Detail Artikel

ITB STIKOM Bali Kukuhkan Komitmen Sosial dalam Program Satu Keluarga Satu Sarjana: Pendidikan Bukan Sekadar Hak, Tapi Kehormatan

ITB STIKOM Bali Kukuhkan Komitmen Sosial dalam Program Satu Keluarga Satu Sarjana: Pendidikan Bukan Sekadar Hak, Tapi Kehormatan

Denpasar, Juli 2025

Di tengah riuhnya pembicaraan tentang transformasi pendidikan dan kesenjangan akses belajar di kalangan masyarakat berpenghasilan rendah, ITB STIKOM Bali tampil sebagai salah satu institusi pendidikan tinggi swasta yang tidak sekadar mengikuti arus, tetapi justru memperkuat makna dari setiap kebijakan yang berpihak pada keadilan sosial.

Melalui keterlibatannya dalam program unggulan Pemerintah Provinsi Bali “Satu Keluarga Satu Sarjana”, STIKOM Bali tidak hanya menjadi penerima mandat teknis, tetapi juga menyuntikkan semangat pembebasan—bahwa pendidikan tinggi bukan hanya ruang elitistik bagi yang mampu, tetapi hak fundamental setiap keluarga untuk keluar dari lingkar kemiskinan struktural.

Dalam sebuah pernyataan tertulis yang disampaikan langsung oleh Rektor ITB STIKOM Bali, Dr. Dadang Hermawan, ditegaskan bahwa partisipasi kampusnya dalam program ini bukan sekadar bentuk kerja sama administratif, tetapi merupakan bagian dari misi besar lembaga untuk memanusiakan masyarakat melalui pendidikan.

“Kami memaknai program ini bukan hanya dari sisi kuota atau teknis penerimaan. Ini tentang memutus rantai ketidakadilan pendidikan. Di balik setiap nama calon mahasiswa dari keluarga tak mampu, ada harapan satu keluarga untuk naik kelas secara sosial. STIKOM Bali berdiri bersama harapan itu,” ungkap Dr. Dadang dengan nada penuh empati.

Sejak awal pembahasan program bersama Pemprov Bali, STIKOM telah mengusulkan pendekatan penguatan literasi digital sebagai bagian integral dari pendidikan sarjana. Tidak sekadar memberikan kursi kuliah, kampus ini juga menyiapkan skema pendampingan berbasis teknologi, pelatihan kewirausahaan digital, dan akses langsung ke inkubator startup di lingkungan kampus. Hal ini menjadikan peserta program tidak hanya lulusan dengan ijazah, tetapi juga aktor perubahan di komunitasnya.

“Kami tidak ingin mereka sekadar sarjana. Kami ingin mereka menjadi pionir di desanya. Maka, mereka akan kami bekali dengan kompetensi digital dan pola pikir kewirausahaan. Kami ingin mereka pulang ke keluarga, bukan hanya membawa gelar, tetapi juga cara baru untuk menghidupi masa depan,” lanjut Dr. Dadang.

Yang menarik, di tengah euforia program ini di berbagai media, hanya sedikit yang mengulas bagaimana kampus swasta seperti STIKOM Bali justru menyumbang lebih dari sekadar partisipasi formal. Di balik layar, tim STIKOM telah membentuk unit khusus pendampingan psikososial dan mentoring akademik bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu agar mereka tak hanya bertahan secara administratif, tetapi juga tumbuh dalam sistem yang inklusif.

 Lebih dari Sekadar Beasiswa

Tak banyak yang tahu, dalam komunikasi internal kampus, STIKOM Bali menyebut program ini dengan istilah "Beasiswa Kehormatan Keluarga" — sebuah frasa yang mencerminkan nilai moral lebih dalam. Dengan menyadari bahwa banyak penerima adalah first-generation scholars (sarjana pertama dalam keluarganya), kampus ini mempersiapkan modul transisi kultural: dari kehidupan marginal ke atmosfer akademik dan profesional.

Program ini juga terintegrasi dengan program pembinaan desa-desa binaan STIKOM melalui Forum Pendidikan Sosial Islam (FPSI), yang selama ini telah menjangkau 198 desa Islam di Bali. Artinya, mahasiswa dari desa binaan yang kini memperoleh akses kuliah lewat program pemerintah, secara langsung terhubung dengan ekosistem pemberdayaan yang sudah mapan.

 Rincian Partisipasi STIKOM Bali

 Kuota Khusus: Puluhan mahasiswa dari keluarga tidak mampu diterima tahun ajaran ini melalui seleksi program provinsi.

Kurikulum Khusus: Integrasi literasi digital, kewirausahaan, dan pembinaan karakter.

 Pendampingan Sosial-Akademik: Mentoring intensif untuk adaptasi mahasiswa generasi pertama.

 Link ke Desa Binaan: Koneksi langsung ke program sosial STIKOM lewat FPSI dan LANTIP.

 Penutup: Mendidik Bukan Sekadar Mengajar

ITB STIKOM Bali, melalui keterlibatannya dalam program Satu Keluarga Satu Sarjana, sekali lagi menegaskan jati dirinya sebagai kampus transformasi sosial. Di tengah geliat digitalisasi dan kompetisi global, STIKOM memilih langkah akar rumput: menjemput anak-anak desa, mempercayakan mereka pada dunia akademik, dan memulangkan mereka kelak sebagai pengubah nasib keluarga dan bangsanya.

“Satu keluarga satu sarjana adalah impian kolektif. Kami di STIKOM Bali menjaganya agar tak sekadar menjadi slogan, tetapi menjadi kisah nyata,” tutup Dr. Dadang Hermawan.(RAYD) 

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'