Judul: “Angkot di Tengah Istana: Etika Sunyi di Balik Nama Tri Sutrisno”
Judul:
“Angkot di Tengah Istana: Etika Sunyi di Balik Nama Tri Sutrisno”
Dalam sebuah wawancara bersama
Rossy Pratiwi di TNI TV, yang ditayangkan dalam rangka mengenang sosok Tri
Sutrisno, tersingkap kisah yang tidak hingar-bingar, namun justru menggetarkan
dalam diam.
Di tengah narasi besar Orde
Baru—yang sering dibingkai oleh kekuasaan, fasilitas, dan privilese—muncul
sepotong cerita yang berjalan berlawanan arah. Bukan tentang kemewahan, melainkan tentang penolakan halus
terhadapnya.
“Ibu, saya hari-hari pakai
angkot di Pasar Rebo.”
Kalimat itu meluncur tanpa
pretensi. Tidak dramatis, tidak pula ingin mengundang simpati. Namun justru di situlah kekuatannya—sebuah
kesaksian tentang pilihan hidup yang sadar.
Mobil dinas, dalam cerita
tersebut, bukanlah simbol kedudukan, melainkan garis demarkasi etika. “Itu mobil dinas, tidak boleh ikut urusan,”
menjadi prinsip yang dipegang teguh. Sebuah
prinsip yang tidak dinegosiasikan, bahkan ketika akses terbuka lebar di depan
mata.
Dalam satu fragmen yang nyaris
seperti adegan film dokumenter, ia bercerita tentang perjalanannya: naik
angkutan umum, turun di pintu belakang Mabes, hingga sebuah mobil dinas yang
tiba-tiba menghalangi langkahnya. Negara,
seolah-olah, datang menawarkan kemudahan—namun ia memilih tetap berjalan.
“Saya berada di situ
karena istrinya,”
ujarnya singkat. Sebuah
kalimat yang meruntuhkan asumsi bahwa kedekatan dengan kekuasaan otomatis
memberi hak atas fasilitasnya.
Lebih jauh, ia mengungkap bahwa
prinsip tersebut bukan sekadar pilihan pribadi, melainkan nilai yang ditanamkan
langsung oleh Tri Sutrisno sendiri: jangan
mempergunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi. Sebuah ajaran yang dipegang hingga akhir
hayat.
Dalam lanskap sejarah Indonesia,
kisah ini hadir sebagai bisikan di tengah riuhnya kritik terhadap Orde Baru. Ia tidak mengubah narasi besar, tetapi
memperkaya perspektif—bahwa integritas juga pernah hidup dalam bentuk yang
sederhana.
Di era ketika batas antara hak
publik dan kepentingan pribadi sering kali kabur, cerita ini menjadi cermin
yang jernih. Bahwa etika
tidak selalu lahir dari panggung besar, melainkan dari keputusan-keputusan
kecil yang diambil setiap hari.
Dan mungkin, justru di
dalam angkot yang berdesakan itu, kita menemukan makna kekuasaan yang paling
bersih: tidak digunakan. (RORIE)



