I’tikaf yang Terlupakan: Teguran Lembut Ustadz H. Kusnadi di Senja Ramadhan
I’tikaf yang Terlupakan: Teguran Lembut Ustadz
H. Kusnadi di Senja Ramadhan
Denpasar — Di tengah hangatnya santunan anak yatim, apresiasi bagi siswa berprestasi, dan penghormatan kepada para guru ngaji, suasana mendadak berubah hening. Mikrofon berpindah tangan. Ustadz H. Kusnadi berdiri, menyapu hadirin dengan tatapan yang teduh namun tajam.
Ceramahnya singkat. Namun setiap kalimatnya seperti mengetuk kesadaran.
“Sudah berapa kali kita ke masjid,” ujarnya perlahan, “tapi tidak pernah berniat i’tikaf?”
Pertanyaan itu melayang di udara. Tidak retoris. Tidak menghakimi. Tetapi cukup untuk membuat siapa pun menunduk.
I’tikaf Bukan Milik Sepuluh Malam Saja
Dalam ceramahnya, Ustadz H. Kusnadi meluruskan satu pemahaman yang selama ini terlanjur mapan di tengah umat: bahwa i’tikaf identik dengan sepuluh malam terakhir Ramadhan.
“Tidak ada ketentuan i’tikaf harus sepuluh hari. Tidak harus tujuh jam. Tidak harus di malam ganjil. I’tikaf adalah berdiam diri di masjid, dengan niat karena Allah, untuk beberapa waktu.”
Ia mengutip Surah Al-Baqarah ayat 125, ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail untuk membersihkan Baitullah bagi orang-orang yang thawaf, i’tikaf, rukuk, dan sujud. Dalam ayat itu, i’tikaf disebut sejajar dengan thawaf dan shalat — dua ibadah agung yang tidak pernah dianggap remeh.
Namun, justru i’tikaf sering “dianaktirikan”.
“Kita begitu enteng mengabaikan ibadah ini,” katanya dengan nada prihatin. “Padahal ia fleksibel. Bisa kapan saja. Masuk masjid, niat i’tikaf karena Allah, duduk beberapa menit saja — itu sudah ibadah.”
Hening kembali menyelimuti ruangan.
Ibadah yang Terlalu Mudah, Lalu Diabaikan
Ustadz Kusnadi membuat perbandingan yang sederhana namun mengena. Thawaf berakhir setelah tujuh putaran. Shalat berakhir dengan salam. Lalu i’tikaf?
“I’tikaf berakhir ketika kita meninggalkan masjid.”
Begitu sederhana. Begitu mudah. Dan mungkin karena terlalu mudah itulah ia sering terlupakan.
Ia bahkan mengibaratkan kesempatan i’tikaf seperti seseorang yang diberi satu miliar rupiah, tetapi tidak dimanfaatkan. “Geblek atau tidak?” tanyanya setengah berseloroh, membuat hadirin tersenyum malu.
Pesan itu bukan untuk menyalahkan, melainkan menyadarkan. Bahwa sering kali kita merasa sudah menjalankan agama dengan baik, tetapi melewatkan peluang pahala yang terbuka lebar.
Dari Masjid Fisik ke “Masjid Sosial”
Ceramah itu menemukan konteksnya di acara tersebut. Sore itu, para hadirin memang tidak sedang berada di masjid besar. Mereka berada di kediaman seorang dermawan, dalam kegiatan santunan dan berbuka bersama.
Namun makna i’tikaf yang disampaikan melampaui ruang fisik. Ia adalah kesadaran untuk berdiam dalam niat yang lurus. Untuk menghadirkan Allah dalam setiap aktivitas, termasuk berbagi.
Ketika anak-anak yatim dipanggil satu per satu.
Ketika siswa berprestasi menerima beasiswa.
Ketika guru ngaji dihormati di depan khalayak.
Semua itu menjadi bagian dari ibadah, jika diniatkan karena-Nya.
“I’tikaf itu soal niat,” tegas Ustadz Kusnadi. “Masuk masjid, niatkan karena Allah. Duduk sebentar, menunggu shalat, itu sudah bernilai ibadah.”
Pesan itu sederhana. Tetapi justru dalam kesederhanaannya, ia mengguncang.
Kembali ke Qur’an, Bukan Sekadar Slogan
Di bagian akhir ceramahnya, Ustadz Kusnadi mengingatkan agar seruan “kembali kepada Qur’an dan Sunnah” tidak berhenti pada slogan.
“Jangan hanya bicara kembali ke Qur’an, tetapi ayatnya tidak diamalkan.”
Satu ayat saja, katanya, jika benar-benar diamalkan, nilainya luar biasa. Al-Baqarah 125 bukan sekadar bacaan, melainkan perintah yang hidup.
Ia mengajak hadirin untuk mulai hari itu juga membiasakan i’tikaf — bukan menunggu sepuluh malam terakhir, bukan menunggu suasana khusus.
“Sering-seringlah i’tikaf, semata-mata karena Allah.”
Teguran yang Menguatkan
Ceramah itu hanya sekitar lima belas menit. Namun dampaknya terasa lebih lama dari durasinya. Ia bukan orasi panjang, bukan retorika yang berapi-api. Ia lebih menyerupai cermin.
Dan mungkin, di tengah gemuruh aktivitas Ramadhan, umat memang membutuhkan cermin.
Karena santunan bisa selesai dibagikan.
Foto bersama bisa berakhir.
Buka puasa bisa usai.
Tetapi kesadaran untuk tidak mengabaikan peluang ibadah — itulah yang harus tinggal.
Senja Ramadhan di Denpasar itu bukan hanya tentang berbagi rezeki. Ia juga tentang berbagi kesadaran. Bahwa ibadah tidak selalu berat. Tidak selalu panjang. Tidak selalu spektakuler.
Kadang ia hanya sesederhana:
Masuk masjid.
Berniat.
Berdiam sejenak.
Karena Allah.
Dan dari niat yang kecil itulah, pahala besar bermula.(RAYD) Donasi Suara Umat atas nama PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967



