krama kekerabatan. Generasi muda dapat belajar memahami tradisi leluhurnya. Orang tua memiliki ruang untuk berbagi pengalaman, sementara masyarakat dapat bermusyawarah dan menyusun kegiatan yang bermanfaat.

Pada saat yang sama, nilai-nilai universal seperti kedisiplinan, kebersihan, ketertiban, dan kepedulian sosial dapat ditanamkan melalui kegiatan nyata.

Jika gedung itu kelak berdiri dan menjalankan fungsi sebagaimana yang diharapkan, keberhasilannya tidak hanya diukur dari kokohnya bangunan, tetapi juga dari tumbuhnya generasi yang mengenal jati dirinya, menghormati sesama, dan bertanggung jawab terhadap lingkungannya.

Perjalanan SAROHA Muslim Bali, dari pertemuan delapan hingga sepuluh orang di rumah anggota menuju ikhtiar membangun gedung bersama, memperlihatkan bagaimana gagasan besar dapat tumbuh dari langkah sederhana.

Kini, harapan itu sedang diperjuangkan melalui pembangunan Sopo Godang. Sebuah rumah bersama yang diharapkan menjadi tempat berseminya persaudaraan, terjaganya warisan leluhur, dan tumbuhnya karakter generasi penerus.

Sebab, pada akhirnya, warisan paling berharga yang dapat diberikan kepada anak-anak bukan hanya bangunan yang mereka tempati, melainkan nilai-nilai yang membuat mereka memahami siapa dirinya, menghormati orang lain, dan mengetahui bagaimana hidup bersama dengan baik.

Dari Jimbaran, ikhtiar itu dimulai: membangun rumah bagi kebersamaan, merawat akar budaya, dan menanamkan karakter untuk masa depan.

(RAYD) Donasi PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'