Detail Artikel

Kelahiran Profesor: Evi Triandini dan Gerbang Baru Akademik ITB STIKOM Bali

Kelahiran Profesor: Evi Triandini dan Gerbang Baru Akademik ITB STIKOM Bali

Denpasar, Februari 2026 — Di bawah langit pagi yang tenang, kampus Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) STIKOM Bali menorehkan bab penting dalam sejarah akademiknya. Pada Sabtu, 7 Februari 2026, sebuah momentum yang dinanti akhirnya terwujud: Prof. Dr. Tri Evi Triandini, S.P., M.Eng. resmi dikukuhkan sebagai guru besar pertama di lingkungan kampus teknologi terkemuka di Bali ini.¹

Pengukuhan yang secara simbolis disebut sebagai “pecah telur” itu bukan sekadar upacara akademik, tetapi pertanda lahirnya kekuatan intelektual baru yang merangkul teknologi sekaligus kemanusiaan. Prof. Evi, dengan kepakaran dalam analisis perangkat lunak, membawa arah baru riset yang tak hanya relevan secara ilmiah, tetapi bermakna dalam konteks sosial.¹

Dalam orasi ilmiahnya, ia memaparkan karya riset yang tak biasa: sebuah kerangka telerehabilitasi prostetik digital yang dirancang untuk memberi akses kesejahteraan bagi penyandang disabilitas. Tidak sekadar modul teori, inovasi itu dipahat sebagai sistem modular yang memberi pasien kemampuan edukasi mandiri dan pemantauan berkelanjutan—sebuah transformasi nyata dari teknologi menjadi kemerdekaan manusiawi.¹

“Ilmu tidak hidup hanya sebagai teks di buku atau angka statistik,” ujar Prof. Evi dengan tenang namun tegas. *“Ia bernapas melalui kehidupan yang disentuhnya, manusia yang dirangkulnya.”*¹

Rektor Dr. Dadang Hermawan menyambut pencapaian ini sebagai tonggak penting bagi kampus. Menurutnya, penetapan Prof. Evi dengan jabatan akademik tertinggi itu sekaligus mengangkat reputasi ITB STIKOM Bali di tingkat regional bahkan nasional, sekaligus memosisikan kampus sebagai **ekosistem akademik yang mampu bersaing dan berinovasi dalam disiplin ilmu maju.¹

Lebih jauh lagi, pengukuhan ini menjadi inspirasi bagi civitas akademika untuk terus memperjuangkan jabatan fungsional tinggi, bukan semata sebagai gelar, melainkan sebagai komitmen seumur hidup terhadap penelitian, pengabdian, dan kolektifitas ilmu.¹

Dewan Pembina Yayasan Widya Dharma Shanti, Prof. Dr. I Made Bandem, mengingatkan bahwa sejarah inklusivitas akademik ITB STIKOM Bali telah lama tertanam jauh sebelum gelar ini diraih. Kampus telah membuka peluang pendidikan bagi mahasiswa berkebutuhan khusus jauh sebelum isu aksesibilitas menjadi tren.¹

“Menjadi profesor bukan hanya prestasi individual,” tutur Prof. Bandem. *“Ia adalah cermin komitmen lembaga terhadap manusia seutuhnya.”*¹

Prof. Evi bukan sekadar profesor: ia adalah simbol bahwa teknologi dan kemanusiaan bisa bersinergi, bahwa riset yang unggul adalah riset yang menjawab kebutuhan nyata, dan bahwa sebuah kampus bisa tumbuh menjadi rumah besar bagi ilmu yang berdampak.¹


Inti Peristiwa (Fakta Singkat)

  • Tanggal Pengukuhan: 7 Februari 2026

  • Nama Guru Besar: Prof. Dr. Tri Evi Triandini, S.P., M.Eng.

  • Bidang Keahlian: Analisis Perangkat Lunak

  • Institusi: ITB STIKOM Bali

  • Signifikansi: Guru besar pertama di ITB STIKOM Bali

  • Fokus Riset: Telerehabilitasi prostetik digital untuk penyandang disabilitas

  • Dampak: Menguatkan reputasi akademik dan komitmen inklusivitas kampus¹

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'