Detail Artikel

Kakanwil Kemenag Bali: Perempuan Harus Diperkuat dengan Kompetensi, FAHMI UMMI Jangan Berhenti pada Seremoni

Kakanwil Kemenag Bali: Perempuan Harus Diperkuat dengan Kompetensi, FAHMI UMMI Jangan Berhenti pada Seremoni

Dr. I Gusti Made Sunartha mendorong FAHMI UMMI Bali membangun organisasi berbasis kualifikasi, kompetensi, pemberdayaan, dan kolaborasi lintas agama

BADUNG, Suara Umat.id — Pelantikan Pengurus Wilayah FAHMI UMMI Provinsi Bali dan Pengurus Daerah FAHMI UMMI kabupaten/kota se-Bali tidak boleh berhenti sebagai seremoni organisasi. Di balik pengukuhan kepengurusan, terdapat pekerjaan yang jauh lebih penting: membangun perempuan yang memiliki kapasitas, kompetensi, dan keberanian mengambil peran di tengah masyarakat.

Pesan itu disampaikan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali, Dr. I Gusti Made Sunartha, dalam rangkaian pelantikan FAHMI UMMI Bali di Gedung Madya Gosana, Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung.

Menurut Sunartha, lahirnya FAHMI UMMI Bali merupakan sebuah momentum sejarah. Bukan semata karena sebuah organisasi baru terbentuk, tetapi karena kehadirannya membawa harapan baru terhadap posisi dan kontribusi perempuan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat Bali.

“Sejarah ini akan menentukan dan membuat kedudukan wanita, khususnya yang bergabung di dalam FAHMI UMMI, memiliki posisi yang strategis ke depan,” ujarnya.

Namun, posisi strategis tersebut, menurut dia, tidak otomatis lahir hanya karena sebuah organisasi memiliki struktur kepengurusan.

Ada syarat yang harus dibangun: kualifikasi dan kompetensi.

Jangan Banyak Program, tetapi Lemah Pelaksana

Sunartha mengingatkan agar FAHMI UMMI Bali tidak terjebak pada banyaknya program tanpa diikuti kesiapan sumber daya manusia.

Baginya, program yang baik akan kehilangan makna apabila orang-orang yang menjalankannya tidak memiliki kapasitas yang memadai.

“Bukan program yang penting, bagaimana orang yang ada di dalam itu memiliki kualifikasi dan memiliki kompetensi,” tegasnya.

Karena itu, ia mendorong FAHMI UMMI Bali sejak awal menjadikan peningkatan kualitas pengurus sebagai agenda penting organisasi.

Kualifikasi dan kompetensi bukan hanya dibutuhkan untuk menjalankan program internal, tetapi juga agar para pengurus mampu menularkan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai pemberdayaan kepada perempuan lain di Bali.

Dengan cara itulah, organisasi tidak berhenti sebagai wadah berkumpul, melainkan berkembang menjadi ruang pembelajaran dan pemberdayaan perempuan.

Perempuan, Keluarga dan Kesejahteraan

Dalam sambutannya, Sunartha juga membawa perspektif Hindu mengenai posisi perempuan dalam kehidupan keluarga.

Ia menyampaikan salah satu ajaran yang menempatkan penghormatan terhadap perempuan sebagai bagian penting dari kehormatan dan kesejahteraan kehidupan.

Menurutnya, terdapat kesamaan nilai universal yang dapat ditemukan dalam berbagai tradisi agama: keluarga membutuhkan penghormatan, keseimbangan, tanggung jawab, dan peran perempuan yang kuat.

Ia menggunakan perumpamaan sederhana.

Perempuan, katanya, ibarat bunga di halaman rumah tangga. Ketika bunga itu layu, persoalan dapat muncul di dalam rumah.

Perumpamaan tersebut menggambarkan betapa pentingnya posisi perempuan dalam menjaga kehidupan keluarga.

Namun, perempuan tidak hanya memiliki peran domestik.

Ketika kualitas perempuan meningkat, dampaknya dapat meluas ke lingkungan sosial. Ketika perempuan memiliki kompetensi, organisasi memperoleh kekuatan. Dan ketika organisasi memiliki kapasitas, kontribusinya kepada masyarakat menjadi semakin besar.

FAHMI UMMI sebagai Ruang Kolaborasi

Sunartha juga mengharapkan FAHMI UMMI Bali mampu memperkaya ekosistem organisasi perempuan dan organisasi keagamaan yang telah tumbuh di Bali.

Ia menyebut pentingnya kolaborasi dengan berbagai organisasi, termasuk lembaga-lembaga sosial dan keagamaan yang memiliki program pemberdayaan masyarakat.

Dalam konteks Bali yang memiliki keragaman agama dan tradisi, kolaborasi tersebut menjadi penting agar kerja organisasi tidak berjalan dalam ruang yang terpisah-pisah.

FAHMI UMMI, menurutnya, dapat mengambil bagian dalam agenda pembinaan dan pemberdayaan masyarakat, sekaligus membangun komunikasi dengan organisasi perempuan lainnya.

Semangat tersebut juga tampak dari kehadiran tokoh dan organisasi lintas agama dalam kegiatan pelantikan.

Pelantikan FAHMI UMMI tidak hanya menjadi agenda internal umat Islam, tetapi berlangsung dalam atmosfer kebersamaan masyarakat Bali yang majemuk.

Dari Pembinaan hingga Pemberdayaan

Sunartha berharap FAHMI UMMI Bali tidak membatasi geraknya pada kegiatan seremonial.

Ia mendorong organisasi tersebut mengembangkan program pembinaan, pemberdayaan perempuan, serta kegiatan yang menyentuh kebutuhan masyarakat secara langsung.

Bahkan, ia menyinggung perlunya program yang menyasar generasi muda, termasuk pembinaan remaja usia nikah.

Baginya, program semacam itu memiliki relevansi karena pembangunan keluarga tidak dapat dilepaskan dari kesiapan generasi muda.

Keluarga yang kuat membutuhkan calon pasangan yang memiliki pemahaman, kesiapan dan tanggung jawab.

Karena itu, organisasi perempuan memiliki ruang pengabdian yang luas—mulai dari keluarga, pendidikan, pembinaan generasi muda hingga pemberdayaan masyarakat.

Dari Bali untuk Kerukunan

Pesan Sunartha menjadi semakin penting ketika ditempatkan dalam tema besar pelantikan FAHMI UMMI Bali: “Peran Perempuan Merajut Kerukunan Umat Beragama di Bali.”

Kerukunan tidak hanya membutuhkan kebijakan pemerintah.

Ia membutuhkan manusia-manusia yang setiap hari mempraktikkan penghormatan, komunikasi dan kerja sama.

Dan perempuan berada pada posisi yang sangat strategis untuk menanamkan nilai tersebut sejak dari keluarga.

Karena itu, penguatan kompetensi perempuan sekaligus dapat menjadi bagian dari penguatan kerukunan.

Perempuan yang terdidik, memiliki kapasitas dan terbuka terhadap dialog akan lebih mampu menjadi jembatan di tengah masyarakat yang beragam.

Pelantikan Sebagai Titik Berangkat

Pada akhirnya, pesan Kakanwil Kemenag Bali itu mengarah pada satu hal: pelantikan adalah titik berangkat, bukan tujuan.

Sebanyak 82 pengurus FAHMI UMMI yang dikukuhkan—terdiri dari pengurus wilayah dan pengurus daerah kabupaten/kota—memiliki pekerjaan panjang setelah prosesi pelantikan selesai.

Struktur organisasi harus berubah menjadi program.

Program harus berubah menjadi pelayanan.

Dan pelayanan harus menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.

Sunartha bahkan berharap kegiatan FAHMI UMMI ke depan dapat berkembang lebih besar, menghadirkan lebih banyak masyarakat dan membuka ruang kolaborasi yang lebih luas.

Bukan kemeriahan acaranya yang menjadi ukuran utama.

Melainkan sejauh mana organisasi mampu meninggalkan jejak manfaat.

Di Bali, tempat berbagai agama dan tradisi hidup berdampingan, kehadiran FAHMI UMMI membawa sebuah pekerjaan yang tidak ringan.

Membangun perempuan yang kuat di dalam keluarga, kompeten di dalam organisasi, produktif di tengah masyarakat, dan mampu menjadi bagian dari kerja besar merawat kerukunan.

Sebab organisasi yang baru lahir tidak membutuhkan sekadar tepuk tangan untuk tumbuh.

Ia membutuhkan kompetensi, kolaborasi, konsistensi dan keberanian untuk bekerja.

 (RAYD)

 Donasi PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'