Isi Ceramah Kyai H. Mustain: Meneladani Cinta Rasulullah SAW
SUARA UMAT, Bismillahirrahmanirrahim. Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT, yang telah memberikan kita kesempatan untuk berkumpul dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Sholawat serta salam marilah kita haturkan kepada junjungan kita, Nabi besar Muhammad SAW, yang membawa risalah cinta dan kedamaian bagi seluruh umat manusia.
Pada malam yang penuh berkah ini, izinkan saya mengingatkan bahwa cinta kepada Rasulullah tidak seharusnya kita ungkapkan hanya saat Maulid saja. Sepanjang hari, sepanjang waktu, sholawat harus senantiasa dilantunkan dari lisan kita sebagai wujud cinta dan penghormatan kepada Rasulullah SAW. Namun, cinta ini tidak hanya sebatas lisan, melainkan harus diwujudkan dengan tindakan—dengan mengikuti segala sunnah beliau dan mengkaji setiap ajaran yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW.
Sebagai pembuka, mari kita bersama-sama menyanyikan lagu yang telah dihafal anak-anak kita sejak kecil, bahkan sejak di taman kanak-kanak, lagu Rohatil Athyaru Tasydu—lagu kelahiran Nabi Muhammad SAW yang penuh dengan rasa cinta dan kerinduan.
Nabi Muhammad SAW lahir dalam keadaan yang penuh dengan tanda-tanda kebesaran Allah. Ketika beliau dilahirkan, berbagai peristiwa luar biasa terjadi di berbagai penjuru dunia. Api abadi yang selama ribuan tahun menyala di Persia padam dengan sendirinya, kuil-kuil di Romawi runtuh, tiang-tiang besar yang menjadi simbol kekuatan kekaisaran jatuh. Semua itu adalah tanda-tanda bahwa seorang nabi yang akan membawa perubahan besar untuk dunia baru saja lahir.
Kita juga tidak bisa melupakan kisah Abrahah, seorang penguasa Yaman, yang berambisi besar untuk menjadikan negerinya sebagai pusat ibadah. Ia membangun sebuah bangunan mirip Ka'bah, dengan harapan orang-orang akan berkunjung ke Yaman. Namun, tak seorang pun yang tertarik. Maka, Abrahah merencanakan cara keji untuk menarik perhatian: ia berencana menghancurkan Ka'bah di Mekkah agar orang-orang terpaksa beralih ke tempat ibadah yang ia bangun.
Dalam upayanya menuju Mekkah, Abrahah menyandera 200 unta milik Abdul Muthalib, kakek Nabi Muhammad. Saat Abdul Muthalib menemui Abrahah untuk meminta unta-unta itu dikembalikan, Abrahah merasa aneh mengapa Abdul Muthalib lebih mementingkan unta daripada Ka'bah. Abdul Muthalib menjawab, “Unta-unta ini adalah milikku, sedangkan Ka'bah adalah milik Allah. Biarlah Allah yang menjaga rumah-Nya.” Dan benar saja, sebelum Abrahah dapat menghancurkan Ka'bah, Allah menurunkan burung-burung Ababil yang membawa batu-batu dari neraka. Inilah yang diabadikan dalam Surat Al-Fiil, sebagai pelajaran tentang kebesaran dan perlindungan Allah.
Cinta kepada Rasulullah tidak hanya diungkapkan melalui peringatan Maulid. Seperti kisah Abu Lahab, yang meskipun menjadi musuh besar Islam, mendapatkan keringanan siksa setiap hari Senin. Mengapa? Karena ketika Nabi Muhammad SAW lahir—yang merupakan keponakannya sendiri—Abu Lahab merasa senang dan memerdekakan seorang budaknya. Bahkan dalam kebencian dan kekafiran, ada sedikit bentuk kegembiraan terhadap kelahiran Nabi, dan Allah memberikan keringanan atas hal tersebut.
Namun, inti dari ajaran Nabi Muhammad SAW adalah menebarkan cinta kepada sesama. Tidak ada contoh yang lebih besar selain kisah Nabi menyuapi seorang Yahudi buta yang selalu mencaci maki beliau setiap hari. Rasulullah tetap menyuapinya dengan penuh kelembutan tanpa pernah membalas cacian tersebut, hingga pada akhirnya, sang Yahudi buta menyadari bahwa orang yang selama ini ia hina adalah Nabi Muhammad sendiri. Sikap cinta dan kasih sayang inilah yang harus kita teladani dari Rasulullah SAW.
Sebagai penutup, izinkan saya menyampaikan sebuah pesan penting dari kitab yang dikarang oleh Imam Nawawi Al-Bantani, seorang ulama besar yang karyanya masih dijadikan literatur di berbagai perguruan tinggi Islam, termasuk Al-Azhar. Dalam salah satu tulisannya, beliau mengingatkan kita tentang Ajaran Syekh Nawawi Al-Bantani tentang ciri-ciri akhir zaman berfokus pada tanda-tanda kemerosotan spiritual manusia. Salah satu konsep yang beliau sampaikan adalah tentang "orang yang mengingat 5 dan melupakan 5." Berikut penjelasannya:
1. Ingat makhluk, lupa Sang Khalik
Manusia lebih sering memikirkan makhluk, baik itu manusia, benda, atau dunia material, sehingga melupakan Allah SWT. Dalam keseharian, mereka sibuk dengan urusan duniawi dan mengesampingkan kewajiban untuk mengingat dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
2. Ingat nikmat, lupa pemberi nikmat
Orang lebih sering menikmati karunia yang Allah berikan seperti kesehatan, rezeki, dan kebahagiaan, namun lupa bersyukur kepada yang memberi nikmat, yaitu Allah SWT. Mereka menikmati dunia tanpa menyadari bahwa semua itu berasal dari-Nya.
3. Ingat dunia, lupa akhirat
Fokus manusia cenderung terpusat pada kenikmatan dunia yang sementara, seperti harta, kedudukan, dan kesenangan, tetapi mereka lupa bahwa kehidupan di dunia hanyalah persinggahan, dan yang kekal adalah akhirat.
4. Ingat rumah, lupa kuburan
Banyak orang menghabiskan waktu dan tenaga untuk membangun rumah di dunia, tetapi melupakan "rumah" mereka yang sesungguhnya, yaitu kubur. Mereka lupa untuk mempersiapkan amal dan kebaikan sebagai bekal menuju kehidupan setelah kematian.
5. Ingat harta, lupa hisab (perhitungan amal)
Manusia terlalu sibuk mengumpulkan harta kekayaan tanpa memikirkan bahwa suatu hari nanti mereka akan dihisab (diperhitungkan) oleh Allah atas segala yang mereka miliki. Lupa bahwa harta akan menjadi beban jika tidak digunakan di jalan Allah.
Kelima ciri ini mengingatkan kita bahwa di akhir zaman, manusia cenderung tergelincir pada kecintaan kepada dunia dan makhluk, mengabaikan kewajiban mereka kepada Allah SWT. Pesan Syekh Nawawi ini adalah untuk selalu mengingat Allah dalam setiap aspek kehidupan dan mempersiapkan diri untuk akhirat. (RAYD)



