Husnul Fahmi: Bali Rumah Bersama, Muhammadiyah Tumbuh Bersama Masyarakat
Husnul Fahmi: Bali Rumah Bersama, Muhammadiyah Tumbuh Bersama Masyarakat
DENPASAR — Di Pulau Dewata, dakwah
Muhammadiyah tumbuh bukan di ruang yang terpisah dari masyarakat. Ia hidup di
tengah denyut kehidupan Bali, berdampingan dengan tradisi, kebudayaan, dan
keyakinan yang telah mengakar jauh sebelum republik berdiri.
Di ruang
itulah Muhammadiyah belajar satu hal penting: menjadi bagian dari masyarakat
tanpa kehilangan identitas, serta menjaga keyakinan sembari merawat
persaudaraan kemanusiaan.
Pesan
tersebut disampaikan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Bali, Ir. H.
Husnul Fahmi, dalam Tabligh Akbar yang digelar Majelis Tabligh Pimpinan
Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Denpasar di Mushala Ahmad Dahlan, Komplek
Pendidikan Muhammadiyah Batanta, Denpasar, Ahad (4/10/2026).
Husnul
Fahmi mengawali sambutannya dengan rasa syukur karena keluarga besar
Muhammadiyah Bali dapat berkumpul dalam sebuah majelis ilmu. Ia menyambut
kehadiran warga Muhammadiyah dari berbagai unsur, termasuk pimpinan organisasi
otonom, majelis dan lembaga, pimpinan amal usaha, serta keluarga besar
Muhammadiyah di Kota Denpasar.
Namun, di
balik sambutan tersebut, ia membawa satu pesan yang lebih besar tentang
perjalanan Muhammadiyah di Bali.
Menurut
Husnul Fahmi, Muhammadiyah telah hadir di Bali sejak 1930, jauh sebelum
Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 1945. Rentang sejarah itu
menunjukkan bahwa Muhammadiyah bukanlah pendatang baru dalam kehidupan
masyarakat Bali.
Lebih dari
sembilan dekade berada di Pulau Dewata, Muhammadiyah tumbuh bersama masyarakat
setempat.
“Bali
merupakan rumah kita bersama,” tegasnya.
Kalimat itu
bukan sekadar ungkapan simbolik. Bagi Husnul Fahmi, kehidupan Muhammadiyah di
Bali telah memperlihatkan bahwa keberagamaan dan kebersamaan sosial dapat
berjalan beriringan.
Ia
menggambarkan hubungan warga Muhammadiyah dengan masyarakat Hindu di Bali
sebagai hubungan yang terawat dalam semangat toleransi, gotong royong, dan
persaudaraan.
Dalam
bahasa Bali, ia menyebut semangat kebersamaan itu sebagai bagian dari kehidupan
masyarakat yang saling menyama braya—memandang sesama sebagai saudara dalam
kehidupan bersama.
Tumbuh di Tengah Keberagaman
Salah satu
bukti paling nyata, menurut Husnul Fahmi, dapat dilihat dari lokasi amal usaha
Muhammadiyah yang berada di tengah-tengah lingkungan masyarakat Hindu.
Sekolah dan
fasilitas Muhammadiyah tidak berdiri di ruang yang terisolasi. Ia berada di
tengah kehidupan masyarakat, bahkan berdampingan dengan tempat-tempat yang
menjadi bagian dari kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat Bali.
Kondisi
tersebut, menurutnya, justru menjadi kekuatan dan berkah bagi Muhammadiyah.
Ia menyebut
keberadaan amal usaha Muhammadiyah yang berdampingan dengan lingkungan
masyarakat Hindu sebagai gambaran nyata bahwa hubungan sosial selama ini dapat
berjalan dengan baik.
Tidak ada
sekat yang harus diperbesar. Tidak ada perbedaan yang harus dipertentangkan.
Yang tumbuh
justru kesadaran bahwa kehidupan bersama membutuhkan saling menghormati.
“Bali
merupakan rumah kita bersama,” kembali menjadi pesan penting yang disampaikan
Husnul Fahmi.
Bagi
Muhammadiyah, rumah bersama itu bukan berarti menghapus perbedaan. Justru
karena berbeda, setiap pihak dituntut untuk belajar menghormati.
Dalam
konteks tersebut, toleransi bukan sekadar konsep yang berhenti dalam pidato. Ia
menjadi praktik keseharian—dalam bertetangga, mendidik anak, menjalankan amal
usaha, dan membangun hubungan sosial.
Tabligh Akbar sebagai Ruang Konsolidasi
Husnul
Fahmi kemudian mengarahkan perhatian kepada keluarga besar Muhammadiyah
Denpasar.
Ia meminta
agar kegiatan Tabligh Akbar tidak berhenti sebagai forum pengajian atau
pertemuan keagamaan. Lebih dari itu, kegiatan semacam ini perlu dimanfaatkan
sebagai ruang konsolidasi Persyarikatan.
Di tengah
jamaah yang hadir, terdapat berbagai unsur Muhammadiyah: Aisyiyah, Pemuda
Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Ikatan Pelajar
Muhammadiyah, Tapak Suci, serta berbagai majelis, lembaga dan amal usaha.
Bagi Husnul
Fahmi, keberagaman unsur tersebut adalah kekuatan.
Jika
seluruh potensi itu dapat bergerak dalam satu irama, Muhammadiyah di Bali akan
memiliki energi yang semakin besar untuk menjalankan dakwah dan amal usaha.
Karena itu,
konsolidasi bukan sekadar persoalan organisasi. Ia adalah upaya menyatukan
langkah agar seluruh unsur Persyarikatan tidak berjalan sendiri-sendiri.
“Ini
menjadi kekuatan bagi Muhammadiyah di Bali,” demikian pesan yang mengemuka dari
sambutannya.
Ia berharap
Muhammadiyah semakin solid, semakin terkonsolidasi, dan semakin mampu
memberikan manfaat bagi masyarakat.
Mimpi yang Menjadi Kenyataan: Universitas
Muhammadiyah di Bali
Dari
konsolidasi organisasi, Husnul Fahmi membawa jamaah pada kabar yang telah lama
dinantikan: cita-cita Muhammadiyah untuk memiliki perguruan tinggi di Bali
telah terwujud.
Ia
menyampaikan bahwa Bali International Muhammadiyah University (BIMU)
telah memiliki legalitas sebagai bagian dari Muhammadiyah.
Kehadiran
BIMU dipandang sebagai tonggak baru dalam perjalanan Persyarikatan di Bali.
Jika selama
ini Muhammadiyah dikenal melalui sekolah, lembaga sosial, dakwah, dan berbagai
amal usaha lainnya, maka kehadiran perguruan tinggi membuka babak baru:
membangun sumber daya manusia melalui pendidikan tinggi.
Husnul
Fahmi mengajak seluruh keluarga besar Muhammadiyah memberikan dukungan terhadap
BIMU. Ia berharap kampus tersebut dapat berkembang menjadi perguruan tinggi
besar sebagaimana sejumlah universitas Muhammadiyah yang telah lebih dahulu
tumbuh dan maju di berbagai daerah di Indonesia.
Dalam
proses pengembangannya, BIMU mendapat dukungan dan pendampingan dari Universitas
Muhammadiyah Surakarta (UMS). Husnul Fahmi juga menyampaikan bahwa Prof.
Dr. Harun Joko Prayitno mendapat amanah untuk turut mengawal pengembangan
perguruan tinggi Muhammadiyah tersebut di Bali.
Dengan
demikian, berdirinya BIMU bukanlah pekerjaan satu atau dua orang.
Ia
merupakan ikhtiar kolektif.
Ia
membutuhkan tangan yang bekerja, pikiran yang menyusun strategi, dan hati yang
bersedia menjadikan pendidikan sebagai jalan pengabdian.
Beasiswa Penuh dan Ajakan Membuka Pintu Kampus
Dalam
sambutannya, Husnul Fahmi juga menyampaikan kabar mengenai rencana peluncuran
BIMU yang akan digelar pada Senin berikutnya.
Ia
menyampaikan adanya kesempatan bagi calon mahasiswa untuk memperoleh beasiswa
penuh dan mengajak keluarga besar Muhammadiyah untuk mengambil kesempatan
tersebut.
Ajakan itu
disampaikan secara terbuka di hadapan jamaah Tabligh Akbar.
Bagi Husnul
Fahmi, keberadaan universitas tidak akan berarti banyak jika keluarga besar
Muhammadiyah sendiri tidak ikut menghidupkannya.
Karena itu,
ia mengajak anak-anak dan keluarga Muhammadiyah yang memiliki keinginan
melanjutkan pendidikan tinggi untuk mempertimbangkan BIMU sebagai bagian dari
masa depan pendidikan mereka.
Universitas,
dalam pandangannya, bukan hanya bangunan dan ruang kuliah. Ia adalah tempat
untuk menyiapkan generasi.
Dan di
Bali, Muhammadiyah sedang menanam salah satu benih penting itu.
Dari Jawa Tengah untuk Bali
Di
penghujung sambutannya, Husnul Fahmi menyampaikan apresiasi kepada Muhammadiyah
Jawa Tengah dan Universitas Muhammadiyah Surakarta atas dukungan yang diberikan
bagi perkembangan Muhammadiyah di Bali.
Dukungan
tersebut memperlihatkan bahwa Persyarikatan tidak mengenal batas-batas wilayah
ketika menyangkut kepentingan dakwah dan pengembangan amal usaha.
Apa yang
kuat di satu daerah dapat menjadi energi bagi daerah lain.
Apa yang
telah dibangun di Jawa dapat menjadi inspirasi bagi Bali.
Dan apa
yang sedang dirintis di Bali pada waktunya diharapkan dapat memberikan manfaat
kembali bagi masyarakat luas.
Dalam
konteks itu, BIMU bukan sekadar proyek kelembagaan. Ia adalah simbol dari
sebuah keberanian Muhammadiyah untuk terus membuka pintu baru.
Pintu
pendidikan.
Pintu
dakwah.
Pintu
pengabdian.
Dan pintu
masa depan.
Tabligh
Akbar di Mushala Ahmad Dahlan itu akhirnya tidak hanya berbicara tentang apa
yang telah dilakukan Muhammadiyah, tetapi juga tentang apa yang sedang dan akan
dikerjakan.
Ada sejarah
panjang sejak 1930.
Ada
hubungan sosial yang terus dirawat dengan masyarakat Bali.
Ada amal
usaha yang tumbuh di tengah keberagaman.
Ada
konsolidasi yang harus diperkuat.
Dan kini
ada universitas yang menunggu untuk dibesarkan bersama.
Bagi Husnul
Fahmi, semua itu bermuara pada satu kesadaran: Bali bukan sekadar tempat
Muhammadiyah berdiri. Bali adalah rumah bersama tempat Muhammadiyah tumbuh,
belajar, dan memberikan manfaat.
Di pulau
yang oleh banyak orang disebut Pulau Dewata itu, Muhammadiyah memilih untuk
hadir bukan sebagai menara yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari
lanskap kehidupan masyarakat.
Dakwah
menemukan jalannya melalui toleransi.
Konsolidasi
menemukan bentuknya melalui kebersamaan.
Dan masa
depan menemukan pintunya melalui pendidikan.
Dari Bali,
Muhammadiyah sedang menulis bab baru—pelan, tetapi dengan keyakinan bahwa
setiap amal yang dikerjakan dengan kesungguhan akan menemukan jejak manfaatnya
bagi generasi yang datang kemudian.
(RAYD) Donasi PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967



