Detail Artikel

Halal Bihalal ICMI Bali: Dari Silaturahmi Menuju Strategi Besar Pariwisata Ramah Muslim”

“Halal Bihalal ICMI Bali: Dari Silaturahmi Menuju Strategi Besar Pariwisata Ramah Muslim”


Denpasar — Di tengah suasana hangat Halal Bihalal yang digelar oleh ICMI Orwil Bali, sebuah narasi besar tentang masa depan Bali perlahan mengemuka: harmoni antara budaya lokal dan kebutuhan global umat Muslim. Momentum ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga ruang artikulasi gagasan strategis yang menyentuh sektor vital—pariwisata.

Melalui wawancara bersama Dr. H. Wahyu Srihandono, tergambar jelas arah pemikiran dan langkah konkret yang tengah disiapkan ICMI Bali dalam menjawab tantangan zaman.


Empat Doktor, Satu Visi Pengabdian

Kegiatan Halal Bihalal tahun ini terasa istimewa dengan diselenggarakannya tasyakuran atas capaian akademik empat tokoh ICMI Bali yang telah meraih gelar doktor. Selain Dr. H. Wahyu Srihandono, turut diapresiasi Dr. H. Agus Samijaya, Dr. Adit Arjanto, dan Dr. Isma Sumarlan.

“Keilmuan dari masing-masing bidang ini kami harapkan mampu memberikan literasi dan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Wahyu. Ia menegaskan bahwa kolaborasi lintas disiplin—syariah, ekonomi, hukum, dan kesehatan—akan menjadi fondasi penguatan peran ICMI di tengah masyarakat Bali.


Pariwisata Bali: Dari Budaya Menuju Halal Inklusif

Sebagai wilayah yang menggantungkan hampir 90 persen ekonominya pada sektor pariwisata, Bali menghadapi tantangan sekaligus peluang besar. Menurut Wahyu, pendekatan yang diusung bukanlah “wisata halal” dalam arti eksklusif, melainkan “pariwisata ramah Muslim yang inklusif tanpa menghilangkan identitas budaya Bali.”

“Kita tidak mengganti Bali menjadi destinasi halal sepenuhnya, tetapi menghadirkan ruang yang ramah bagi wisatawan Muslim—mulai dari akses ibadah, makanan halal, hingga kenyamanan berwisata,” jelasnya.

Ia mencontohkan berbagai fasilitas yang mulai berkembang, seperti keberadaan musala di destinasi wisata, restoran bersertifikat halal, hingga integrasi jadwal wisata dengan waktu ibadah.


Akulturasi: Fondasi Harmoni yang Tak Tergantikan

Lebih jauh, Wahyu menekankan bahwa hubungan antara Islam dan budaya Bali bukanlah sesuatu yang baru. Sejak masa kerajaan hingga kini, telah terjalin akulturasi yang harmonis.

Di berbagai wilayah seperti Singaraja, Karangasem, hingga Kampung Islam Kepaon, jejak tersebut tampak nyata—bahkan dalam penamaan khas Bali yang digunakan oleh komunitas Muslim.

“Ini bukan sekadar toleransi, tetapi sudah menjadi satu kesatuan sosial yang tidak bisa dipisahkan,” ungkapnya.

Dari sinilah muncul gagasan untuk mengembangkan paket wisata berbasis akulturasi budaya, di mana wisatawan dapat menikmati keunikan Bali sekaligus mengenal keberadaan komunitas Muslim yang hidup berdampingan secara damai.


Menuju Peta Jalan Pariwisata Ramah Muslim

ICMI Bali tidak berhenti pada wacana. Dalam waktu dekat, akan digelar Forum Group Discussion (FGD) di Singaraja untuk merumuskan guideline pariwisata ramah Muslim. Inisiatif ini mencakup penyusunan itinerary wisata, penguatan promosi, serta integrasi potensi lokal seperti seni, kuliner, dan sejarah Islam di Bali.

“Kami ingin menghadirkan panduan konkret agar wisatawan Muslim bisa menikmati Bali tanpa kehilangan nilai-nilai keagamaannya,” tegas Wahyu.

Langkah ini juga diperkuat dengan dorongan percepatan sertifikasi halal bagi pelaku usaha, seiring kebijakan nasional yang menargetkan implementasi lebih luas pada sektor industri makanan dan pariwisata.


Dari Silaturahmi ke Transformasi Sosial

Wawancara ini menegaskan bahwa Halal Bihalal bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan ruang refleksi dan proyeksi masa depan. ICMI Bali berupaya menjadikan momentum ini sebagai titik tolak transformasi—dari penguatan internal menuju kontribusi nyata bagi masyarakat luas.

“Islam adalah rahmatan lil ‘alamin—harus memberi manfaat bagi semua, bukan hanya bagi umat Muslim,” tutup Wahyu.


Jembatan Harmoni di Pulau Dewata

Dengan semangat kolaborasi dan pendekatan inklusif, ICMI Bali menempatkan diri sebagai jembatan antara nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal Bali. Di tengah dinamika global, langkah ini menjadi penting—bukan hanya untuk memperkuat identitas, tetapi juga memastikan bahwa harmoni tetap menjadi ruh utama pembangunan.

Dan dari sebuah Halal Bihalal, lahirlah visi besar: Bali sebagai ruang perjumpaan budaya, iman, dan peradaban yang saling menguatkan.(AMBAR & RAYD)

 

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'