H. Imam Asrorie — Cahaya yang Menyala di Tengah Banjir Kasih
H. Imam Asrorie — Cahaya yang Menyala di Tengah Banjir Kasih
Oleh Redaksi Suara Umat – Denpasar, Oktober 2025
Di antara gemuruh hujan yang menenggelamkan kota dan isak tangis warga yang kehilangan rumahnya,
ada satu sosok yang tak pernah berhenti bergerak — H. Imam Asrorie,
pemimpin yang memadukan keteduhan seorang guru, ketegasan seorang organisator, dan kelembutan seorang ayah.
Namanya menjadi denyut nadi dari Posko Bersama Peduli Banjir Bali,
sebuah gerakan kemanusiaan yang lahir bukan dari rencana panjang,
melainkan dari panggilan hati yang tak kuasa diam melihat sesama tertimpa musibah.
Pemimpin yang Tak Pernah Absen
Sejak hari pertama posko berdiri di halaman RM Bundo Kanduang,
sampai acara terakhir penutupan dan pembubaran kegiatan,
nama H. Imam Asrorie selalu tercatat — bukan hanya di daftar kehadiran,
tapi juga di setiap langkah, di setiap detik pengabdian.
Lelah tak dirasa. Capai diabaikan. Stress dibuang jauh.
Ia hadir di tengah hujan, di bawah terik matahari, di ruang rapat,
bahkan di dapur posko, memastikan semua berjalan dengan harmoni.
Dalam setiap keputusan, ada ketenangan yang memancar dari wajahnya.
Dalam setiap rapat, ada arahan lembut tapi pasti.
Dalam setiap kebuntuan, ada solusi yang lahir dari hati yang jernih.
Dan di setiap langkahnya, selalu ada sosok lembut yang menemaninya — istri tercinta, Hj. Nining,
yang bukan hanya pendamping hidup, tapi juga pendamping perjuangan.
Ia bersama Imam, bahu-membahu dalam pendataan, dokumentasi, dan koordinasi antar-ormas.
Keduanya menjadi lambang kesetiaan dan kerja sunyi dalam kemanusiaan.
Arsitek Kolaborasi Kemanusiaan
Di balik berdirinya Posko Bersama yang kini dikenal luas hingga ke luar Bali,
ada tangan dingin H. Imam yang menata jaringan dan menyatukan visi tujuh ormas besar —
mulai dari LazisMI, LANTIP, IPHI, FPSI, Wanita Islam, Suara Umat, hingga RM Bundo Kanduang.
Ia bukan hanya Ketua LazisMI, tetapi juga Sekretaris LANTIP,
Badan Penasehat ICMI Orwil Bali, serta Ketua Forum Pemerhati Sejarah Islam (FPSI) —
sebuah lembaga yang juga ia dorong untuk membangun Museum Bali Harmoni,
museum yang kelak menjadi ruang ingatan, refleksi, dan inspirasi bagi generasi Bali yang cinta damai.
Namun di tengah segudang jabatan, ia tetap sederhana.
Baginya, jabatan adalah amanah, bukan kehormatan;
pengabdian adalah napas, bukan pilihan.
Dari Audiensi hingga Aksi
H. Imam bukan pemimpin yang hanya duduk di kursi rapat.
Ia turun langsung ke lapangan, menjemput bantuan, menyalurkan sembako,
bahkan menemui para pemangku kebijakan — dari Danlanal AL BOK Cokorda Pemayun
hingga perwakilan lembaga pemerintah dan donatur besar di Jakarta.
Audiensi bukan formalitas.
Bagi Imam, itu adalah jalan silaturahmi,
jembatan antara kekuasaan dan nurani.
Setiap hasil pertemuan selalu berujung pada tindakan nyata —
entah itu pengiriman logistik, bantuan dana, atau akses distribusi ke wilayah terdampak.
“Bantuan bukan untuk difoto, tapi untuk disampaikan,”
katanya suatu sore, ketika ia baru saja kembali dari meninjau wilayah terdampak.
Kalimat sederhana, tapi menggema dalam hati semua relawan.
Kepemimpinan yang Mencerahkan
H. Imam adalah tipe pemimpin yang jarang ditemukan di zaman ini.
Ia tidak berteriak memberi perintah, melainkan memberi teladan dengan ketenangan.
Ia tidak menuntut loyalitas, tapi menumbuhkan cinta dan kepercayaan.
Sebagai Pimpinan Redaksi Suara Umat,
tulisannya sering memantulkan cermin jiwa yang penuh empati dan kebijaksanaan.
Ia menulis dengan kata yang meneduhkan,
menyampaikan pesan bahwa dalam setiap bencana, selalu ada rahmat yang tersembunyi.
Di Antara Kasih dan Keteladanan
Saat acara recovery berlangsung —
saat anak-anak bernyanyi, mewarnai, dan melukis keceriaan baru —
H. Imam berdiri di belakang layar, memastikan semuanya berjalan lancar.
Ia tak mencari sorotan,
tapi sorotan itu datang sendiri, dari senyum para relawan, dari doa para korban,
dari mata anak-anak yang kembali cerah setelah trauma banjir berlalu.
Bersama Hj. Nining, ia menjadi rumah bagi banyak jiwa.
Bukan rumah dengan dinding dan atap,
tapi rumah yang berdiri dari ketulusan dan kepedulian.
Akhir yang Tidak Pernah Usai
Ketika acara penutupan digelar, banyak yang mengira Posko Bersama telah berakhir.
Namun dalam sambutannya, H. Imam menegaskan dengan suara bergetar:
“Kebaikan ini tidak berhenti. Ia hanya berganti nama,
bertransformasi dalam bentuk baru — bersama Team Arjuna 115 dan jejaring relawan kemanusiaan.
Karena selama masih ada manusia yang tertimpa musibah,
maka tugas kita belum selesai.”
Kalimat itu disambut tepuk tangan panjang.
Bukan hanya penghormatan untuk seorang pemimpin,
tetapi juga pernyataan cinta — kepada perjuangan, kepada kemanusiaan, kepada Tuhan.
H. Imam Asrorie telah menulis kisahnya bukan dengan tinta,
melainkan dengan keringat, waktu, dan pengorbanan.
Ia bukan sekadar ketua posko,
tetapi penjaga nyala harapan di tengah banjir kasih.
Dan kelak, ketika air surut dan kenangan tinggal cerita,
nama Imam Asrorie akan tetap mengalir di hati mereka yang pernah disapanya dengan senyum —
senyum seorang pemimpin yang bekerja untuk langit,
bukan untuk tepuk tangan dunia.(RAYD) donasi PT Media Suara Umat BSI. 7326712967



