Detail Artikel

Hijrah Sunyi dari Pesantren: Kisah Tak Tercatat di Balik 1 Muharram

Hijrah Sunyi dari Pesantren: Kisah Tak Tercatat di Balik 1 Muharram

Di tengah gelap malam 1 Muharram di awal abad ke-20, di sebuah surau kecil di Jombang, suara lembut doa dan zikir mengisi ruang. Tak ada pesta kembang api. Tak ada gegap gempita. Hanya suara nafas yang ditahan, dan harapan yang dilantunkan dalam diam. Inilah malam "hijrah sunyi" yang tak banyak diketahui orang, ketika para kyai di pelosok Jawa Timur menyulam perlawanan dari balik kitab kuning dan sajadah lusuh.

Ketika pemerintah kolonial Hindia Belanda memperketat pengawasan terhadap pesantren karena khawatir akan munculnya gerakan bawah tanah, para ulama menggunakan jalan sunyi: menjadikan momen Tahun Baru Hijriyah sebagai titik awal gerakan rahasia. Bagi mereka, hijrah bukan hanya mengenang perpindahan Nabi dari Makkah ke Madinah, tetapi meneladani keberanian spiritual untuk berpindah dari pasrah ke perjuangan.

KH. Hasyim Asy'ari dari Pesantren Tebuireng, bersama para kyai dari pesantren-pesantren kecil di Kediri, Tulungagung, dan Ponorogo, memaknai 1 Muharram bukan hanya sebagai tahun baru, tetapi sebagai saat mengatur strategi. Dalam pertemuan-pertemuan malam bertirai dzikir itu, mereka menyusun rute pengiriman santri ke kantong-kantong perlawanan, mengatur suplai logistik, dan membentuk jaringan komunikasi yang tersembunyi dari intel kolonial.

Para santri yang semula duduk bersila di majelis ta'lim, disiapkan untuk menjadi pembawa pesan, penyusup logistik, hingga pelatih bela diri di pegunungan. Mereka bertransformasi dalam senyap, menyamar sebagai penjual jamu, pedagang keliling, bahkan penggembala kambing agar lolos dari kecurigaan. Semua ini bermula dari malam 1 Muharram, malam yang diselimuti doa dan tekad.

Di desa-desa kecil, tradisi pengajian malam Muharram menjadi kedok yang cerdas. Belanda melihatnya sebagai aktivitas keagamaan biasa, padahal di dalamnya terselip kode-kode, isyarat, dan sandi gerakan. "Hijrah bathin," begitu mereka menyebutnya: sebuah migrasi spiritual menuju kesadaran perjuangan.

Cerita ini nyaris tak tercatat dalam buku sejarah nasional. Ia hidup dalam ingatan para santri tua, dalam bisik-bisik malam setelah pengajian, atau dalam catatan tangan yang tersimpan di laci-laci pesantren. Namun dari kesunyian inilah, kita belajar bahwa kemerdekaan tidak hanya diperjuangkan dengan senjata dan pidato, tapi juga dengan kesabaran, strategi, dan keberanian untuk bergerak di jalan sunyi.

Hari ini, saat kita memperingati 1 Muharram, mari kenang kembali makna hijrah yang sejati. Bukan hanya berpindah tempat, tapi berubah arah hidup. Dari diam menuju tekad. Dari nyaman menuju perjuangan. Seperti yang pernah dilakukan para kyai dan santri di malam-malam sunyi itu, ketika cahaya tahun baru datang bersama semangat merdeka yang tak terucap, namun terus menyala

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'