Hari Kedua Pembagian Bubur Rempah Melayu
Senin, 16 Februari 2026
Depan Rumah Makan Bundo Kanduang – Denpasar
Di depan Rumah Makan Bundo Kanduang, tepat di ruas jalan yang dibatasi boulevard, jalur dua arah yang lalu lintasnya cukup ramai, kegiatan pembagian Bubur Rempah Melayu kembali digelar pada hari kedua. Lokasi ini berada di depan Rumah Dinas Pangdam IX/Udayana, menjadikan suasana siang itu hidup oleh deru kendaraan, klakson bersahutan, dan arus kota yang tak pernah benar-benar berhenti.
Namun di tengah kepadatan itu, lahir ketenangan yang berbeda.
Sejak pagi, proses persiapan telah berlangsung rapi dan terkoordinasi. Hari kedua ini secara khusus dikawal oleh jajaran Wanita Islam, yang memastikan setiap tahapan berjalan tertib—dari pemilahan bahan, proses memasak, pengepakan higienis, hingga distribusi kepada masyarakat.
PLT Wanita Islam, Hj. Nining, memimpin pengawalan teknis dengan ketelitian yang tegas namun teduh. Turut hadir membersamai, Hj. Dewi Rully dari MTP IPHI Bali, yang secara langsung ikut menyerahkan bubur kepada warga. Ketua LAZIS, H. Imam Asrorie, juga hadir mengawal kegiatan, menegaskan bahwa menyambut Ramadhan harus dimulai dengan kerja nyata yang memberi manfaat.
Pembagian dilakukan selepas Dzuhur hingga menjelang Ashar. Di bawah matahari yang menyengat dan arus kendaraan yang tak surut, relawan tetap berdiri dengan senyum yang tak goyah. Setiap cup yang berpindah tangan bukan sekadar sajian, melainkan simbol empati—bahwa di tengah hiruk pikuk kota, masih ada ruang untuk berbagi.
Bubur rempah yang memiliki akar sejarah panjang—yang dahulu menjadi bagian dari tradisi Ramadhan di kawasan Masjid Raya Al Mashun dan Istana Maimun—kini hadir di Bali sebagai jembatan nilai antara budaya dan kemanusiaan.
Hari kedua ini menunjukkan bahwa keberkahan tidak selalu lahir di tempat yang sunyi. Ia bisa tumbuh di tepi jalan yang ramai, di bawah terik matahari, di antara deru mesin dan kesibukan manusia. Ketika perempuan dan laki-laki bersatu dalam pengabdian, kerja sosial berubah menjadi gerakan moral.
Dan menjelang Ashar, ketika bayang-bayang mulai memanjang di atas boulevard, satu hal terasa pasti: setiap kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas akan selalu menemukan jalannya menuju keberkahan Ramadhan.