Detail Artikel

Judul: “Membumbui Karakter di Dapur Mushola”

Judul: “Membumbui Karakter di Dapur Mushola”

Hari ini terik menampar kulit, seolah langit membuka seluruh pancaran apinya tanpa ragu. Peluh mengalir, membasahi seragam yang dari pagi sudah disibukkan oleh kegiatan belajar, berlari, dan bercanda. Mushola Ahmad Dahlan, siang itu, seperti sebuah dapur besar—dipenuhi oleh aroma khas anak-anak SMP yang sedang “dimasak” oleh waktu dan pembiasaan.

Bayangkan ruang mushola itu sebagai sebuah wajan besar. Di dalamnya, ratusan bumbu ditaburkan: ada keceriaan, kelelahan, keluguan, dan kegelisahan. Bumbu-bumbu itu belum tercampur rata, masih liar, namun prosesnya sedang berjalan. Anak-anak itu adalah bahan-bahan mentah yang belum tahu akan jadi masakan seperti apa, tapi mereka sedang dimasak—perlahan, konsisten.

Sholat qobla dzuhur dilakukan, namun karena ‘terlalu cepat matang’, harus diulang lagi, kali ini dengan takaran yang pas: empat rakaat, seperti resep yang seharusnya. Suasana menunggu waktu dzuhur pun menjadi riuh, seperti dapur menjelang makan siang: suara obrolan, batuk, kaki yang tak tenang, menyerupai suara sutil dan talenan yang bersahut-sahutan.

Rakaat demi rakaat dijalankan. Seperti menumis bawang merah dan putih—tidak langsung harum, perlu waktu. Kadang ada yang gosong, kadang terlalu cepat diangkat. Namun tak apa, proses itu yang penting. Selepas dzuhur, mereka tidak langsung bubar. Sholat sunnah, wirid, dan doa untuk orang tua menjadi seperti penyedap rasa: tak kasat mata, tapi perlahan memberi cita rasa pada karakter yang tengah dibentuk.

Anak-anak itu belum sepenuhnya paham mengapa harus sholat. Seperti anak yang belum tahu kenapa harus menambahkan garam dan lada ke dalam sup. Tapi satu hal yang pasti, rasa itu akan mereka kenali nanti. Momen-momen ini, walau tampak sederhana, seperti jejak-jejak bumbu yang menempel pada wajan—kelak akan memberi rasa pada kehidupan mereka.

Mendidik karakter bukan soal cepat atau instan. Ia seperti memasak rendang—memerlukan kesabaran, api kecil yang konstan, dan rempah yang lengkap. Mushola itu bukan sekadar tempat ibadah, tapi dapur yang terus menyala, memasak jiwa-jiwa muda dengan niat baik, disiplin, dan kebersamaan.

Kelak, ketika mereka dewasa, dan mencicipi hasil hidup mereka, mungkin mereka akan berkata: “Oh, ini rasanya. Ini aroma masa kecilku—aroma peluh, doa, dan kasih yang dulu tak kumengerti.”

Dan kita, para pendidik, hanya tersenyum, karena kita tahu: masakan yang baik selalu berawal dari bumbu yang sederhana, tapi diracik dengan cinta. ( Raden Alit)

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'