ISTNUBA Denpasar, Kilau Wisuda, Gema Asa dari Bali untuk Indonesia
ISTNUBA Denpasar, Kilau Wisuda, Gema Asa dari Bali untuk Indonesia
Wisuda ke-2 Institut Sains dan Teknologi Nahdlatul Ulama Bali (ISTNUBA) bukan sekadar seremoni. Ia adalah panggung sejarah. Dari tiga prodi andalan Sistem Informasi, Teknik Lingkungan, dan Statistika hadirlah para pahlawan masa depan, lengkap dengan toga, haru, dan harapan.
Namun, hari itu bukan hari biasa. Ada sosok istimewa di tengah lautan toga, KH. Abdul Aziz, S.Pd., S.T. Ketua PWNU Bali yang menyelesaikan studi Teknik Lingkungan. Betapa luar biasa, sang kiai tak hanya mengabdi di mimbar dakwah, tapi juga menimba ilmu demi menjaga bumi.
Ibu Rektor, Hj. Azizah Aziz, M.Pd., dengan bangga membuka sambutan, ISTNUBA telah berdiri kokoh di tengah gelombang zaman. Tiga prodi telah terakreditasi “Baik” bukan karena keajaiban, tapi kerja keras semua pihak, dari dosen, mahasiswa hingga tukang bikin kopi kampus yang selalu menyapa ramah.
Tapi tunggu dulu. Prestasi ISTNUBA tak berhenti di akreditasi. Salah satu dosennya kini menempuh S3 di Jepang bersama akademisi dunia dari Bangladesh sampai Namibia. Yang lain meneliti soal luar angkasa hasilnya dipresentasikan di Korea dan Taiwan. Bahkan ada yang jadi konsultan internasional hingga ke Prancis. Kampus kecil, prestasi kelas dunia.
Mahasiswanya juga tak kalah. Ada yang menang lomba debat, ada yang jago desain, ada pula yang viral di TikTok (eh, ini belum diverifikasi, sih, tapi kemungkinan besar benar). Dari kabupaten hingga nasional, nama ISTNUBA makin harum, bak kopi Bali yang diseduh dengan cinta.
Pak Nyoman dari LLDIKTI VIII menyemangati “Teruslah mengabdi, jangan berhenti di sini. ISTNUBA, jadilah mercusuar bagi bangsa ini.” Sedangkan Dr. Mustadin dari LPTPBNU menekankan pentingnya pendidikan yang inklusif. “Pikirkan anak-anak bangsa dari semua latar belakang ekonomi,” katanya. “Agar ISTNUBA terus jadi solusi, bukan hanya institusi.”
Gubernur Bali pun angkat bicara. Katanya, ia kaget, NU punya kampus di Bali? “Luar biasa!” ujarnya. Ia lalu menitipkan dua hal penting: satu, bantu sukseskan program “Satu Keluarga Satu Sarjana”; dua, perhatikan lingkungan hidup, khususnya masalah sampah. Cocok sekali dengan prodi Teknik Lingkungan. Sampah bisa jadi masalah atau bisa jadi masa depan, kalau ditangani bijak.
Terakhir, dari staf ahli Menteri, Dr. Muhammad Hasan Chabibie, hadir pesan menyentuh “Teknologi terus berkembang, kampus harus siap. Dan jangan lupakan dua air: air susu ibu, dan air keringat ayah.” Bukan hanya puisi, tapi pengingat bahwa di balik toga, ada peluh dan doa yang tak pernah pamit.
Hari itu, ISTNUBA tak hanya meluluskan wisudawan. Ia melahirkan pejuang. Ia mencetak sejarah. Ia membuktikan bahwa kampus di Bali bernafaskan Aswaja, berdarah NU siap menjawab tantangan dunia.
Selamat menaklukkan semesta, para alumni. Dunia menanti langkah kalian.
Salam dari salah satu perintis ISTNUBA Denpasar.
#fawaid_al#



