Detail Artikel

Istiqamah, Jalan Panjang Menjaga Iman hingga Akhir Hayat

Istiqamah, Jalan Panjang Menjaga Iman hingga Akhir Hayat


Khutbah Jumat di Musholla KH Ahmad Dahlan, Ustaz Saparudin Ajak Jamaah Menjaga Lisan, Hati, dan Kemurnian Tauhid

DENPASAR, SuaraUmat.id – Jumat, 6 November 2026, matahari Denpasar terasa cukup terik. Namun, suasana di dalam Musholla KH Ahmad Dahlan justru sejuk dan menenteramkan. Musholla berlantai dua itu menghadirkan ruang ibadah yang nyaman, ditopang keramahan takmir serta penataan parkir yang tertib dan aman.

Kehangatan juga terasa di antara jamaah yang datang menunaikan shalat Jumat. Selepas ibadah, hidangan Jumat Berkah berupa nasi bungkus sederhana menjadi pelengkap kebersamaan. Kesederhanaan sajian itu tidak mengurangi maknanya; justru di sanalah terasa semangat berbagi dan kepedulian.

Pada kesempatan tersebut, Ustaz Saparudin, S.Pd., S.Pd.Gr., bertindak sebagai khatib. Dalam khutbahnya, ia mengajak jamaah merenungkan satu perkara penting dalam kehidupan seorang Muslim: istiqamah, yakni keteguhan untuk terus berada di jalan iman dan ketaatan kepada Allah.

Istiqamah bukan sekadar semangat sesaat dalam beribadah. Ia merupakan kesungguhan menjaga keimanan secara berkelanjutan, hingga akhir hayat. Kebaikan yang telah dilakukan hendaknya melahirkan kebaikan berikutnya, bukan berhenti sebagai kenangan atau pencapaian masa lalu.

Kebaikan yang Melahirkan Kebaikan

Ustaz Saparudin mengingatkan bahwa salah satu tanda diterimanya suatu amal kebaikan adalah ketika seseorang dimudahkan untuk melakukan kebaikan lainnya. Sebaliknya, keburukan yang dibiarkan dapat menyeret seseorang kepada keburukan berikutnya.

Pesan ini mengandung pelajaran bahwa perjalanan iman tidak berhenti pada satu amal. Setelah seseorang menunaikan ibadah, ia perlu menjaga semangat ketaatan itu dalam kehidupan sehari-hari. Amal saleh semestinya menjadi pintu menuju amal saleh lainnya.

Karena itu, seorang Muslim tidak cukup hanya berbangga dengan kebaikan yang pernah dilakukan. Ia perlu terus memelihara hubungan dengan Allah, memperbaiki diri, dan menjaga langkah agar tidak kembali menjauh dari jalan-Nya.

Amal Kecil yang Terpelihara Lebih Bermakna

Dalam khutbahnya, khatib juga mengingatkan bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang dilakukan secara terus-menerus, meskipun jumlahnya sedikit.

Pesan tersebut mengajarkan bahwa kualitas penghambaan tidak semata-mata diukur dari besarnya suatu amalan, tetapi juga dari ketekunan menjaganya. Ibadah yang sederhana, apabila dilakukan dengan ikhlas dan berkelanjutan, memiliki arti penting dalam membentuk pribadi yang taat.

Al-Qur'an melalui Surah Al-Hijr ayat 99 mengingatkan manusia agar senantiasa beribadah kepada Allah hingga datang kepastian, yakni kematian. Ayat ini menegaskan bahwa pengabdian kepada Allah bukan kegiatan yang dibatasi oleh musim, keadaan, atau suasana tertentu.

Istiqamah, dengan demikian, adalah kesediaan untuk terus menjaga ketaatan sepanjang kehidupan. Bukan hanya ketika hati sedang bersemangat, tetapi juga ketika ujian datang dan keadaan tidak selalu mudah.

Tiga Pilar Istiqamah: Lisan, Hati, dan Tauhid

Untuk menjelaskan bagaimana istiqamah dijaga, Ustaz Saparudin menguraikan tiga dimensi yang saling berkaitan: istiqamah lisan, istiqamah hati, dan istiqamah tauhid. Ketiganya membentuk satu kesatuan dalam kehidupan seorang Muslim. Iman diucapkan melalui lisan, dibenarkan dan diteguhkan di dalam hati, kemudian diwujudkan dalam keyakinan serta penghambaan yang lurus kepada Allah.

Pertama, istiqamah lisan: menjaga ucapan dalam pengakuan iman.

Lisan merupakan pintu pertama yang memperlihatkan pengakuan seseorang terhadap keimanannya. Dalam khutbah tersebut disampaikan kisah sahabat Sufyan bin Abdullah yang meminta nasihat menyeluruh kepada Rasulullah. Nabi memberikan tuntunan agar ia menyatakan beriman kepada Allah, kemudian tetap teguh dalam keimanan itu.

Pesan tersebut menunjukkan bahwa pengakuan iman bukan sekadar ucapan yang keluar dari mulut. Setelah menyatakan beriman, seseorang memiliki tanggung jawab untuk menjaga perkataan dan tidak menjadikan lisannya sebagai jalan menuju keburukan.

Lisan yang istiqamah adalah lisan yang selaras dengan nilai keimanan. Apa yang diucapkan semestinya mencerminkan keyakinan kepada Allah, bukan justru bertentangan dengan ajaran yang diakuinya.

Kedua, istiqamah hati: meneguhkan iman di dalam diri.

Namun, keimanan tidak boleh berhenti pada pengakuan lisan. Ia harus bersemayam kuat di dalam hati. Hati menjadi tempat bersemainya keyakinan yang kemudian memengaruhi sikap, pilihan, dan perilaku seseorang.

Khatib mengingatkan bahwa lurusnya iman berkaitan erat dengan lurusnya hati, sementara keadaan hati juga tercermin melalui lisan. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Ucapan yang baik semestinya lahir dari keyakinan yang benar, sedangkan keyakinan yang tertanam di hati perlu tampak dalam kehidupan nyata.

Karena itu, istiqamah hati menuntut seorang Muslim untuk terus menjaga keyakinannya, tidak mudah goyah, serta senantiasa memperbaiki niat dan perilaku. Iman bukan hanya sesuatu yang diucapkan, melainkan sesuatu yang harus hidup dan bekerja dalam diri manusia.

Ketiga, istiqamah tauhid: menjaga kemurnian penghambaan hanya kepada Allah.

Puncak dari istiqamah lisan dan hati adalah teguhnya tauhid. Pengakuan iman yang diucapkan dengan lisan dan diyakini dalam hati harus bermuara pada penghambaan yang murni kepada Allah.

Ustaz Saparudin menekankan pentingnya menjaga keyakinan agar tidak menyekutukan Allah. Seorang Muslim meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah dan Muhammad adalah nabi serta utusan-Nya.

Tauhid bukan hanya pernyataan dalam keyakinan, tetapi prinsip yang menuntun seluruh pengabdian. Karena itu, seorang Muslim perlu memastikan bahwa ibadah dan orientasi penghambaan tetap tertuju kepada Allah, tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.

Dengan demikian, ketiga dimensi tersebut membentuk satu kesatuan yang utuh. Lisan menyatakan iman, hati meneguhkannya, dan tauhid menjaga agar seluruh penghambaan tetap berada pada jalan yang benar. Inilah istiqamah yang tidak berhenti pada kata-kata, tetapi hadir dalam keyakinan dan amal.

Meneladani Generasi yang Menjaga Iman

Khatib juga mengajak jamaah mengambil pelajaran dari generasi awal umat Islam, mulai dari Rasulullah, para sahabat, tabiin, hingga generasi setelah mereka. Keteguhan iman dan ketakwaan menjadi bagian penting dari perjalanan mereka dalam menjaga agama.

Keteladanan generasi tersebut mengingatkan bahwa kemuliaan tidak lahir dari pengakuan semata. Ia tumbuh melalui keyakinan yang kuat, ketaatan yang terpelihara, dan kesediaan untuk tetap teguh menjalankan ajaran Allah.

Setiap generasi memiliki tantangan zamannya sendiri. Namun, prinsip istiqamah tetap sama: menjaga iman, meluruskan hati, mengendalikan lisan, dan memurnikan tauhid.

Istiqamah Bukan Perjalanan Sehari

Khutbah Jumat itu pada akhirnya mengajak jamaah memahami bahwa istiqamah merupakan perjalanan panjang yang membutuhkan kesungguhan. Tidak cukup seseorang mengaku beriman, lalu merasa telah menyelesaikan kewajibannya. Pengakuan tersebut harus terus dijaga melalui hati yang teguh dan penghambaan yang lurus.

Lisan, hati, dan tauhid adalah tiga sisi yang saling menguatkan. Ketika lisan menyatakan iman, hati membenarkannya, dan seluruh penghambaan diarahkan hanya kepada Allah, di situlah istiqamah menemukan wujudnya dalam kehidupan seorang Muslim.

Di tengah teriknya udara Denpasar, kesejukan Musholla KH Ahmad Dahlan menjadi ruang bagi jamaah untuk kembali merenungkan perjalanan iman. Dari khutbah Ustaz Saparudin, tersampaikan pesan bahwa menjaga iman bukan pekerjaan sesaat, melainkan ikhtiar sepanjang hayat.

Sebab, tujuan seorang mukmin bukan sekadar memulai hidup dengan pengakuan iman, tetapi menjalaninya dengan keteguhan hingga akhir kehidupan.

Ubah tiga poin menjadi alur yang lebih tajam

   (RAYD) Donasi PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'