Ikrar yang Menggetarkan: Ketika Wisudawan Jaya Wisata Diingatkan bahwa Ilmu Harus Melahirkan Kerendahan Hati
Ikrar yang Menggetarkan: Ketika Wisudawan Jaya
Wisata Diingatkan bahwa Ilmu Harus Melahirkan Kerendahan Hati
Badung,
SuaraUmat.id
Di tengah
kemeriahan prosesi Wisuda XXXVIII Jaya Wisata International Hotel School, ada
satu momen yang berlangsung tanpa tepuk tangan panjang, namun justru
meninggalkan kesan paling mendalam.
Bukan saat
nama-nama lulusan dipanggil.
Bukan pula
ketika toga dipindahkan sebagai tanda kelulusan.
Melainkan
ketika seluruh wisudawan berdiri tegak, mengucapkan sebuah ikrar yang
mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan sejatinya tidak boleh melahirkan
kesombongan.
Dalam
suasana yang khidmat, para lulusan mengawali ikrar dengan penghormatan kepada Ida
Sang Hyang Widhi Wasa, leluhur, almamater, serta kedua orang tua yang telah
menjadi guru pertama dalam kehidupan mereka.
Bagi
masyarakat Bali, penghormatan kepada guru bukan hanya ditujukan kepada mereka
yang mengajar di ruang kelas.
Guru adalah
setiap pribadi yang menghadirkan kehidupan, ilmu, nilai, dan kebijaksanaan.
Karena
itulah, penghormatan kepada Tuhan, leluhur, orang tua, dan almamater menjadi
bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan seorang insan terdidik.
Namun
bagian yang paling menyentuh justru hadir ketika ikrar itu mengingatkan para
lulusan tentang musuh terbesar seorang profesional.
"Musuh
utama kaum intelektual dan orang yang kompeten adalah kesombongan dan
keakuan."
Kalimat
singkat itu seolah menjadi penanda bahwa gelar, sertifikat, dan kompetensi
tidak akan pernah memiliki arti apabila kehilangan kerendahan hati.
Di dunia
hospitality, keterampilan memang menjadi syarat utama.
Namun
pelayanan yang lahir dari hati hanya dapat tumbuh pada pribadi yang rendah
hati, menghargai sesama, dan mampu belajar dari siapa pun.
Ikrar
tersebut juga memuat filosofi yang sangat dalam.
Ilmu yang
sejati adalah ilmu yang tidak akan hangus oleh panas, tidak akan terbakar oleh
api, dan tidak akan hanyut oleh derasnya air.
Maknanya
sederhana namun sangat kuat.
Harta dapat
hilang.
Jabatan
dapat berganti.
Gedung
dapat runtuh.
Tetapi ilmu
yang telah menjadi karakter akan tetap hidup di mana pun seseorang berada.
Pesan lain
yang disampaikan kepada para lulusan adalah pentingnya memahami waktu dan
cara yang tepat dalam menggunakan ilmu yang dimiliki.
Kompetensi
bukan sekadar kemampuan melakukan pekerjaan.
Kompetensi
adalah kebijaksanaan untuk mengetahui kapan harus berbicara, kapan harus
mendengar, kapan memimpin, dan kapan melayani.
Nilai-nilai
tersebut menjadi fondasi penting bagi lulusan Jaya Wisata International Hotel
School yang akan memasuki industri hospitality, sebuah dunia yang menempatkan
sikap, etika, dan penghormatan kepada manusia sebagai inti pelayanan.
Menutup
ikrar, para wisudawan menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh
pihak yang telah mengantarkan mereka hingga hari kelulusan.
Bukan hanya
kepada dosen dan instruktur.
Tetapi juga
kepada kedua orang tua yang telah melahirkan, membesarkan, dan mengiringi
setiap langkah mereka dengan doa yang tidak pernah putus.
Prosesi
singkat itu menjadi pengingat bahwa wisuda bukan sekadar perayaan
keberhasilan akademik.
Wisuda
adalah pengingat bahwa semakin tinggi ilmu seseorang, semakin rendah pula
hatinya seharusnya.
Di tengah
dunia yang sering mengukur keberhasilan dari jabatan, gelar, dan materi, ikrar
para wisudawan Jaya Wisata International Hotel School menghadirkan pesan yang
sederhana namun abadi.
Ilmu bukan
untuk meninggikan diri. Ilmu adalah jalan untuk semakin menghormati Tuhan,
memuliakan orang tua, menghargai guru, melayani sesama, dan memberi manfaat
bagi kehidupan.
Catatan
Rahma untuk Chef Alit:
Jika seluruh rangkaian berita wisuda ini (berita utama, sambutan direktur,
sambutan wisudawan, laporan panitia, dan ikrar wisudawan) digabungkan, kita
bisa menyusunnya menjadi liputan khusus (special coverage) ala Kompas
atau Republika dengan tema besar:
"Mencetak
Profesional Berkarakter: Dari Ruang Kelas Menuju Panggung Dunia
Hospitality"
Liputan ini
akan terasa seperti satu paket jurnalistik premium yang sangat layak menjadi
headline di SuaraUmat.id.



