Detail Artikel

Hakekat Kemerdekaan: Terbebas dari Cengkraman Hawa Nafsu

Hakekat Kemerdekaan: Terbebas dari Cengkraman Hawa Nafsu

Khotbah Jumat Ustadz M. Hanafi – Mushola Ahmad Dahlan, Denpasar, 15 Agustus 2025

Denpasar – Di bawah langit siang yang cerah, lantunan takbir dan tahmid mengawali khutbah Jumat Ustadz M. Hanafi di Mushola Ahmad Dahlan, Jalan Batanta 80, Denpasar. Beliau membuka dengan puji syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dzat yang telah menganugerahkan nikmat iman, nikmat Islam, dan berbagai karunia yang membuat hidup ini penuh kebahagiaan.

"Betapa bahagianya kita jika pandai bersyukur. Dan betapa celakanya jika hati lalai dari nikmat ini," ucap beliau.

Shalawat dan salam beliau haturkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam — penutup para nabi, pembawa visi hidup yang mulia: mengajak manusia untuk hanya menyembah Allah. “Menyembah Allah adalah sebaik-baiknya kehidupan. Sedangkan jauh dari tauhid adalah seburuk-buruknya kehidupan,” tegasnya.

Ustadz Hanafi kemudian mengutip sabda Nabi yang pernah menasihati seorang sahabat agar memperbaiki iman. Ketika sahabat itu bertanya “Bagaimana caranya?”, Nabi menjawab: “Perbanyaklah membaca kalimat La ilaha illallah.” Kalimat yang artinya: “Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah.”

Kemerdekaan yang Hakiki

Memasuki tema khutbah, beliau mengaitkan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Kemerdekaan bangsa ini, kata beliau, adalah hasil perjuangan para syuhada yang mengorbankan nyawa, harta, dan tenaga, sehingga kita bisa hidup, belajar, dan beribadah dengan leluasa.

Namun, hakekat kemerdekaan yang sesungguhnya lebih dari sekadar bebas dari penjajahan fisik. Ia adalah terbebasnya manusia dari cengkraman hawa nafsu dan kembalinya kepada fitrah sebagai hamba Allah.

Beliau mengingatkan sabda Nabi tentang tanda-tanda zaman:

  1. Orientasi hidup hanya pada perut — mencari kepuasan jasmani tanpa memikirkan halal atau haramnya.

  2. Obsesi menumpuk kekayaan.

  3. Kecanduan pada syahwat dan wanita secara berlebihan.

  4. Menjadikan harta sebagai tolok ukur harga diri.

  5. Sejelek-jeleknya manusia adalah yang menggadaikan agamanya demi dunia.

Doa Penjaga Jiwa

Sebagai solusi, Nabi mengajarkan doa yang dibaca setiap pagi dan petang:

Allahumma inni a’udzubika minal hammi wal hazan, wa a’udzubika minal ‘ajzi wal kasal, wa a’udzubika minal jubni wal bukhli, wa a’udzubika min ghalabatid-dayni wa qahrir-rijal.

Artinya: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa sedih dan gelisah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung kepada-Mu dari lilitan hutang dan penindasan manusia."

Beliau menutup khutbah dengan ajakan untuk merdeka dari sifat rakus, iri hati, dan cinta dunia yang berlebihan, agar kemerdekaan bangsa sejalan dengan kemerdekaan hati di hadapan Allah. (RAYD) 

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'