Detail Artikel

Halal bi Halal: Menyulam Silaturahmi di Mushola Hidayatullah"

Halal bi Halal: Menyulam Silaturahmi di Mushola Hidayatullah"

Masih di hari yang sama, Ahad, 13 April 2025. Saat matahari condong ke barat dan bayang-bayang mulai memanjang, Mushola Hidayatullah—permata kecil di tengah perumahan Tanah Bang Permai, Kediri Tabanan—kembali menjadi saksi kebersamaan yang menggetarkan jiwa.

Jika pagi hari tadi adalah panggilan untuk bergotong royong, merobohkan bangunan lama demi pembangunan rumah Allah yang lebih layak, maka sore ini adalah tentang menyambung hati, mempererat yang renggang, dan menghaluskan yang mungkin telah mengeras oleh waktu dan jarak. Sebuah acara sederhana, namun sarat makna: Halal bi Halal.

Suasana teduh selepas Ashar, dengan angin lembut yang mengantar aroma tanah basah, menjadi latar sempurna bagi perjumpaan yang penuh berkah ini. Acara diawali dengan penampilan Hadrah As-Saffar, barisan muda pilihan, juara tiga tingkat provinsi dalam lomba di Pesantren Bina Medina, Tabanan. Empat belas pemuda dengan semangat membara, melantunkan tiga lagu pembuka yang menggugah kalbu. Suara rebana, lantunan shalawat, dan semangat ukhuwah mereka menjelma menjadi dzikir yang menari di udara, membasuh hati yang hadir.

Lalu, MC membuka acara, mengajak hadirin menyelami makna silaturahmi yang bukan sekadar berjabat tangan, tapi merajut kasih sayang sesama mukmin. Ayat suci Al-Qur’an dibacakan—lantunan kalam Ilahi yang meresap ke dalam sanubari, disusul dengan gema shalawat dari As-Saffar yang kembali menghidupkan ruh cinta kepada Nabi Muhammad

Sambutan dari Ketua Yayasan, Haji Anwar, menjadi pengingat bahwa mushola ini dibangun bukan sekadar untuk rukuk dan sujud, tapi untuk menumbuhkan peradaban, menjadi mata air bagi lingkungan. Beliau menyampaikan rasa syukur dan harap, bahwa acara ini bukan hanya tentang maaf, tapi tentang memulai kembali, bersama, dalam ridha Allah.

Kemudian tibalah momen yang dinanti: ceramah utama yang menggetarkan jiwa, disampaikan oleh Haji Syukron. Dengan tutur yang lembut namun mengena, beliau mengajak hadirin merenungi hakikat ukhuwah, bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Bahwa memaafkan bukan melemah, tapi menguatkan. Bahwa menyapa dan menjabat tangan adalah cara meruntuhkan tembok ego dan prasangka.

Acara ditutup dengan doa penuh harap, lalu puncaknya: salam-salaman yang dipimpin langsung oleh sang penceramah. Suasana haru menyeruak, mata yang berkaca-kaca, senyum yang tulus, dan pelukan hangat antar sesama menjadi bukti nyata bahwa ruh silaturahmi masih hidup, tumbuh di tengah kesederhanaan.

Akhirnya, semua duduk bersama dalam istirahat yang ditunggu-tunggu: makan bersama. Nasi hangat, lauk sederhana, tapi terasa lezat karena disantap dalam cinta dan kebersamaan. Tidak ada kasta dalam piring, tidak ada jarak dalam gelas. Hanya satu rasa: syukur.

Mushola Hidayatullah hari ini bukan hanya tempat ibadah. Ia menjadi taman hati, ladang amal, dan jembatan ukhuwah. Di bawah langit Tabanan, pada hari yang sama, dua peristiwa berpadu: pembangunan fisik dan pembangunan jiwa. Semoga keduanya menjadi jalan menuju ridha Allah.

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'