Detail Artikel

Harmoni, Representasi, dan Persatuan Umat: Seruan Menjaga Kebersamaan di Bali

Harmoni, Representasi, dan Persatuan Umat: Seruan Menjaga Kebersamaan di Bali

Denpasar, 12 Mei 2026 — Dinamika sosial dan representasi umat kembali menjadi perhatian sejumlah tokoh Islam di Bali. Dalam wawancara yang berlangsung di Gedung Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bali, Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Bali sekaligus Wakil Ketua MUI Bali, H. Bambang Santoso, menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya persatuan, penguatan representasi, serta menjaga harmoni sosial di tengah masyarakat multikultural Bali.

Wawancara bersama media komunitas Ambar Suara Umat tersebut menyoroti sejumlah isu aktual, mulai dari aspirasi organisasi kemasyarakatan Islam, pentingnya keterwakilan umat dalam ruang demokrasi, hingga tantangan menjaga kohesi sosial di era media digital.

Menurut Bambang Santoso, masjid memiliki posisi strategis bukan hanya sebagai pusat ibadah, melainkan juga ruang konsolidasi sosial dan moral umat. Ia menggambarkan masjid sebagai “meeting point” yang mempertemukan berbagai unsur masyarakat dalam semangat kebersamaan dan penguatan nilai-nilai persaudaraan.

Dalam konteks munculnya aspirasi dari sejumlah elemen organisasi Islam di Indonesia bagian tengah, ia menilai langkah penyampaian aspirasi melalui jalur hukum dan konstitusional merupakan bagian dari mekanisme negara demokrasi yang harus dihormati. Namun demikian, ia menekankan bahwa seluruh proses harus tetap berada dalam koridor hukum, etika kebangsaan, serta menjaga stabilitas sosial.

“Persatuan menjadi fondasi utama dalam menjaga kekuatan masyarakat. Perbedaan pandangan hendaknya tidak berkembang menjadi perpecahan yang melemahkan,” ujarnya.

Representasi Politik dan Kesadaran Kolektif

Dalam wawancara tersebut, Bambang juga menyinggung dinamika keterwakilan umat Islam di Bali. Ia memandang kondisi tersebut sebagai refleksi penting bagi masyarakat untuk memperkuat konsolidasi dan membangun kesadaran kolektif mengenai pentingnya partisipasi dalam sistem demokrasi.

Menurutnya, demokrasi menempatkan representasi sebagai bagian penting dari proses penyampaian aspirasi masyarakat. Karena itu, keterlibatan aktif masyarakat dalam ruang sosial maupun politik perlu dibangun melalui pendekatan yang inklusif, edukatif, dan berorientasi pada persatuan.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa absennya keterwakilan formal tidak boleh dimaknai sebagai berkurangnya kontribusi umat dalam pembangunan daerah. Ia justru melihat kondisi tersebut sebagai momentum introspeksi untuk memperkuat solidaritas sosial dan budaya gotong royong.

“Ke depan, yang dibutuhkan bukan sekadar hadirnya figur, tetapi lahirnya semangat kolektif untuk saling menguatkan dan bekerja bersama,” ungkapnya.

Media Sosial: Ruang Edukasi Sekaligus Tantangan

Perkembangan media sosial turut menjadi perhatian dalam diskusi tersebut. Bambang menilai platform digital telah membuka ruang komunikasi yang luas dan tanpa batas, khususnya bagi generasi muda. Di satu sisi, media sosial dapat menjadi sarana edukasi, penguatan literasi kebangsaan, dan konsolidasi aspirasi masyarakat. Namun di sisi lain, ia mengingatkan adanya potensi polarisasi apabila ruang digital tidak dikelola secara bijaksana.

Ia mendorong agar masyarakat, terutama generasi muda, memanfaatkan media sosial secara produktif untuk memperkuat nilai persatuan, toleransi, dan partisipasi sosial yang sehat.

“Perbedaan adalah realitas dalam demokrasi, tetapi persatuan tetap menjadi kebutuhan bersama,” katanya.

Menjaga Harmoni Bali dalam Bingkai Kebangsaan

Sebagai daerah dengan karakter masyarakat yang plural dan harmonis, Bali dinilai memiliki modal sosial yang kuat dalam menjaga toleransi antarumat beragama. Bambang menyampaikan apresiasinya terhadap hubungan sosial yang selama ini terbangun antara masyarakat Muslim dan elemen masyarakat Bali secara umum.

Ia juga menegaskan bahwa masyarakat Muslim merupakan bagian sah dan integral dari kehidupan sosial Bali maupun Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karena itu, menurutnya, semangat saling menghormati dan menjaga keharmonisan harus terus dirawat bersama.

Dalam pandangannya, nilai-nilai Pancasila tetap menjadi pijakan utama dalam menjaga kehidupan kebangsaan, terutama sila Persatuan Indonesia dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Kedua prinsip tersebut dinilai menjadi landasan penting untuk merawat kohesi sosial di tengah keberagaman.

Wawancara ditutup dengan harapan agar Bali tetap menjadi ruang hidup yang aman, damai, inklusif, dan menjunjung tinggi toleransi. Di tengah berbagai dinamika sosial yang berkembang, para tokoh masyarakat mengajak seluruh elemen bangsa untuk mengedepankan dialog, kebersamaan, serta semangat gotong royong demi menjaga stabilitas dan keharmonisan bersama. (AMBAR & RAYD) Donasi Suara Umat atas nama PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967

 

 

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'