Detail Artikel

Hidup Bermakna di Tengah Dunia yang Sibuk: Pelajaran dari “Hayyatan Toyyibah” dan Eksperimen Universe 25

Hidup Bermakna di Tengah Dunia yang Sibuk: Pelajaran dari “Hayyatan Toyyibah” dan Eksperimen Universe 25


Denpasar, 19 Oktober 2025 — Di tengah arus kehidupan modern yang kian sibuk dan bising, Pengajian Rutin Bulanan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Kota Denpasar hadir sebagai oase rohani bagi para alumni haji dan masyarakat muslim kota ini. Bertempat di sebuah masjid yang sejuk di jantung Denpasar, pengajian Ahad pagi itu terasa istimewa: selain mengulas tafsir klasik Imam Al-Qurtubi tentang Hayyatan Toyyibah, sang penceramah juga mengaitkannya dengan eksperimen sosiologis yang fenomenal dari dunia ilmiah Barat — “Universe 25”.


Acara dibuka oleh Ketua IPHI Kota Denpasar, H.M. Mansur, M.M., yang dalam sambutannya menegaskan pentingnya menjaga silaturahmi dan komunikasi antaranggota. “Organisasi ini bukan sekadar forum alumni haji. IPHI adalah rumah untuk membangun persaudaraan, tempat kita menumbuhkan kebaikan, dan memperkuat makna hidup pasca haji,” ujar Mansur penuh semangat. Ia juga mengajak jamaah agar tidak menjadikan pengajian sekadar rutinitas, melainkan sarana untuk memperbarui jiwa dan mempererat tali hati.


Suasana berubah hening ketika Ustadz H. Nasihudin, S.HI. mulai menyampaikan ceramah utamanya bertema “Lima Makna Hayyatan Toyyibah Menurut Imam Al-Qurtubi”. Dengan suara lembut dan tutur yang mengalir, beliau menjelaskan bahwa Hayyatan Toyyibah — kehidupan yang baik — bukan diukur dari kemewahan atau kemajuan teknologi, melainkan dari kedalaman makna spiritual dan keseimbangan jiwa.


Ustadz Nasihudin memaparkan lima makna kehidupan baik menurut Imam Al-Qurtubi: Qana’ah (rasa cukup dan puas atas rezeki Allah), rezeki halal, ketenangan hati dalam iman, barakah, dan kebahagiaan abadi di akhirat. Semua itu, katanya, menjadi pondasi bagi manusia agar tidak tersesat dalam kemajuan tanpa arah.


Untuk memperkuat pesannya, Ustadz Nasihudin menyinggung sebuah eksperimen terkenal yang dilakukan oleh ilmuwan perilaku asal Amerika, Dr. John B. Calhoun, pada tahun 1960–1970-an. Eksperimen itu dikenal dengan nama “Universe 25” — atau yang sering disebut the mouse utopia experiment.


“Dr. Calhoun menciptakan surga buatan bagi ribuan tikus,” ujar Ustadz Nasihudin. “Mereka diberi makanan tanpa batas, tempat tinggal nyaman, bebas dari pemangsa, dan tidak ada ancaman apa pun. Namun yang terjadi sungguh menggetarkan: populasi mereka sempat meledak, lalu tiba-tiba menurun drastis hingga punah sama sekali. Di tengah kemewahan, mereka kehilangan makna hidup.”


Beliau melanjutkan dengan refleksi mendalam: “Tikus-tikus itu hidup dalam kelimpahan, tapi kehilangan ruh. Mereka berhenti berkembang biak, kehilangan empati, tidak lagi peduli pada sesamanya, dan akhirnya mati bukan karena lapar, tapi karena kehilangan tujuan hidup. Itulah gambaran dunia tanpa hayyatan toyyibah — hidup tanpa arah, tanpa iman, tanpa makna.”


Hadirin terdiam, sebagian menunduk. Ceramah itu terasa seperti cermin yang memantulkan wajah peradaban modern — manusia yang hidup di tengah kelimpahan, namun sering kekurangan ketenangan dan makna.


Ustadz Nasihudin menegaskan bahwa kehidupan yang toyyibah tidak akan lahir dari kelimpahan materi, tetapi dari keseimbangan spiritual, sosial, dan moral. “Imam Al-Qurtubi sudah menulis delapan abad lalu bahwa orang beriman yang beramal saleh akan diberi kehidupan yang baik. Bukan karena banyaknya harta, tetapi karena hatinya tenang, rezekinya halal, hidupnya berkah, dan akhiratnya bahagia. Itulah rahasia kehidupan yang tidak akan punah seperti Universe 25.”


Pengajian ditutup dengan doa bersama dan ajakan mempererat silaturahmi antaranggota IPHI. Seusai acara, para jamaah berbincang hangat, sebagian mengaku terkesan dengan analogi ilmiah yang dibawakan. “Baru kali ini saya dengar konsep tikus utopia dibahas di pengajian,” kata seorang jamaah sambil tersenyum. “Ternyata benar, manusia pun bisa punah secara ruhani bila lupa tujuan hidup.”


Dalam keheningan pagi yang mulai beranjak siang, gema pesan pengajian itu terasa lama menggantung di udara Denpasar: bahwa hidup baik bukan sekadar panjang umur atau banyak harta, tetapi hidup yang memiliki arah, makna, dan nilai — sebuah hayyatan toyyibah yang menyelamatkan jiwa di tengah arus dunia yang semakin riuh.(RORIE) 

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'