Detail Artikel

Ilham Habibie: Hilirisasi Industri Pangan Jadi Kunci Indonesia Menuju Negara Maju

 Ilham Habibie: Hilirisasi Industri Pangan Jadi Kunci Indonesia Menuju Negara Maju


SURABAYA, Suara Umat.id – Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan kekayaan sumber daya alam untuk mencapai cita-cita Indonesia Emas 2045. Transformasi menuju negara maju membutuhkan industri pengolahan yang kuat, penguasaan teknologi, inovasi, serta ekosistem usaha yang mampu menciptakan nilai tambah dari komoditas dalam negeri.

Pesan strategis tersebut disampaikan Ketua Umum Majelis Pengurus Pusat (MPP) Ikatan Saudagar Muslim se-Indonesia (ISMI), Dr.-Ing. Ilham A. Habibie, MBA, dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) ISMI 2026 di Hotel Shangri-La, Surabaya, Jawa Timur, 27–28 Oktober 2026.

Dalam pemaparannya mengenai hilirisasi dan penguatan industri pangan, Ilham mengingatkan bahwa Indonesia Emas bukan semata-mata tentang peningkatan pendapatan nasional, melainkan juga tentang kualitas manusia, kesehatan, pendidikan, inovasi, dan profesionalitas tata kelola pemerintahan.

Menurutnya, negara maju bukanlah sebuah status yang dapat dipertahankan secara otomatis. Perubahan geopolitik, dinamika ekonomi dunia, dan perkembangan teknologi dapat mengubah posisi suatu negara apabila tidak diantisipasi dengan kesiapan sumber daya manusia dan daya saing industri.

Karena itu, Indonesia harus membangun fondasi ekonomi yang kokoh. Salah satu strategi penting yang perlu diperkuat ialah industrialisasi, dengan hilirisasi sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari proses tersebut.

“Hilirisasi tidak sama dengan industrialisasi, tetapi merupakan bagian dari industrialisasi,” demikian pokok pemikiran Ilham dalam menjelaskan pentingnya membangun industri yang tidak berhenti pada pengolahan awal bahan mentah.

Kopi: Contoh Nyata Rantai Nilai Industri Pangan

Untuk menjelaskan konsep tersebut, Ilham mengambil kopi sebagai contoh komoditas yang memiliki potensi ekonomi sangat luas.

Menurutnya, kopi tidak semestinya hanya dipandang sebagai biji hasil panen yang kemudian dijual. Di balik secangkir kopi terdapat rangkaian proses panjang yang membuka peluang usaha, mulai dari pembibitan, budidaya, pemetikan, pengeringan, seleksi, penyangraian (roasting), pengolahan, pencampuran (blending), hingga pengemasan dan pemasaran.

Setiap tahapan menghadirkan kesempatan untuk menciptakan nilai tambah.

Indonesia mengenal beragam jenis kopi, antara lain arabika, robusta, dan liberika. Keanekaragaman tersebut dapat dikembangkan melalui inovasi produk, teknologi pengolahan, serta kreativitas dalam menghasilkan karakter rasa yang berbeda.

Ilham juga menyoroti peluang pengembangan produk kopi melalui metode pengolahan yang beragam, termasuk kopi organik, kopi berdasarkan asal daerah (single origin), maupun kopi campuran (blended coffee).

Kreativitas dalam mengolah dan memadukan karakter kopi dapat menjadi keunggulan bisnis sekaligus membuka ruang bagi produk Indonesia untuk menjangkau selera pasar internasional.

Ia mencontohkan, selera konsumen Jerman, Italia, dan Indonesia tidak selalu sama. Karena itu, pelaku usaha perlu memahami karakter pasar tujuan sebelum menentukan formulasi produk yang akan dipasarkan atau diekspor.

Dengan demikian, industri kopi tidak cukup hanya mengandalkan hasil kebun. Diperlukan kemampuan membaca pasar, mengembangkan produk, menguasai proses produksi, serta membangun merek yang memiliki identitas dan daya saing.

Teknologi Digital dan Transparansi dari Kebun hingga Cangkir

Salah satu gagasan penting yang ditekankan Ilham adalah penerapan traceability atau keterlacakan produk.

Dalam industri pangan, konsumen tidak hanya membutuhkan produk yang menarik dan memiliki cita rasa baik, tetapi juga kepastian mengenai asal-usul, proses produksi, dan kualitasnya.

Melalui teknologi digital, perjalanan kopi dapat direkam sejak dari kebun, proses pengumpulan, pengolahan, penyangraian, pencampuran, hingga menjadi produk akhir.

Ilham menggambarkan pemanfaatan QR Code sebagai salah satu instrumen untuk mencatat setiap tahapan tersebut. Petani dan pelaku usaha dapat melakukan pemindaian pada setiap perpindahan proses sehingga riwayat produk tersimpan dalam sistem.

Teknologi blockchain juga dapat menjadi salah satu pilihan untuk mendukung transparansi data dan memperkuat kepercayaan terhadap informasi asal-usul produk.

Keterlacakan bukan sekadar urusan teknologi, melainkan bagian dari jaminan mutu, keamanan pangan, dan kepercayaan konsumen.

Dengan sistem tersebut, apabila ditemukan persoalan kualitas atau dugaan kontaminasi pada suatu produk, pelaku industri dapat menelusuri tahapan yang berkaitan dengan masalah tersebut secara lebih terarah.

Ilham juga mengingatkan bahwa kualitas produk harus didukung pengemasan yang tepat. Kemasan bukan hanya berfungsi melindungi produk, tetapi juga menjadi bagian dari identitas merek dan daya tarik konsumen.

Penggunaan bahan kemasan yang lebih ramah lingkungan, termasuk alternatif berbasis kertas yang sesuai dengan karakter produk, dapat menjadi pertimbangan dalam pengembangan industri pangan berkelanjutan.

Perubahan Iklim Menjadi Tantangan Produksi Pangan

Di luar persoalan teknologi dan pemasaran, Ilham turut mengingatkan tantangan perubahan iklim yang berpotensi memengaruhi produksi komoditas pertanian, termasuk kopi.

Pergeseran pola musim, ketidakpastian curah hujan, dan periode kemarau yang lebih panjang dapat memengaruhi produktivitas tanaman.

Situasi tersebut menuntut pelaku usaha dan petani untuk tidak lagi mengandalkan pola produksi konvensional tanpa pembaruan.

Pengembangan varietas yang sesuai dengan kondisi lingkungan, pengelolaan air, sistem irigasi, serta penerapan teknologi pertanian menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan produksi.

Industri pangan yang kuat harus dimulai dari sektor hulu yang tangguh, bukan hanya dari pabrik pengolahan dan produk yang siap dipasarkan.

Ilham menilai, persoalan pertanian harus dilihat secara bersamaan dengan peluang penyelesaiannya. Setiap tantangan membutuhkan kreativitas, inovasi, dan kolaborasi lintas sektor.

Kolaborasi Pengusaha, Akademisi, dan Pemerintah

Lebih jauh, Ilham menegaskan bahwa pembangunan industri tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri.

Negara maju memiliki karakter kolaborasi lintas sektor. Dunia usaha perlu membangun hubungan dengan perguruan tinggi, lembaga penelitian, pemerintah, lembaga pembiayaan, dan berbagai mitra strategis.

Dalam konteks industri kopi, perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui penelitian varietas tanaman, teknologi pengolahan, metode irigasi, pemupukan, hingga peningkatan kualitas pascapanen.

Sementara itu, pengusaha berperan menghubungkan hasil penelitian dengan kebutuhan pasar dan peluang investasi.

Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mengubah persoalan produksi menjadi inovasi yang memiliki manfaat ekonomi nyata.

Menurut Ilham, tujuan akhir pembangunan industri bukan sekadar menghasilkan keuntungan sesaat. Bisnis harus menguntungkan agar dapat bertahan, tetapi keberlanjutannya juga harus memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas kepada masyarakat.

Ia mengajak para saudagar untuk melihat komoditas pangan secara lebih menyeluruh. Sebuah produk yang tampak sederhana di hadapan konsumen sesungguhnya memiliki ekosistem panjang yang melibatkan petani, pengolah, penyedia teknologi, distributor, pemilik merek, hingga jaringan pemasaran.

Di setiap mata rantai tersebut terdapat peluang bagi pengusaha untuk berpartisipasi dan menciptakan nilai tambah.

ISMI Dorong Jejaring Saudagar Menjadi Kekuatan Ekonomi Nyata

Gagasan yang disampaikan Ilham sejalan dengan arah penyelenggaraan Rakornas ISMI 2026 yang mengangkat tema Hilirisasi Pangan dan Penguatan Industri Nasional.

Rangkaian kegiatan tersebut berlangsung melalui Rakornas, pelantikan pengurus ISMI Orwil Jawa Timur periode 2026–2031, KIBAR 5 (Kolaborasi Bisnis Antar Regional), serta Expo dan workshop.

Forum ini dirancang untuk mempertemukan saudagar, pelaku usaha, komunitas, pemerintah, akademisi, dan mitra strategis guna membangun kerja sama ekonomi yang lebih konkret.

Salah satu agenda yang menjadi perhatian adalah pengembangan Coffee Traceability, yang diarahkan untuk memperkuat keterlacakan asal-usul kopi Nusantara melalui dukungan sertifikasi dan teknologi digital.

Selain itu, agenda business matching menjadi ruang pertemuan antara pemilik komoditas, pengolah, calon pembeli, dan investor untuk membuka peluang kemitraan serta perdagangan antardaerah.

Bagi ISMI, kekuatan jejaring saudagar harus bergerak melampaui pertemuan dan silaturahmi, menuju kolaborasi bisnis yang menghasilkan transaksi, investasi, lapangan kerja, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Pada akhirnya, cita-cita Indonesia Emas tidak cukup dibangun dengan menjual kekayaan alam. Indonesia harus mampu mengolah, mengembangkan, dan memasarkan hasil produksinya dengan standar kualitas yang kompetitif.

Dari kebun kopi hingga secangkir minuman, dari hasil pertanian hingga industri pangan modern, setiap proses menyimpan peluang untuk membangun kemandirian ekonomi.

Hilirisasi menjadi jalan untuk memastikan bahwa nilai tambah kekayaan Indonesia tidak berhenti di tangan pembeli bahan mentah, tetapi tumbuh di dalam negeri dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat Indonesia.

  (RAYD) Donasi PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'