Istiqamah, Merawat Iman dari Lisan hingga Kemurnian Tauhid
Istiqamah, Merawat Iman dari Lisan hingga Kemurnian Tauhid
Khutbah Jumat di Musholla KH Ahmad Dahlan, Ustaz H.Abdul Hakim Makawi S.H. Mengingatkan Pentingnya Menjaga Keteguhan Iman hingga Akhir Hayat
DENPASAR,
SuaraUmat.id – Keimanan
bukan sekadar pengakuan yang terucap, bukan pula semangat ibadah yang menyala
sesaat. Iman adalah perjalanan panjang yang menuntut keteguhan, kesungguhan,
dan kesetiaan untuk terus berada di jalan Allah hingga napas terakhir.
Pesan
itulah yang mengemuka dalam khutbah Jumat di Musholla KH Ahmad Dahlan, Jumat,
30 Oktober 2026. Bertindak sebagai khatib, Ustaz Hakim Makawi mengajak jamaah
merenungkan makna istiqamah, sebuah prinsip penting dalam kehidupan seorang
Muslim agar senantiasa menjaga iman dan ketakwaan.
Dalam
khutbahnya, ia mengingatkan bahwa salah satu tanda kebaikan suatu amal adalah
lahirnya kebaikan berikutnya. Sebaliknya, keburukan yang tidak segera
diperbaiki dapat menyeret seseorang kepada keburukan lainnya.
Istiqamah
bukan hanya tentang memulai kebaikan, melainkan kesanggupan untuk terus
memeliharanya.
Kebaikan yang Melahirkan Kebaikan
Ustaz Hakim
Makawi mengawali pembahasan dengan mengajak jamaah memahami hubungan antara
amal dan kesinambungan ketaatan. Ia mengutip nasihat para ulama bahwa di antara
balasan suatu kebaikan adalah datangnya kebaikan berikutnya. Demikian pula,
keburukan dapat menjadi jalan bagi keburukan lain apabila seseorang tidak
berusaha menghentikannya.
Pesan
tersebut menjadi pengingat bahwa perjalanan seorang mukmin tidak selesai
setelah melakukan satu amal saleh. Kebaikan semestinya membentuk kebiasaan,
menguatkan kesadaran, dan menuntun seseorang untuk semakin dekat kepada Allah.
Karena itu,
seorang Muslim perlu mengukur perjalanan dirinya bukan hanya dari apa yang
telah dikerjakan, tetapi juga dari arah langkah setelahnya. Apakah satu ibadah
membuatnya semakin tekun beribadah? Apakah satu kebaikan mendorongnya melakukan
kebaikan lain?
Di situlah
istiqamah menemukan maknanya: ketika ketaatan tidak berhenti sebagai
peristiwa sesaat, tetapi tumbuh menjadi bagian dari kehidupan.
Amal yang Dicintai Allah adalah Amal yang
Terpelihara
Dalam
khutbah tersebut, khatib juga mengingatkan keutamaan amal yang dilakukan secara
terus-menerus, meskipun jumlahnya sedikit.
Ia
menyampaikan pesan Rasulullah bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah amal
yang dikerjakan secara berkelanjutan. Pesan ini mengajarkan bahwa ibadah tidak
semata-mata dinilai dari banyaknya amalan yang dilakukan dalam satu waktu,
tetapi juga dari kesungguhan menjaganya.
Amal kecil
yang terus dipelihara dapat menjadi penanda keteguhan seorang hamba.
Sebaliknya, semangat besar yang hanya hadir sesaat belum tentu membentuk
kebiasaan taat.
Allah juga
mengingatkan dalam Surah Al-Hijr ayat 99 agar manusia senantiasa beribadah
kepada-Nya hingga datang kepastian, yakni kematian.
Ayat
tersebut menegaskan bahwa pengabdian kepada Allah tidak mengenal masa pensiun.
Selama kehidupan masih diberikan, selama itu pula seorang Muslim berkewajiban
menjaga ketaatan.
Ibadah
bukan sekadar kegiatan pada waktu tertentu, melainkan pengabdian yang
semestinya menyertai seluruh perjalanan hidup.
Tiga Pilar Istiqamah: Lisan, Hati, dan Tauhid
Untuk
menjelaskan bagaimana keteguhan iman harus dijaga, Ustaz Hakim Makawi
menguraikan tiga pokok penting: istiqamah melalui lisan, istiqamah melalui
hati, dan istiqamah dalam tauhid.
Ketiganya
bukan bagian yang berdiri sendiri. Ketiganya merupakan rangkaian yang saling
menguatkan: iman diikrarkan melalui lisan, ditanamkan dalam hati, kemudian
dibuktikan dengan kemurnian penghambaan hanya kepada Allah.
Pertama,
istiqamah lisan: menjaga pengakuan iman.
Khatib
mengangkat kisah sahabat Sufyan bin Abdullah yang meminta nasihat kepada
Rasulullah. Ia memohon suatu tuntunan dalam Islam yang cukup menjadi pegangan,
sehingga tidak perlu terus-menerus bertanya kepada orang lain.
Rasulullah
memberikan jawaban agar ia menyatakan beriman kepada Allah, kemudian tetap
istiqamah dengan pengakuan tersebut.
Pesan ini
mengandung makna mendalam. Mengucapkan bahwa Allah adalah Tuhan bukanlah akhir
dari perjalanan iman. Pengakuan itu justru menjadi awal tanggung jawab untuk
menjaga perkataan dan menjalani kehidupan sesuai dengan keyakinan.
Lisan
seorang mukmin semestinya mencerminkan keimanan yang diikrarkannya. Jangan
sampai mulut menyatakan iman, sementara perkataan dan perilaku justru menjauh
dari nilai-nilai yang diajarkan agama.
Kedua,
istiqamah hati: menanamkan iman hingga menjadi kekuatan batin.
Setelah
lisan menyatakan iman, keyakinan itu harus bersemayam di dalam hati. Sebab,
keimanan tidak cukup berhenti sebagai rangkaian kata yang diucapkan berulang
kali.
Ustaz Hakim
Makawi mengingatkan bahwa keteguhan iman seorang hamba berkaitan erat dengan
keteguhan hatinya. Hati yang terjaga akan memengaruhi perkataan, sikap, dan
amal perbuatan.
Dalam
khutbahnya, ia menyampaikan pesan bahwa iman tidak akan tegak secara sempurna
apabila hati tidak dijaga, dan keadaan hati pun tercermin melalui lisan.
Karena itu,
menjaga hati merupakan pekerjaan yang tidak ringan. Keyakinan harus terus
dirawat melalui amal saleh, ketakwaan, dan kesungguhan memperbaiki diri. Iman
tidak cukup hanya diakui, tetapi harus tumbuh menjadi kekuatan yang menuntun
seseorang dalam menghadapi kehidupan.
Iman yang
benar bukan hanya terdengar dalam ucapan, tetapi juga terasa dalam keyakinan
dan terlihat dalam perbuatan.
Khatib juga
mengingatkan bahwa keselamatan dan kebahagiaan dunia serta akhirat berkaitan
erat dengan iman dan ketakwaan. Maka, keduanya harus senantiasa dijaga dan
dibuktikan melalui amal-amal saleh yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Ketiga,
istiqamah tauhid: memurnikan penghambaan hanya kepada Allah.
Puncak dari
pengakuan lisan dan keteguhan hati adalah menjaga kemurnian tauhid. Setelah
seseorang mengikrarkan iman kepada Allah dan meyakininya dalam hati, ia harus
membuktikan keyakinan tersebut dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu
apa pun.
Ustaz Hakim
Makawi menegaskan pentingnya menjaga keimanan kepada Allah dan meyakini
Muhammad sebagai nabi dan utusan-Nya. Keyakinan itu harus menjadi landasan
dalam seluruh pengabdian seorang Muslim.
Tauhid
bukan sekadar pengetahuan tentang keesaan Allah. Ia merupakan prinsip hidup
yang menentukan arah ibadah dan penghambaan. Seorang mukmin harus menjaga agar
seluruh bentuk pengabdiannya tetap tertuju kepada Allah semata.
Dengan
demikian, istiqamah lisan, hati, dan tauhid membentuk satu kesatuan yang tidak
terpisahkan. Lisan mengikrarkan iman, hati menguatkan keyakinan, sedangkan
tauhid menjaga kemurnian penghambaan.
Meneladani Generasi yang Teguh Menjaga Iman
Dalam
bagian berikutnya, khatib mengajak jamaah menengok perjalanan generasi awal
Islam, mulai dari masa Rasulullah, para sahabat, tabiin, hingga tabiut tabiin.
Ia
mengingatkan bahwa kejayaan umat Islam pada masa-masa tersebut tidak dapat
dilepaskan dari keteguhan iman dan ketakwaan yang mereka pelihara. Mereka
menjaga keyakinan dan menempatkan penghambaan kepada Allah sebagai landasan
kehidupan.
Keteladanan
itu menjadi pelajaran bagi umat Islam hari ini. Perubahan zaman boleh
berlangsung, tantangan kehidupan boleh semakin beragam, tetapi prinsip menjaga
iman tidak boleh ditinggalkan.
Setiap
Muslim memiliki tanggung jawab untuk merawat keyakinannya, memperbaiki amalnya,
dan menjaga kemurnian tauhid. Sebab, iman yang tidak dirawat dapat melemah,
sedangkan ketaatan yang tidak dipelihara dapat perlahan ditinggalkan.
Istiqamah hingga Akhir Hayat
Khutbah
Ustaz Hakim Makawi mengingatkan kembali bahwa istiqamah merupakan perjalanan
sepanjang hayat. Ia tidak cukup diwujudkan melalui pengakuan lisan, tetapi
harus tumbuh dalam hati dan dibuktikan melalui penghambaan yang murni kepada
Allah.
Tiga
dimensi yang disampaikan dalam khutbah tersebut memberikan gambaran utuh
tentang bagaimana seorang Muslim menjaga keimanannya. Lisan menjadi awal
pengakuan, hati menjadi tempat bersemayamnya keyakinan, dan tauhid menjadi
penegas arah penghambaan.
Tujuan
seorang mukmin bukan sekadar mengawali kehidupan dengan iman, melainkan menjaga
iman itu agar tetap teguh hingga akhir hayat.
Sebab, pada
akhirnya, perjalanan hidup manusia bukan hanya tentang berapa banyak kebaikan
yang pernah dilakukan, tetapi juga tentang kesanggupannya untuk terus berada
dalam kebaikan tersebut sampai Allah memanggilnya kembali.
(RAYD)



