H. Hartono: Jangan Berpaling dari Anak Didik, Karena Setiap Murid Membawa Potensi
H. Hartono: Jangan Berpaling dari Anak Didik,
Karena Setiap Murid Membawa Potensi
Tabanan —
Ada pesan sederhana tetapi dalam yang disampaikan Ketua Pimpinan Daerah
Muhammadiyah (PDM) Tabanan, H. Hartono, dalam Workshop Penguatan Sistem
Penerimaan Murid Baru (SPMB) Sekolah Muhammadiyah Bali.
Di hadapan para pendidik dan
pengelola sekolah Muhammadiyah, H. Hartono mengingatkan bahwa pintu
pendidikan harus tetap terbuka bagi siapa pun yang datang untuk belajar.
Pesan itu disampaikan dalam
sambutannya pada workshop yang berlangsung di Tabanan, Sabtu (22/8/2026).
Kegiatan tersebut mengusung tema “Mewujudkan Sekolah Muhammadiyah yang
Unggul, Berprestasi, dan Berkemajuan melalui Sinergi SPMB Strategis.”
Mengawali sambutan, H. Hartono
mengungkapkan rasa syukur karena dapat berkumpul bersama para pendidik
Muhammadiyah dalam sebuah forum yang menurutnya membahagiakan sekaligus penting
untuk menambah ilmu dan memperkuat ikhtiar pendidikan.
Ada suasana hangat ketika ia
menyampaikan pantun yang dikaitkan langsung dengan tujuan workshop:
“Supaya
mendapatkan murid yang banyak, ikutilah workshop SPMB.”
Pantun itu terdengar ringan.
Namun di balik kelakar tersebut terdapat pesan yang lebih serius: penerimaan
murid baru harus dipikirkan, dipelajari, dan dikerjakan dengan sungguh-sungguh.
Jangan
Menunggu Gedung Besar
H. Hartono juga menyinggung
kondisi tempat pelaksanaan workshop yang sederhana.
Ia mengakui bahwa ruang yang
digunakan belum merupakan tempat yang besar dan ideal. Namun menurutnya,
keberanian untuk memulai justru menjadi modal penting untuk menghadirkan
sesuatu yang lebih baik di masa depan.
“Kalau
tidak berani, tidak punya,” demikian
semangat yang tergambar dalam sambutannya.
Bagi H. Hartono, keterbatasan
fasilitas tidak semestinya menjadi alasan untuk berhenti bergerak. Apa yang
dimiliki hari ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin, sembari terus berikhtiar
agar pada masa mendatang Muhammadiyah memiliki fasilitas pendidikan yang lebih
baik.
Ada optimisme yang terasa dari
pesan tersebut: gedung yang besar boleh menjadi cita-cita, tetapi keberanian
untuk bergerak harus dimulai dari apa yang ada di tangan.
Pendidikan
Tidak Boleh Memilih Berdasarkan Isi Dompet
Pesan yang paling kuat dari
sambutan H. Hartono berkaitan dengan cara sekolah Muhammadiyah menerima murid.
Mengutip pesan yang ia sampaikan
dari Surat Ad-Dhuha, ia mengingatkan agar manusia tidak bersikap keras,
berpaling, atau menunjukkan wajah yang tidak bersahabat kepada mereka yang
datang.
Pesan tersebut kemudian ia tarik
ke dalam konteks pendidikan.
Sekolah
Muhammadiyah harus menjadi tempat yang terbuka bagi anak-anak yang ingin
belajar.
Yang miskin diterima. Yang kaya
diterima.
Menurut H. Hartono, jangan
sampai kemampuan ekonomi keluarga menjadi satu-satunya ukuran dalam membuka
pintu pendidikan. Sebab, siapa tahu di antara murid yang datang terdapat
anak yang memiliki potensi besar untuk melakukan sesuatu yang luar biasa di
masa depan.
Di sinilah pendidikan menemukan
salah satu wajah kemanusiaannya.
Seorang anak mungkin datang
dengan seragam sederhana. Orang tuanya mungkin tidak memiliki kemampuan ekonomi
yang sama dengan keluarga lainnya. Tetapi tidak seorang pun dapat mengetahui
sejauh mana potensi yang tersimpan di dalam diri seorang anak.
Kemampuan
ekonomi seseorang hari ini bukan ukuran bagi masa depannya.
Dan sekolah, dalam pandangan
itu, bukan sekadar tempat bagi mereka yang sudah memiliki kemampuan. Sekolah
justru harus menjadi ruang yang memungkinkan potensi-potensi itu tumbuh.
SPMB dan
Masa Depan Pendidikan Muhammadiyah
Pesan H. Hartono tersebut
memberi dimensi lain bagi pelaksanaan workshop SPMB. Penerimaan murid baru
tidak semata-mata berbicara tentang strategi memperoleh peserta didik. Di
dalamnya terdapat tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa sekolah Muhammadiyah
tetap menjadi ruang pendidikan yang terbuka, ramah, dan memberikan kesempatan.
Karena itu, strategi SPMB harus
berjalan seiring dengan peningkatan kualitas pendidikan.
Murid
datang bukan hanya untuk diterima. Mereka datang untuk dididik, dibimbing, dan
ditemukan potensinya.
Di situlah sekolah Muhammadiyah
ditantang untuk membuktikan tema workshop: menjadi sekolah yang unggul,
berprestasi, dan berkemajuan.
H. Hartono menutup sambutannya
dengan harapan agar workshop SPMB tersebut menghasilkan peningkatan kualitas
bagi pendidikan Muhammadiyah.
Harapan itu sederhana, tetapi
arahnya jauh ke depan.
Sebab setiap penerimaan murid
baru pada hakikatnya adalah menerima amanah baru.
Di balik
satu nama yang masuk ke daftar peserta didik, mungkin tersimpan seorang
pemimpin masa depan, ilmuwan, guru, pengusaha, ulama, seniman, atau manusia
yang kelak memberi manfaat besar bagi masyarakat.
Karena itu, pintu sekolah tidak
boleh hanya dibuka untuk mereka yang sudah terlihat hebat.
Pintu itu
juga harus dibuka bagi mereka yang hari ini belum terlihat hebat—agar
pendidikan memberi mereka kesempatan untuk menjadi hebat.
Dan mungkin, di situlah salah
satu makna terdalam dari SPMB Muhammadiyah: bukan sekadar mencari murid,
tetapi menemukan dan menumbuhkan manusia. (RAYD)
Donasi PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967



