Detail Artikel

Hujan, Guci-Guci Tua, dan Senyum Tulus: Ramadhan yang Menyatukan 10 Ormas Peduli di Denpasar

Hujan, Guci-Guci Tua, dan Senyum Tulus: Ramadhan yang Menyatukan 10 Ormas Peduli di Denpasar

Denpasar — Senin, 23 Februari 2026.
Jam menunjukkan pukul lima kurang sore. Langit Denpasar baru saja menumpahkan hujan. Bumi masih basah, angin sisa gerimis menyisakan aroma tanah yang lembut dan segar.

Di depan Restaurant Bundo Kanduang, sebuah mobil Grab berwarna hitam berhenti perlahan. Dari dalamnya turun tiga anak yatim dan satu pengasuh. Wajah-wajah kecil itu memandang sekitar dengan campuran rasa ingin tahu dan harap.

Lantai masih licin oleh hujan. Angin sempat berembus kencang beberapa saat sebelumnya. Kami membantu mereka turun, memastikan langkah kecil itu aman. Setelah memastikan semua siap, barulah Grab berikutnya kami panggil untuk menuju lokasi acara.

Perjalanan singkat menuju Jl. Setiyaki No. 6 Denpasar terasa seperti peralihan dari satu bab ke bab berikutnya — dari ruang edukasi pagi hari menuju ruang kemanusiaan sore hari.


Rumah yang Menjadi Galeri Peradaban

Ketika tiba di kediaman Dr. (HC) Agung Tini Gorda, S.E., M.M., suasana sudah ramai. Tokoh-tokoh hebat, aktivis sosial, dan perwakilan sepuluh organisasi masyarakat telah hadir lebih dulu. Mereka menunggu bukan dengan formalitas, melainkan dengan kehangatan.

Rumah itu bukan sekadar bangunan. Ia seperti galeri kebudayaan yang hidup.

Kami duduk di ruang terbuka yang asri, dikelilingi guci-guci besar berukuran monumental. Beberapa bertuliskan lafaz dan aksara Cina, menunjukkan jejak peradaban lintas budaya. Di sudut lain berdiri patung kepala Buddha yang teduh, menatap tenang ke arah taman.

Di dinding utama tergantung lukisan besar perahu nelayan Jawa. Detailnya begitu halus — layar yang terkembang, ombak yang bergerak, dan langit senja yang diguratkan dengan warna keemasan. Lukisan itu seolah menjadi metafora sore itu: perjalanan, harapan, dan keteguhan.

Di seberang kami, ruang terbuka hijau dipasang tenda. Di bawahnya, para ibu-ibu hebat duduk berdampingan. Mereka adalah wajah-wajah kepedulian dari sepuluh lembaga sosial.

Ada Rotary Club, ada komunitas Anak Bangsa Ika Boga, dan berbagai ormas peduli lainnya. Tidak ada sekat. Tidak ada jarak.

Yang ada hanyalah senyum tulus, sapaan hangat, dan tatapan penuh perhatian.


Sepuluh Ormas, Satu Hati

Sebanyak sepuluh organisasi sosial bersinergi dalam kegiatan Berbuka Puasa Bersama Anak Yatim ini. LazisMi ICMI Bali melalui Alit dan Rahma diminta menyiapkan tiga anak yatim. Namun dalam kebersamaan itu, jumlah penerima santunan berkembang menjadi sebelas anak.

Ketika ketiganya yang baru turun dari mobil Grab itu memasuki area, beberapa ibu langsung berdiri menyambut. Ada yang membetulkan peci, ada yang merapikan jilbab kecil yang sedikit bergeser tertiup angin.

Sederhana. Namun hangatnya terasa nyata.

Di ruangan terbuka itu, anak-anak duduk dengan tertib. Mereka dikelilingi orang-orang yang bukan sekadar hadir, tetapi benar-benar peduli.


Dari Mindset ke Empati

Hari itu sebenarnya telah dimulai dengan pelatihan kewirausahaan bersama Ir. Hj. Nimmi Gulam, CSEP di Bundo Kanduang pada pagi harinya. Para pengusaha senior Bali berbicara tentang mindset, sistem, dan mental bertumbuh.

Sore harinya, semua teori tentang keberhasilan dan keberlanjutan menemukan maknanya dalam aksi.

Karena kewirausahaan sejati bukan hanya tentang pertumbuhan bisnis.
Ia tentang memberi dampak.

Dan di bawah tenda hijau, di antara guci-guci tua dan lukisan perahu nelayan, nilai itu menjelma nyata.


Hangat yang Tidak Dibuat-Buat

Menjelang Maghrib, suasana semakin akrab. Percakapan mengalir. Tawa kecil terdengar. Tidak ada aura protokoler yang kaku. Yang ada adalah kebersamaan yang organik.

Sepuluh ormas peduli sosial duduk bersama dalam satu hamparan niat baik. Senyum-senyum itu bukan untuk kamera. Ia lahir dari kesadaran bahwa Ramadhan adalah bulan untuk berbagi.

Anak-anak yatim yang awalnya tampak canggung perlahan mulai tersenyum. Mereka memegang amplop santunan dengan hati-hati. Beberapa memandang sekeliling, mungkin tak menyangka sore itu mereka berada di ruang seindah itu.

Hujan telah berhenti. Lantai mulai mengering. Namun jejak airnya masih terlihat — seperti pengingat bahwa rahmat sering turun sebelum keberkahan dimulai.


Ramadhan yang Mengikat Hati

Ketika adzan Maghrib berkumandang, seluruh hadirin berbuka bersama. Tidak ada lagi perbedaan status sosial. Pengusaha, aktivis, akademisi, relawan, dan anak-anak yatim duduk sejajar.

Di sanalah Ramadhan menemukan maknanya.

Bukan hanya pada ceramah.
Bukan hanya pada spanduk.
Bukan hanya pada seremoni santunan.

Tetapi pada tatapan tulus, pada tangan yang menggenggam kecil dengan lembut, pada kehangatan yang tidak dibuat-buat.

Hujan sore itu mungkin hanya berlangsung sebentar.
Namun kehangatan yang lahir dari kolaborasi sepuluh ormas peduli sosial akan jauh lebih lama tinggal dalam ingatan.

Dan di antara guci-guci tua, lukisan perahu nelayan, serta tenda hijau yang menaungi ibu-ibu hebat itu, sebelas anak yatim pulang dengan satu hal yang tak ternilai:

Mereka tahu, mereka tidak sendiri. (RAYD) Donasi Suara Umat atas nama PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'