Detail Artikel

Ikhtiar Sunyi yang Menggema: Perjuangan Pendidikan dari Bali untuk Indonesia

Ikhtiar Sunyi yang Menggema: Perjuangan Pendidikan dari Bali untuk Indonesia

Denpasar — Di tengah arus besar perbincangan tentang pembangunan dan kemajuan bangsa, suara-suara sunyi yang bekerja di akar rumput kerap luput dari sorotan. Namun, dari Bali, sebuah ikhtiar tulus kembali mengemuka—bukan dalam bentuk retorika, melainkan kerja nyata. Melalui wawancara bersama pemerhati pendidikan dan aktivis sosial, Wasit Pamungkas, tergambar jelas potret kegelisahan sekaligus harapan besar bagi masa depan pendidikan Indonesia.

Dalam perbincangan bersama media Suara Umat dan Radio Mekantara Bali, Wasit membuka fakta yang menggugah kesadaran: tingkat pendidikan tinggi di Indonesia masih berada pada angka yang jauh dari ideal. Dari sekitar 275 juta penduduk, hanya sebagian kecil yang berhasil menempuh pendidikan sarjana.

Kalau sebuah negara ingin maju, setidaknya 30 persen penduduknya harus berpendidikan S1. Sementara kita masih di kisaran yang sangat rendah. Ini menjadi pekerjaan besar bersama,” ungkapnya dengan nada serius namun penuh harap.

Pendidikan sebagai Jalan Perubahan

Bagi Wasit, pendidikan bukan sekadar capaian akademik, melainkan jalan transformasi sosial. Ia melihat langsung bagaimana banyak anak-anak muda memiliki semangat tinggi untuk belajar, tetapi terhalang oleh keterbatasan ekonomi dan akses informasi.

Di titik inilah ia mengambil peran. Bukan sebagai pejabat atau pemegang kebijakan, melainkan sebagai jembatan—menghubungkan harapan dengan peluang.

Selama dua tahun terakhir, ia aktif menjalin kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi, membuka akses beasiswa bagi masyarakat kurang mampu. Hasilnya tidak kecil: hampir 60 anak berhasil mendapatkan beasiswa pendidikan tinggi dari program pemerintah.

Saya tidak mengambil keuntungan apa pun. Ini panggilan hati. Karena saya pernah berada di posisi yang sama—punya mimpi besar, tapi tidak punya biaya,” tuturnya, lirih namun tegas.

Melawan Hambatan, Menyalakan Harapan

Perjalanan ini tentu tidak mudah. Tantangan datang dari berbagai arah—mulai dari keterbatasan akses informasi di masyarakat hingga stigma terhadap birokrasi pendidikan yang dianggap rumit dan mahal.

Namun, bagi Wasit, setiap hambatan adalah ruang untuk memperbaiki sistem. Ia mendorong kampus-kampus mitra untuk benar-benar memberikan akses pendidikan yang inklusif, bahkan hingga pembebasan biaya bagi mahasiswa penerima beasiswa.

Kalau masyarakat sudah terbebani sejak awal, semangat belajar mereka bisa padam. Maka sistem harus hadir untuk menguatkan, bukan melemahkan,” ujarnya.

Dalam menjalankan misinya, ia tidak sendiri. Jaringan organisasi sosial, keagamaan, dan kepemudaan menjadi kekuatan kolektif dalam menyebarkan informasi dan menjaring calon penerima manfaat.

Dari Pengalaman Pribadi ke Gerakan Kolektif

Yang membuat perjuangan ini memiliki daya hidup adalah akar personalnya. Wasit bukan sekadar aktivis—ia adalah bagian dari cerita itu sendiri.

Dulu, ia adalah anak muda dengan mimpi besar yang terhambat kondisi ekonomi. Hari ini, ia memilih menjadi jalan bagi generasi berikutnya agar tidak mengalami hal yang sama.

“Kalau kita ingin mengubah bangsa, maka ubahlah diri kita melalui pendidikan. Dari situlah perubahan akan menjalar ke keluarga, masyarakat, hingga negara,” tegasnya.

Menuju Generasi Emas Indonesia

Menjelang peringatan Hari Pendidikan Nasional, pesan Wasit terasa semakin relevan. Ia mengajak generasi muda untuk tidak menyerah pada keadaan dan terus mengejar pendidikan sebagai bekal masa depan.

Ia juga mendorong pemerintah dan pemangku kepentingan untuk memastikan distribusi beasiswa lebih tepat sasaran dan merata, agar tidak ada lagi potensi yang terabaikan.

“Ketika angka pendidikan tinggi kita mencapai 30 persen, maka pintu menuju Indonesia maju akan terbuka lebih lebar. Dan itu harus kita mulai hari ini,” pungkasnya.

Di tengah gemerlap wacana besar, kisah seperti ini mengingatkan kita bahwa perubahan sejati sering lahir dari ketulusan yang bekerja dalam diam. Dari Bali, sebuah gerakan kecil terus tumbuh—menyalakan cahaya bagi generasi yang akan datang.(AMBAR & RAYD)

 

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'