Detail Artikel

Hidup di Dunia Ibarat Bertamu: Renungan dalam Singgasana Kesementaraan

Hidup di Dunia Ibarat Bertamu: Renungan dalam Singgasana Kesementaraan


Di balik gemerlap dunia yang memesona, tersimpan satu kebenaran yang tak bisa disangkal: hidup ini hanyalah sebuah persinggahan. Kita bukan pemilik panggung kehidupan ini. Kita hanyalah tamu yang dipersilakan untuk duduk sejenak, menikmati sajian waktu, sebelum akhirnya kembali pulang ke tempat asal—keabadian yang sejati.

Senikmat apa pun hidangan dunia, tak satu pun bisa dibawa pulang. Harta, tahta, popularitas—semuanya hanya ilusi yang akan tertinggal di balik tabir liang lahat. Yang abadi bukanlah kenikmatan itu, melainkan rasa yang tertanam dalam hati, makna yang kita genggam dengan jiwa, dan pelajaran yang kita bawa sebagai bekal untuk perjalanan sesungguhnya: kehidupan setelah mati.

Dunia: Fana yang Memikat

Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur'an:

"Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga di antarakalian serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan.

..”(QS. Al-Hadid: 20)

Hidup ini ibarat pesta jamuan di rumah orang lain. Kita diundang dengan segala kemewahan yang menggiurkan. Namun, sang tuan rumah sudah menetapkan waktu pulang.

Dan saat waktu itu tiba, kita tak punya pilihan selain melangkah pergi, meninggalkan segala yang kita genggam.

Maka betapapun betahnya kita, tetap harus kembali. Betapapun nikmatnya dunia, tetap tak abadi. Yang tinggal hanya amal. Yang kekal hanyalah makna.

Kesadaran: Mata Air Makna

Sungguh merugi mereka yang menjalani hidup hanya sebagai pemuja fatamorgana. Mereka sibuk memperindah tampilan rumah tamu, tapi lupa menyiapkan bekal untuk perjalanan pulang. Sedangkan yang bijak adalah mereka yang menghargai setiap detik di dunia dengan kesadaran penuh bahwa semua ini hanyalah pinjaman.

Rasulullah bersabda:

Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seperti seorang pengembara.

(HR. Bukhari)

Sebagaimana seorang musafir tak akan membangun istana di tempat persinggahannya, begitu pula orang beriman tak akan tertipu oleh kenyamanan sesaat. Ia sibuk memperbaiki akhlaknya, memperbanyak amalnya, dan menanam kebaikan sebagai ladang panen di akhirat kelak.

Pelajaran dalam Setiap Detik

Mari renungi: jika kita hanya singgah sebentar, maka segala pertemuan, kebahagiaan, bahkan luka adalah bagian dari perjalanan yang harus kita maknai. Tak ada yang sia-sia jika kita mampu mengambil ibrah.

Dunia ini bukan tempat menetap, tapi tempat ditempa. Dan ujian adalah salah satu bentuk kasih sayang-Nya agar kita tidak jatuh cinta terlalu dalam pada sesuatu yang akan kita tinggalkan."

Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya, sedangkan negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, jika mereka mengetahui.”(QS. Al-‘Ankabut: 64)


Penutup: Pulanglah dengan Membawa Makna

Wahai jiwa yang sedang bertamu, jangan sia-siakan waktumu dengan hal yang fana. Jadikan setiap momen sebagai ladang hikmah. Jangan tertidur dalam buaian dunia, karena panggilan pulang bisa datang kapan saja—tanpa aba-aba, tanpa jeda.

Hidup bukan tentang apa yang kita miliki, tapi tentang apa yang kita tinggalkan. Bukan tentang kenyamanan yang kita ciptakan, tapi tentang kebaikan yang kita tebarkan.

Bersiaplah pulang, bukan dengan tangan kosong, tapi dengan hati yang penuh cinta kepada-Nya. ( di nukil dari renungan pagi. Prof. Nurianto) 


"Ya Allah, jangan jadikan dunia sebagai tujuan utama kami, batas ilmu kami, atau akhir dari segala harapan kami."

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'