Idul Fitri di Tengah Perbedaan: Merajut Maaf, Menjaga Persatuan
Idul Fitri di Tengah Perbedaan: Merajut Maaf, Menjaga Persatuan
Sholat Idul Fitri – Perumahan Tanah Bang Permai, Tabanan | 21 Maret 2026
Khatib: Ustadz Urcholis | Imam: Ustadz Hafitz
Tabanan – Pagi itu, langit masih menyisakan rintik hujan yang turun perlahan, seolah membasuh bumi dengan kelembutan. Matahari mengintip malu dari balik awan, memancarkan cahaya tipis yang berpadu dengan aroma tanah basah.
Pagi Idul Fitri hadir dengan suasana yang syahdu, sederhana, namun sarat makna.
Di Perumahan Tanah Bang Permai, jamaah mulai berdatangan sejak pagi. Saf demi saf terisi perlahan, menghadirkan lautan manusia yang larut dalam haru dan bahagia.
Gema takbir bersahutan, menjadi ekspresi syukur atas nikmat yang tak terhingga.
Pakaian putih mendominasi, melambangkan kesucian hati setelah sebulan ditempa Ramadan. Anak-anak hadir di antara orang tua mereka, menciptakan pemandangan hangat dan penuh cinta.
Ada yang menggenggam tangan ibunya, ada pula yang berjalan di samping ayahnya, menjadi bagian dari keindahan pagi itu.
Perbedaan yang Menjadi Renungan
Namun, Idul Fitri tahun ini menghadirkan satu realitas yang kembali terulang: perbedaan dalam penentuan hari raya.
kami ingin menyampaikan dengan penuh keprihatinan, tanpa menyalahkan pihak manapun:
“Melakukan penentuan Idul Fitri dengan metode yang berbeda dan berharap hasil yang sama adalah sebuah keniscayaan. Namun, hasil yang sama tetap bisa dicapai dengan cara yang berbeda, yaitu dengan mengedepankan persatuan umat Islam.”
Perbedaan ini bukan untuk dipertajam, melainkan untuk direnungkan.
Sampai kapan umat akan terus berada dalam perbedaan yang berulang, sementara persatuan adalah tujuan yang lebih besar?
Pesan ini semoga menggema, menyentuh sisi terdalam jamaah yang hadir.
Khutbah: Hakikat Memaafkan
Memasuki inti khutbah, Ustadz Urcholis mengangkat tema besar Idul Fitri: saling memaafkan sebagai jalan menyempurnakan ibadah Ramadan.
Beliau mengingatkan bahwa manusia tidak pernah lepas dari kesalahan.
Kadang lisan melukai tanpa disadari, kadang sikap menyakiti tanpa disengaja.
Karena itu, meminta maaf dan memberi maaf bukan sekadar tradisi, tetapi kebutuhan spiritual.
Beliau mengutip pesan Nabi tentang orang yang bangkrut di akhirat:
bukan yang tidak memiliki harta, tetapi yang datang dengan banyak pahala namun habis karena menzalimi orang lain.
Pahala sholat, zakat, puasa, bahkan haji, bisa lenyap karena:
- mencela orang lain
- mengambil hak orang lain
- menyakiti sesama
Inilah peringatan keras bahwa dosa kepada sesama manusia tidak akan selesai tanpa saling memaafkan.
Memaafkan: Kemuliaan yang Sering Disalahpahami
Khatib menegaskan satu hal penting:
Memberi maaf bukan tanda kelemahan, tetapi puncak kemuliaan.
Banyak yang mengira bahwa memaafkan berarti kalah.
Padahal justru sebaliknya, memaafkan adalah kekuatan jiwa yang tidak dimiliki semua orang.
Beliau menyampaikan bahwa:
- memaafkan melahirkan ketenangan jiwa
- menghapus beban batin
- membangun hubungan sosial yang harmonis
Bahkan lebih tinggi lagi, Islam mengajarkan:
membalas keburukan dengan kebaikan.
Kisah yang Menggetarkan
Untuk memperdalam makna, beliau menyampaikan sebuah kisah:
Seorang lelaki tua berusaha menyelamatkan seekor kalajengking yang jatuh ke air. Setiap kali ditolong, kalajengking itu justru menyengatnya. Namun ia tetap menolong hingga berhasil.
Ketika ditanya mengapa tetap menolong, ia menjawab:
“Karakter kalajengking adalah menyengat, dan karakterku adalah menolong. Mengapa aku harus mengubah kebaikanku karena keburukannya?”
Pesan ini mengguncang kesadaran jamaah.
Bahwa kita tidak boleh kehilangan akhlak hanya karena perlakuan orang lain.
Puncak Idul Fitri: Kembali Suci, Kembali Bersatu
Khutbah ditutup dengan ajakan yang mendalam:
Idul Fitri bukan hanya tentang pakaian baru, tetapi tentang hati yang diperbarui.
Bukan hanya tentang kemenangan, tetapi tentang keikhlasan untuk memaafkan.
Takbir berkumandang semakin khidmat. Jamaah berdiri, melaksanakan sholat dengan penuh ketundukan.
Setelah salam terakhir, suasana berubah menjadi hangat dan penuh haru.
Jamaah saling bersalaman, saling memeluk, saling memaafkan.
Air mata tak jarang mengalir, bukan karena kesedihan, tetapi karena kelegaan.
Dosa dilepaskan, dendam diluruhkan, dan hati kembali diringankan.
Penutup
Di tengah perbedaan yang masih ada, Idul Fitri mengajarkan satu hal yang tidak boleh hilang:
persatuan, kasih sayang, dan keikhlasan untuk saling memaafkan.
Karena pada akhirnya, kemenangan sejati bukan pada hari rayanya,
melainkan pada hati yang mampu kembali bersih dan tetap menjaga persaudaraan. (RAYD)



