Detail Artikel

Hj. Sri Subekti: Dari Ember, Sampah Dapur, dan Semangat Perempuan Desa Lahir Harapan Baru

Hj. Sri Subekti: Dari Ember, Sampah Dapur, dan Semangat Perempuan Desa Lahir Harapan Baru

Bali – Balai desa yang biasanya sunyi mendadak ramai oleh tawa dan sorak ibu-ibu. Mereka bukan sekadar hadir untuk berkumpul, melainkan untuk belajar, berlatih, dan menyalakan semangat baru. Di hadapan mereka berdiri Hj. Sri Subekti, S.H., Sp.N, Ketua Perempuan ICMI Orwil Bali, seorang notaris dan PPAT ternama, yang hari itu datang bukan dengan toga atau dokumen hukum, tetapi dengan gagasan sederhana: ember, sampah dapur, dan lele.

Perempuan Multitasking: Pilar Perubahan

Dalam sambutannya, Hj. Sri Subekti membuka acara dengan menyapa hangat para peserta. Ia menegaskan bahwa perempuan desa adalah pilar peradaban, yang sanggup menjalankan banyak peran sekaligus: sebagai ibu, istri, pendidik anak, penggerak ekonomi, dan penjaga lingkungan.

“Ibu-ibu sekalian adalah multitasking sejati. Tanpa kalian, desa tidak akan berdiri. Kalian bukan sekadar pelengkap, tapi penggerak utama perubahan,” ujarnya penuh semangat.

Tim Lintas Profesi untuk Desa Binaan

Sri Subekti tak datang sendirian. Ia memperkenalkan tim inspiratif yang ikut hadir: seorang dokter ahli yang berbagi soal kesehatan keluarga, tokoh pendidikan yang mendorong pentingnya belajar sepanjang hayat, tokoh masyarakat yang menjembatani kearifan lokal dengan program modern, hingga para ibu rumah tangga yang membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari dapur sendiri.

“Inilah bukti bahwa perubahan bukan kerja satu orang. Kita harus bergerak bersama,” katanya.

Edukasi dengan Hiburan: Fragmen Penjol dan Judi Online

Acara semakin hidup ketika ditampilkan fragmen sederhana tentang bahaya pinjaman online dan judi daring. Dengan gaya jenaka, pesan moral disampaikan: jangan tergoda oleh jalan instan yang berujung jerat masalah.

“Perempuan desa harus cerdas. Jangan terjebak janji manis yang merusak. Kita harus belajar mengelola rejeki dengan bijak,” tegas Sri Subekti.

Sampah Jadi Berkah: Eco Enzyme

Tak kalah menarik, penyuluhan tentang eco enzyme membuka wawasan baru bagi para ibu. Sisa dapur yang biasanya dibuang, ternyata bisa diubah menjadi cairan bermanfaat: pupuk organik, pembersih alami, bahkan solusi menjaga lingkungan. Antusiasme terlihat ketika para ibu mulai berdiskusi bagaimana mereka bisa mempraktikkannya di rumah.

Budikdamber: Lele dalam Ember, Prototipe Harapan

Puncak acara adalah pelatihan budidaya lele dalam ember besar (budikdamber) yang dipandu oleh H. Saleh. Metode sederhana ini memadukan ember berisi lele dengan tanaman kangkung di atasnya, menciptakan ekosistem mini yang bernilai gizi dan ekonomi.

Namun Sri Subekti menekankan bahwa ini baru tahap awal. “Yang kami berikan hari ini hanyalah prototipe. Tujuannya agar ibu-ibu bisa mencoba dulu, belajar, dan membuktikan bahwa ini bisa berhasil. Setelah itu, insyaAllah bantuan penuh akan kami hadirkan,” ujarnya, disambut tepuk tangan peserta.

Visi Perempuan ICMI Bali

Di akhir acara, Sri Subekti kembali meneguhkan visi yang ia bawa sebagai Ketua Perempuan ICMI Bali: melahirkan perempuan desa yang tangguh, berakhlak, mandiri, dan cendekia.

“Kita tidak sekadar membuat ember berisi lele, kita sedang menyiapkan kolam harapan. Kita tidak sekadar memfermentasi sampah, kita sedang mengolah masa depan. Dan kita tidak sekadar memberi hiburan, kita sedang menanamkan kesadaran,” pungkasnya penuh makna.

Penutup: Api Semangat dari Desa

Acara berakhir dengan wajah-wajah penuh semangat. Para ibu pulang bukan hanya membawa ilmu baru, tetapi juga keyakinan bahwa mereka mampu menjadi agen perubahan di desanya.

Dari ember plastik, sisa dapur, dan semangat kolektif, lahir sebuah gagasan sederhana namun kuat: bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Dan di tangan perempuan desa, langkah kecil itu bisa menjelma menjadi gelombang besar kemandirian dan peradaban. (Rorie)  Donasi *Rek. PT. MEDIA SUARA UMAT. Bank BSI.7326712967*

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'