Detail Artikel

H. Muslim — Aroma Sedekah dari Dapur Kemanusiaan

H. Muslim — Aroma Sedekah dari Dapur Kemanusiaan


Oleh Redaksi Suara Umat – Denpasar, Oktober 2025


Dari dapur kecil yang tak pernah padam apinya, aroma masakan Minang bercampur doa dan keikhlasan,

mengalir seperti sungai kasih yang tak henti memberi kehidupan.

Di balik hiruk-pikuk relawan, di tengah lalu lintas bantuan dan koordinasi, berdirilah sosok yang selalu tersenyum:

H. Muslim, pemilik Rumah Makan Bundo Kanduang, tempat yang menjadi jantung berdenyutnya Posko Bersama Peduli Banjir Bali.


Dapur yang Tak Pernah Tidur


Sejak hari pertama posko berdiri — siang yang panas di tanggal 10 September 2025 — pintu Bundo Kanduang tidak pernah tertutup.

Relawan datang silih berganti. Ada yang lelah setelah mengevakuasi warga, ada yang baru pulang dari mendistribusikan bantuan.

Namun setiap kali mereka datang, selalu ada yang menunggu: segelas teh rempah hangat bercampur susu dan kuning telur.


“Ini bukan sekadar minuman,” ujar H. Muslim sambil tersenyum.

“Ini suplemen jiwa. Supaya relawan kuat bukan hanya badannya, tapi juga semangatnya.”


Teh rempah racikan khasnya itu menjadi legenda kecil di kalangan relawan.

Hangatnya menyusup sampai ke tulang, wangi kayu manis dan jahe berpadu dengan lembutnya susu — sebuah pelukan cair yang lahir dari kasih dan perhatian.


Antara Panci dan Pengabdian


RM Bundo Kanduang bukan sekadar rumah makan. Ia adalah markas kemanusiaan.

Dari dapur yang dulu hanya melayani pelanggan harian, kini keluar ratusan porsi nasi bungkus untuk korban banjir, relawan, dan masyarakat sekitar.

Meja yang biasanya dipenuhi pengunjung kini berubah menjadi meja rapat dan pencatatan logistik.

H. Muslim, dengan kerendahan hati, menyiapkan peralatan, meja posko, bahkan menjaga sumbangan donatur selama 24 jam — memastikan setiap rupiah yang dititipkan benar-benar sampai pada yang membutuhkan.


Tak jarang, beliau sendiri turun tangan mengatur panci besar, memeriksa nasi, atau sekadar memastikan sambal lado hijau tidak keasinan.

“Kalau makanan enak, semangat kerja relawan juga enak,” katanya bersahaja.


R2C, Armina, dan Jiwa yang Tak Pernah Lelah


Di luar dapur, H. Muslim dikenal aktif di LANTIP R2C — singkatan dari Road, Recreation, and Charity, sebuah komunitas jalan-jalan, makan-makan, dan sedekah yang penuh semangat kebersamaan.

Mereka bukan hanya pelancong, tapi juga pejalan yang menebar kebaikan.

Dalam bencana kali ini, R2C hadir membantu posko dalam penggalangan dana, distribusi bantuan, hingga mendukung logistik konsumsi harian.


Selain itu, ia juga tergabung dalam kelompok Armina (Rumah Makan Minang Bersaudara), jejaring pelaku kuliner Padang di Bali yang selalu siap membantu sesama anggota dan masyarakat saat bencana.

Dari kelompok inilah lahir dukungan berlapis — ada yang menyumbang bahan baku, ada yang membantu dapur umum, bahkan ada yang mengirimkan pesanan online gratis untuk korban terdampak.


“Sedekah itu tak selalu dari saku. Kadang dari spatula dan panci juga bisa,” ujarnya sambil tertawa.


Konsumen Offline dan Online, Hati yang Sama


Menariknya, meski sibuk melayani posko, Bundo Kanduang tidak pernah sepi pelanggan.

Konsumen offline tetap datang — mencicipi rendang, ayam pop, dan dendeng balado khasnya.

Sementara konsumen online tetap memesan lewat platform daring, karena tahu, setiap pesanan mereka juga bagian dari sedekah: sebagian keuntungan disisihkan untuk mendukung kegiatan kemanusiaan.


Dapur tetap beroperasi dengan dua ritme — ritme bisnis dan ritme kemanusiaan — berpadu indah dalam satu simfoni pelayanan.

Dalam kesunyian malam, saat relawan sudah tertidur, H. Muslim kadang masih duduk di pojok meja, mencatat donasi dan pengeluaran, memeriksa stok beras, memastikan besok pagi semua siap kembali.


Dari Dapur Menuju Surga


Tak banyak yang tahu, tapi doa-doa sering terucap dari dapur itu.

Doa untuk mereka yang kehilangan rumah, untuk relawan yang bertugas di medan berat, untuk para donatur yang hatinya lapang.


Bagi H. Muslim, setiap butir nasi yang tersaji adalah zakat rasa syukur.

Setiap panci yang mendidih adalah pengorbanan kecil menuju keberkahan besar.

Dan setiap senyum yang lahir dari perut kenyang relawan adalah pahala yang mengalir tanpa henti.


Dari tangan seorang pengusaha rumah makan, lahir cinta yang menembus batas perniagaan —

karena di antara wangi rendang dan rebusan teh rempah, tersimpan satu keyakinan:

bahwa berbagi bukan tentang berapa banyak yang kita punya, tapi seberapa dalam kita mau memberi.(RAYD) donasi PT Media Suara Umat BSI 7326712967

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'