Detail Artikel

Hj. Sri Widianingsih: Kurban Wanita Islam Bali Bukan Sekadar Ritual, tetapi Gerakan Sosial dan Pendidikan Umat

Hj. Sri Widianingsih: Kurban Wanita Islam Bali Bukan Sekadar Ritual, tetapi Gerakan Sosial dan Pendidikan Umat

TABANAN — Di bawah semilir angin Pantai Selabih dan gemuruh ombak pesisir barat Bali, perempuan-perempuan Muslim dari berbagai kabupaten dan kota berkumpul bukan hanya untuk menyaksikan penyembelihan hewan kurban, tetapi juga merawat tradisi pengabdian yang telah berlangsung puluhan tahun.

Bagi Wanita Islam Provinsi Bali, Idul Adha bukan sekadar agenda tahunan. Di balik prosesi penyembelihan dua ekor sapi dan enam ekor kambing, terdapat kerja organisasi yang terbangun dari semangat gotong royong, pemberdayaan perempuan, pendidikan, hingga pelayanan sosial kepada masyarakat.

Dalam wawancara khusus bersama Suara Umat dan Radio Megantara Bali di sela kegiatan Kurban Bersama Wanita Islam Provinsi Bali di Warung Pantai Selabih, Tabanan, Sabtu (30/5/2026), Plt Ketua Pimpinan Wilayah Wanita Islam Provinsi Bali, Hj. Sri Widianingsih, memaparkan perjalanan organisasi, makna kurban, hingga arah pengembangan lembaga pada masa mendatang.

Kurban yang Berpindah dari Kabupaten ke Kabupaten

Menurut Sri Widianingsih, pelaksanaan kurban yang digelar tahun ini bukanlah kegiatan insidental, melainkan program rutin organisasi yang telah berjalan selama bertahun-tahun.

"Setiap tahun kami melaksanakan kegiatan kurban dan lokasinya berpindah-pindah dari satu kabupaten ke kabupaten lainnya di Bali," ujarnya.

Tahun 2026, Kabupaten Tabanan mendapat amanah sebagai tuan rumah. Lokasi kegiatan dipusatkan di Desa Selabih, Kecamatan Selemadeg Barat, sebuah kawasan pesisir yang dinilai representatif untuk menampung seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari seremoni, penyembelihan, pengemasan hingga distribusi.

Pada Idul Adha 1447 Hijriah ini, Wanita Islam Provinsi Bali mengelola dua ekor sapi yang berasal dari 14 mudhohi, lima ekor kambing perseorangan, serta satu ekor kambing hasil partisipasi kolektif anggota organisasi.

Daging kurban kemudian didistribusikan kepada masyarakat sekitar Selabih, anggota Wanita Islam, serta warga yang membutuhkan tanpa membedakan latar belakang sosial.

"Kami ingin manfaat kurban dirasakan masyarakat seluas-luasnya. Karena esensi kurban adalah berbagi dan menghadirkan kebahagiaan bagi sesama," katanya.

Dukungan Masyarakat dan Harmoni Sosial Bali

Sri Widianingsih mengaku bersyukur karena kegiatan tahun ini memperoleh dukungan luar biasa dari berbagai pihak.

Salah satunya datang dari pemilik Warung Pantai Selabih, Mas Suwarno, yang menyediakan seluruh fasilitas lokasi secara cuma-cuma bagi penyelenggaraan kegiatan.

Tidak hanya menyediakan area kegiatan yang luas dan nyaman, pihak pengelola juga membantu kebutuhan teknis pelaksanaan sehingga seluruh rangkaian acara dapat berjalan dengan lancar.

"Kami benar-benar merasakan dukungan yang luar biasa. Tempat ini diberikan secara gratis dan seluruh peserta mendapat sambutan yang sangat baik," ungkapnya.

Dukungan serupa juga datang dari Pemerintah Desa Selabih dan para pemangku kepentingan setempat yang turut memfasilitasi jalannya kegiatan.

Bahkan distribusi daging kurban tidak hanya diberikan kepada masyarakat Muslim, tetapi juga menjangkau warga non-Muslim sebagai bagian dari semangat kemanusiaan dan kebersamaan yang tumbuh di Bali.

"Kurban menjadi jembatan sosial yang mempererat hubungan antarmasyarakat dalam suasana saling menghormati dan saling berbagi," ujarnya.

Organisasi Perempuan yang Mandiri

Di tengah berkembangnya berbagai organisasi kemasyarakatan perempuan di Indonesia, Wanita Islam memiliki karakteristik yang berbeda.

Organisasi ini berdiri secara independen dan seluruh struktur kepemimpinannya dijalankan oleh perempuan.

Mulai dari tingkat pusat hingga daerah, roda organisasi bergerak melalui kepemimpinan perempuan Muslim yang aktif dalam bidang pendidikan, sosial, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.

"Wanita Islam adalah organisasi yang mandiri. Dari pusat hingga daerah seluruhnya dijalankan oleh perempuan," jelas Sri Widianingsih.

Secara nasional, organisasi ini telah memiliki kepengurusan di 34 provinsi. Sementara di Bali, struktur organisasi telah terbentuk di seluruh kabupaten dan Kota Denpasar.

Keberadaan organisasi yang telah berkembang sejak tahun 1993 di Bali tersebut menjadi salah satu kekuatan perempuan Muslim dalam membangun masyarakat melalui jalur pendidikan dan sosial.

Mengembangkan Pendidikan dari Bali Barat hingga Bali Timur

Selain kegiatan keagamaan, Wanita Islam juga mengembangkan sayap pengabdian melalui Yayasan Pendidikan Bakti (YPB), badan otonom yang bergerak di bidang pendidikan anak usia dini.

Saat ini YPB telah mengelola sejumlah taman kanak-kanak di Kota Denpasar dan sekitarnya.

Namun pengembangan lembaga pendidikan tidak berhenti di sana.

Wanita Islam kini tengah mempersiapkan pembangunan unit pendidikan baru di Kabupaten Jembrana setelah memperoleh wakaf tanah untuk pengembangan lembaga pendidikan.

"Kami sedang mempersiapkan pembangunan dan pembentukan kepengurusan untuk sekolah baru di Jembrana," kata Sri Widianingsih.

Tidak hanya di Bali Barat, peluang pengembangan juga terbuka di Kabupaten Gianyar.

Menurutnya, terdapat rencana wakaf lahan seluas sekitar 2,5 are yang saat ini sedang dalam tahap penjajakan untuk pengembangan fasilitas pendidikan di wilayah tersebut.

Langkah ini menunjukkan bahwa pengabdian Wanita Islam tidak berhenti pada kegiatan seremonial keagamaan, melainkan bergerak menuju investasi jangka panjang melalui pendidikan generasi mendatang.

Menuju Musyawarah Nasional dan Kurban 2027

Memasuki tahun organisasi berikutnya, Wanita Islam akan menghadapi agenda penting berupa Musyawarah Nasional yang direncanakan berlangsung di Jakarta pada November mendatang.

Setelah itu, kepengurusan wilayah Bali akan melaksanakan musyawarah daerah sebagai bagian dari proses regenerasi dan penguatan organisasi.

Di bidang sosial keagamaan, kegiatan kurban tahunan juga dipastikan akan terus berlanjut.

Jika tahun ini berlangsung di Tabanan, maka tahun depan direncanakan dilaksanakan di Kabupaten Badung.

"Insya Allah tahun 2027 kegiatan kurban akan dilaksanakan di Badung dan kami sudah mendapat dukungan yang sangat baik dari berbagai pihak," ujarnya.

Membangun Perempuan yang Berdaya dan Bermanfaat

Di akhir wawancara, Sri Widianingsih menegaskan bahwa tujuan besar Wanita Islam bukan sekadar memperbanyak kegiatan organisasi, tetapi membangun perempuan Muslim yang berdaya, mandiri, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Ia berharap seluruh anggota terus memperkuat semangat kebersamaan, meningkatkan kapasitas diri, serta berperan aktif dalam kehidupan sosial dan keluarga.

"Harapan kami seluruh anggota Wanita Islam terus berpartisipasi membangun organisasi agar semakin maju, semakin bermanfaat, dan semakin hadir untuk masyarakat," tuturnya.

Bagi Wanita Islam Provinsi Bali, kurban hanyalah salah satu pintu pengabdian. Di baliknya terdapat cita-cita yang lebih besar: menghadirkan perempuan Muslim yang tangguh, melahirkan generasi yang berkualitas, serta memperkuat peran umat dalam pembangunan bangsa.

Dari Pantai Selabih, pesan itu bergema jelas: pengorbanan yang paling bermakna bukan hanya yang diberikan saat Idul Adha, tetapi yang terus dihadirkan setiap hari melalui pengabdian, pendidikan, dan pelayanan kepada sesama.

 (AMBAR) Donasi Suara Umat atas nama PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'