IKMS Bali dan Denyut Rantau: Ketika Adat, Persatuan, dan Sejarah Menjadi Satu Nafas
IKMS Bali dan Denyut Rantau: Ketika Adat,
Persatuan, dan Sejarah Menjadi Satu Nafas
Denpasar, 19 April 2026 Suara Umat.id
Di tanah yang jauh dari asal, di antara riuh budaya yang
berlapis-lapis, urang Minang kembali meneguhkan dirinya—bukan sebagai tamu,
melainkan sebagai bagian dari harmoni. Pelantikan pengurus Ikatan Keluarga
Minang Saiyo (IKMS) Bali periode 2026–2031 menjelma lebih dari sekadar agenda
organisasi; ia menjadi panggung tempat nilai, sejarah, dan masa depan saling
bersua.
Di sela-sela rangkaian acara yang berlangsung khidmat dan
meriah itu, Media Suara Umat bersama Radio Megantara Bali berkesempatan
berbincang langsung dengan Bunda Harnaili Mahyeldi, yang hadir sebagai
representasi Sumatera Barat. Wawancara tersebut membuka jendela pemahaman
tentang makna perantauan dalam perspektif Minangkabau.
Dengan penuh ketenangan, Bunda Harnaili menyampaikan rasa
syukur atas kekompakan masyarakat Minang di Bali. Ia menilai kehadiran IKMS
sebagai wadah strategis yang mampu merangkul seluruh elemen perantau.
Di mana pun urang Minang berada, selalu ada ikatan
yang menyatukan. Permasalahan diselesaikan bersama, beban dipikul bersama,
ujarnya.
Ia kemudian menegaskan kembali falsafah hidup Minangkabau yang
menjadi dasar kekuatan sosial masyarakatnya:
Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang.
Filosofi ini, menurutnya, tidak hanya hidup dalam kata, tetapi
nyata dalam tindakan—terlihat dari kemampuan masyarakat Minang membangun
fasilitas bersama di rantau, dari gedung hingga masjid, yang lahir dari
kebersamaan.
Menariknya, ia juga menjelaskan fenomena yang kerap menjadi
pertanyaan: mengapa tidak ada “kampung Minang” di perantauan.
“Orang
Minang tidak membangun sekat. Mereka menyatu dengan masyarakat setempat—lintas
suku, agama, dan budaya,” jelasnya.
Di Bali, hal ini terlihat dari keberagaman latar belakang
anggota IKMS yang berasal dari berbagai penjuru, namun berhimpun dalam satu
semangat persatuan.
Dalam perspektif yang lebih luas, Bunda Harnaili mengaitkan
semangat perantauan dengan sejarah panjang kontribusi Minangkabau terhadap
bangsa. Ia menyinggung peran tokoh-tokoh nasional seperti Bung Hatta, serta
kiprah Sumatera Barat dalam menjaga eksistensi negara melalui Pemerintahan
Darurat Republik Indonesia (PDRI).
Minangkabau tidak hanya melahirkan perantau,
tetapi juga pejuang pemikiran dan penjaga negeri,
ungkapnya.
Namun, menurutnya, kekuatan sejati masyarakat Minang tidak
hanya terletak pada sejarah besar, melainkan pada nilai-nilai yang ditanamkan
sejak dalam keluarga. Ia menekankan pentingnya pendidikan sebagai warisan
utama.
Biarlah hidup sederhana, tetapi anak harus
berilmu, tuturnya, menggambarkan semangat orang tua Minang yang rela
berkorban demi masa depan generasi.
Dalam hal ini, peran perempuan menjadi sangat sentral.
Ibu adalah madrasah pertama,
tegasnya.
Dalam budaya Minangkabau, bundo kanduang bukan hanya penjaga
rumah, tetapi penjaga nilai, moral, dan identitas.
Ia juga menyoroti pentingnya menghidupkan kembali fungsi surau
sebagai pusat pendidikan karakter—tempat anak-anak belajar agama, adat, dan
ketangguhan hidup.
Keluarga adalah fondasi. Dari sanalah lahir
generasi yang akan menjaga adat dan bangsa, tambahnya.
Di akhir wawancara, pesan yang disampaikan terasa sederhana,
namun mengandung makna yang dalam:
Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.
Menurutnya, prinsip ini menjadi kunci keberhasilan perantau
Minang dalam membangun harmoni di mana pun berada. Ia menekankan pentingnya
kolaborasi dengan pemerintah, masyarakat lokal, dan seluruh elemen bangsa.
Kita tidak bisa berjalan sendiri. Kita harus
menjadi bagian dari solusi, menjadi perekat dalam keberagaman,
katanya.
Pelantikan IKMS Bali hari itu pun menemukan maknanya yang
utuh. Ia bukan sekadar pergantian kepemimpinan, melainkan penegasan arah—bahwa
di tengah arus zaman yang terus berubah, nilai-nilai adat tetap menjadi kompas.
Di rantau, di bawah langit yang berbeda, urang Minang terus
menanam jejaknya:
bukan untuk mendominasi, tetapi untuk menyatu;
bukan untuk menonjolkan diri, tetapi untuk memberi arti.
Dan dari Bali, sebuah pesan kembali mengalir ke seluruh
penjuru negeri—
bahwa persatuan tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari
kesediaan untuk saling menguatkan. (AMBAR)



