Detail Artikel

Jejak Dakwah dan Harmoni di Kampung Islam Kecicang, Karangasem

Jejak Dakwah dan Harmoni di Kampung Islam Kecicang, Karangasem

Laporan Khusus SuaraUmat.id

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Dari gelombang siaran radio lokal di Bali, sebuah narasi sejarah yang lama hidup dalam ingatan kolektif kembali mengemuka. Kampung Islam Kecicang—sebuah enklave Muslim di tengah dominasi budaya Bali—menyimpan jejak panjang dakwah, akulturasi, dan ketahanan sosial yang patut dicatat dalam khazanah sejarah Nusantara.

Dalam perbincangan antara jurnalis Ambarwati dan tokoh masyarakat sekaligus Kasi Pendis Kemenag setempat, Bapak Azanudin, terkuak lapisan-lapisan sejarah yang bukan hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana identitas itu dirawat hingga hari ini.


Awal Mula: Dakwah yang Diundang Raja

“Sejarah Kecicang Islam ini bermula sekitar abad ke-16,” tutur Azanudin. Ia menyebut sosok penting bernama Abdul Rahman—yang juga dikenal sebagai Balo Sakti—sebagai pembawa Islam ke wilayah tersebut.

Menurutnya, kehadiran Balo Sakti bukanlah peristiwa migrasi biasa. Ia datang atas undangan raja Bali, bukan sekadar sebagai pendatang, melainkan sebagai pendakwah yang diberi ruang dan legitimasi.

“Beliau diundang, diberi tempat, dan menjalankan dakwahnya di sini. Bahkan tanah ini pada awalnya adalah hutan,” jelasnya.

Dari hutan itulah kemudian tumbuh komunitas Muslim yang kini dikenal sebagai Kampung Kecicang Islam, berdampingan dengan Kecicang Bali sebagai penanda identitas keagamaan yang berbeda namun hidup dalam harmoni.


Jejak Fisik dan Tradisi yang Bertahan

Ketika ditanya mengenai bukti sejarah, Azanudin mengakui bahwa peninggalan tertulis seperti prasasti memang terbatas. Namun, jejak historis tetap terpelihara melalui makam Balo Sakti yang berada di wilayah Tonpati.

“Makam beliau masih terawat hingga kini, dan sering diziarahi, terutama pada momen-momen tertentu seperti setelah Idul Fitri,” ujarnya.

Selain itu, warisan budaya juga menjadi bukti hidup sejarah. Salah satunya adalah seni Rudat—kesenian tradisional bernuansa Islam yang hingga kini masih ditampilkan dalam acara pernikahan dan perayaan keagamaan.

Tak kalah penting adalah mimbar tua masjid yang tetap dipertahankan, meskipun bangunan masjid telah mengalami renovasi. “Itu bagian dari sejarah yang kami jaga,” tambahnya.


Akulturasi: Islam dan Bali dalam Satu Nafas

Menariknya, identitas masyarakat Kecicang Islam tidak berdiri secara eksklusif. Mereka justru mengalami proses akulturasi yang kuat dengan budaya Bali.

“Bahasa sehari-hari kami adalah bahasa Bali. Ini menunjukkan bahwa kami telah menyatu dengan lingkungan,” jelas Azanudin.

Tak hanya bahasa, tradisi sosial juga menunjukkan perpaduan tersebut. Salah satu yang unik adalah tradisi ziarah dan rekreasi bersama ke kawasan Taman Ujung setelah Idul Fitri—sebuah praktik yang tidak ditemukan di komunitas Muslim lain.


Ritual Kolektif: Dari Maulid hingga Sedekah Hidangan

Dalam konteks keagamaan, Kampung Kecicang Islam memiliki dinamika yang hidup. Perayaan Maulid Nabi menjadi salah satu puncak aktivitas kolektif masyarakat.

Sebelum acara inti, digelar pawai ta’aruf yang melibatkan seluruh warga, lengkap dengan pertunjukan seni Rudat. Setelah itu, masyarakat membawa hidangan ke masjid untuk didoakan dan dinikmati bersama.

“Ini bukan sekadar makan bersama, tapi simbol kebersamaan dan syukur,” ujar Azanudin.

Diperkirakan hingga 2.000 warga terlibat dalam kegiatan tersebut—angka yang menunjukkan kuatnya kohesi sosial di kampung ini.


Peran Masjid: Dari Ibadah hingga Ekonomi

Masjid tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga pusat pemberdayaan. Program santunan, distribusi hewan kurban, hingga pelatihan ekonomi menjadi bagian dari aktivitas rutin.

“Tahun lalu kami menyembelih sekitar 10 ekor sapi dan 50 kambing untuk didistribusikan kepada masyarakat,” ungkapnya.

Mayoritas warga Kecicang Islam berprofesi sebagai pedagang. Oleh karena itu, masjid juga berfungsi sebagai ruang edukasi ekonomi, dengan menghadirkan narasumber untuk meningkatkan kapasitas usaha masyarakat.


Pendidikan: Fondasi Masa Depan

Dalam hal pendidikan, Kampung Kecicang Islam menunjukkan perkembangan yang signifikan. Terdapat satu Madrasah Ibtidaiyah Negeri, MTs, serta lembaga pendidikan lainnya yang dikelola masyarakat.

Selain itu, sembilan mushalla aktif digunakan sebagai tempat mengaji dan pembinaan keagamaan anak-anak.

“Ini menunjukkan bahwa semangat pendidikan di sini sangat tinggi,” kata Azanudin.


Harapan: Religiusitas dan Harmoni yang Terjaga

Di akhir perbincangan, Azanudin menyampaikan harapannya agar masyarakat Kecicang Islam terus tumbuh dalam religiusitas dan kemandirian ekonomi, tanpa kehilangan akar budaya.

“Kami ingin tetap menjaga warisan para pendahulu, sekaligus hidup berdampingan dengan saudara-saudara kami yang berbeda keyakinan,” ujarnya.

Dalam lanskap Bali yang plural, Kampung Kecicang Islam menjadi contoh nyata bahwa identitas keagamaan dan budaya lokal tidak harus saling menegasikan. Justru dari perjumpaan itulah lahir harmoni yang autentik—sebuah pelajaran berharga bagi Indonesia yang majemuk.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.(AMBAR)

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'