Jangan Seperti Ambulans: Renungan Cinta yang Sering Terlambat
Jangan Seperti Ambulans: Renungan Cinta yang Sering Terlambat
Ada satu pertanyaan sederhana yang patut kita ajukan pada diri sendiri: bagaimana hubungan kita dengan Allah?
Jangan sampai hubungan itu seperti hubungan kita dengan mobil ambulans—yang hanya kita hubungi saat darurat. Saat napas terasa sesak oleh masalah. Saat hati terjepit oleh kesulitan. Saat hidup seperti kehilangan arah.
Kita menelpon-Nya ketika keadaan genting. Kita memanggil-Nya ketika tak ada lagi yang bisa diandalkan. Kita mengetuk pintu langit ketika pintu-pintu bumi tertutup.
Lalu ketika lapang datang, ketika sehat menyapa, ketika rezeki mengalir, kita kembali sibuk. Kita kembali merasa mampu berdiri sendiri.
Padahal cinta sejati tidak mengenal musim darurat.
Bergantung di Saat Lapang dan Sempit
Hati yang hidup adalah hati yang selalu bergantung kepada Allah—bukan hanya saat sedih, tetapi juga saat bahagia. Bukan hanya saat gelap, tetapi juga saat terang.
Mengingat Allah bukan sekadar pelarian dari masalah, melainkan kebutuhan jiwa. Seperti seseorang yang selalu rindu pada kekasihnya—ia tak menunggu musibah untuk mengingat, tak menunggu kesedihan untuk mendekat.
Kita tahu betapa bahagianya berada di dekat orang yang kita cintai. Duduk bersamanya saja sudah cukup menenangkan. Maka bagaimana mungkin kedekatan dengan Sang Pencipta langit dan bumi tidak menghadirkan kebahagiaan?
Jika hati belum merasakan manisnya dekat dengan Allah, mungkin bukan Allah yang jauh—tetapi cinta kita yang belum utuh.
Cinta Itu Taat
Cinta bukan hanya kata. Ia bukan hanya getaran rasa. Cinta adalah bukti.
Bukti cinta kepada Allah adalah menaati apa yang Dia perintahkan dan mengikuti apa yang dibawa oleh utusan-Nya, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Sebagaimana firman-Nya (yang artinya):
“Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.”
(QS. Ali ‘Imran: 31)
Ayat ini bukan sekadar seruan, tetapi undangan. Allah tidak meminta cinta yang kosong. Dia mengajarkan jalan agar cinta itu dibalas dengan cinta-Nya, bahkan dengan ampunan-Nya.
Bayangkan—ketika seorang hamba mencintai Allah, lalu Allah mencintainya. Cinta yang tak terbatas, tak terukur, dan tak akan pernah mengecewakan.
Kebahagiaan yang Hakiki
Kita sering mencari kebahagiaan di tempat-tempat yang fana. Di pujian manusia. Di harta. Di jabatan. Di pengakuan sosial. Namun semuanya bisa hilang dalam sekejap.
Kedekatan dengan Allah adalah kebahagiaan yang tidak tergantung pada situasi. Ia hadir dalam tangis maupun tawa. Ia tetap hidup dalam kekurangan maupun kelimpahan.
Jangan tunggu darurat untuk kembali. Jangan tunggu musibah untuk bersujud. Jangan tunggu kehilangan untuk menyadari betapa kita membutuhkan-Nya.
Bangunlah hubungan yang hangat, yang hidup, yang terus menyala. Jadikan doa bukan hanya alarm keadaan genting, tetapi napas harian yang lembut.
Semoga hati kita tidak hanya mengingat Allah saat dunia menekan, tetapi juga saat dunia tersenyum.
Semoga kita diberi cinta yang tulus, ketaatan yang nyata, dan kebahagiaan yang hakiki.
Aamiin (RAYD) Donasi Suara Umat atas nama PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967



