Kepala BPMP Bali: Guru Sulit Menghadirkan Pembelajaran yang Menggembirakan Jika Dirinya Tidak Bahagia
Kepala BPMP Bali: Guru Sulit Menghadirkan
Pembelajaran yang Menggembirakan Jika Dirinya Tidak Bahagia
DENPASAR, 7
Agustus 2026 — Guru
tidak hanya dituntut menghadirkan pembelajaran yang bermakna bagi peserta
didik. Guru juga perlu memiliki ruang untuk menjaga kesehatan emosional,
mengelola tekanan, dan menemukan kembali kegembiraan dalam menjalankan
profesinya.
Pesan
tersebut disampaikan Kepala Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi
Bali, Bapak I Made Alit Dwitama, S.T.,M.Pd. saat memberikan sambutan
sekaligus membuka secara resmi Temu Guru Gembira 2026 di BPMP Provinsi
Bali, Denpasar, Jumat (7/8).
Dalam
sambutannya, Kepala BPMP Bali memberikan apresiasi terhadap inisiatif Tim
Tenaga Ahli Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah serta Ruang Gembira
Belajar yang menghadirkan kegiatan tersebut.
Menurutnya,
kegiatan Temu Guru Gembira memiliki relevansi yang kuat dengan arah
pembelajaran mendalam yang saat ini terus didorong dalam dunia pendidikan.
Ia
menyoroti tiga prinsip pembelajaran mendalam yang disebutnya sebagai berkesadaran,
bermakna, dan menggembirakan.
“Bagaimana
guru bisa menunjukkan kelas yang menggembirakan kalau gurunya sendiri tidak?”
ujarnya.
Pertanyaan
tersebut menjadi salah satu pesan paling kuat dalam sambutannya.
Guru Juga Membutuhkan Ruang untuk Bergembira
Kepala BPMP
Bali mengakui bahwa tantangan yang dihadapi guru di lapangan semakin kompleks.
Guru tidak
hanya menjalankan tugas utama mengajar dan mendampingi peserta didik, tetapi
juga berhadapan dengan berbagai pekerjaan administratif dan tanggung jawab lain
di satuan pendidikan.
Kondisi
tersebut, menurutnya, membuat guru membutuhkan ruang untuk berhenti sejenak,
mengelola tekanan, dan mendapatkan kembali energi positif.
Karena itu,
ia menilai Temu Guru Gembira hadir pada momentum yang tepat.
Ia berharap
para peserta tidak sekadar hadir secara fisik selama tiga hari kegiatan, tetapi
benar-benar memanfaatkan seluruh rangkaian acara sebagai kesempatan untuk
belajar, berefleksi, dan memperkuat diri.
“Mudah-mudahan
nanti kita semua bisa betul-betul mengikuti dan memanfaatkan kegiatan ini,
sehingga walaupun beban berat ... kita bisa mengelola stres dengan baik, bisa
mengelola tekanan dengan baik.”
Dari Diskusi hingga Mindfulness
Temu Guru
Gembira dirancang sebagai ruang belajar dan refleksi dengan pendekatan yang
humanis serta partisipatif.
Dalam
sambutannya, Kepala BPMP Bali menyebut berbagai pendekatan yang akan digunakan
selama kegiatan, antara lain diskusi, refleksi, healing circle,
mindfulness, seni ekspresif, hingga aktivitas luar ruang.
Kerangka
Acuan Kerja kegiatan juga menunjukkan bahwa rangkaian tersebut memang dirancang
untuk memperkuat kesehatan psikologis, hubungan sosial, kemampuan mengelola
stres, serta kolaborasi antarguru.
Secara
khusus, ia menyinggung praktik mindfulness sebagai salah satu pengalaman
yang diharapkan memberikan manfaat bagi peserta.
Ia mengaku
pernah membaca buku mengenai mindfulness dan melihat praktik tersebut memiliki
pesan yang kuat apabila dapat diterapkan secara nyata.
“Saya
pernah belajar bukunya, baca bukunya, tapi pesannya luar biasa.”
Pesan
tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan ini tidak dimaksudkan berhenti pada
konsep. Guru diharapkan mengalami langsung berbagai praktik yang kemudian dapat
mereka refleksikan dan, bila relevan, bawa kembali ke lingkungan sekolah.
Tiga Hari untuk Belajar, Merefleksikan, dan
Merencanakan Aksi
Kepala BPMP
Bali juga mengingatkan peserta agar memanfaatkan tiga hari kegiatan untuk
memperkuat pemahaman terhadap sejumlah isu penting pendidikan.
Di
antaranya adalah Budaya Aman Sekolah Nyaman, literasi digital, serta
kebijakan guru dan tenaga kependidikan.
Agenda
tersebut memang menjadi bagian utama Temu Guru Gembira 2026. Dalam KAK,
kegiatan dirancang untuk memperkuat pemahaman guru mengenai kebijakan
Kemendikdasmen sekaligus meningkatkan kesadaran mengenai kesehatan mental dan
kesejahteraan psikologis.
Namun, bagi
Kepala BPMP Bali, hal yang tidak kalah penting justru adalah apa yang terjadi setelah
tiga hari kegiatan berakhir.
Ia
mendorong peserta mulai memikirkan rencana tindak lanjut.
“Apa
yang bisa kita lakukan setelah kegiatan ini? Apa yang bisa kita lakukan di
lapangan?” demikian pesan yang disampaikannya kepada para guru.
Pertanyaan
itu menjadi penting karena Temu Guru Gembira tidak dirancang sebagai kegiatan
yang berhenti di Bali. Dalam rancangan kegiatan, peserta memang diarahkan untuk
menyusun rencana tindak lanjut dan membangun Komunitas Guru Gembira.
Resmi Dibuka dengan Pemukulan Gong
Setelah
menyampaikan sambutan dan arahannya, Kepala BPMP Provinsi Bali kemudian secara
resmi membuka Temu Guru Gembira 2026.
Pembukaan
ditandai dengan pemukulan gong sebanyak tiga kali.
Dengan
pemukulan gong tersebut, Temu Guru Gembira 2026 resmi dimulai.
Suasana
pembukaan kemudian berubah menjadi lebih hangat dan penuh antusiasme. Para guru
yang hadir memasuki rangkaian kegiatan tiga hari dengan satu pesan yang menjadi
benang merah acara:
kegembiraan
guru bukan pelengkap pendidikan, tetapi bagian penting dari terciptanya
pembelajaran yang menggembirakan.
Dari ruang
pertemuan di BPMP Bali, pesan tersebut mendapatkan bentuk yang lebih konkret:
guru diberi ruang untuk berhenti sejenak, bernapas, belajar, berbagi,
berefleksi, dan kembali menemukan energi untuk mendampingi generasi Indonesia.
Sebab,
sebelum menghadirkan kelas yang menggembirakan, mungkin ada satu pertanyaan
yang perlu dijawab terlebih dahulu:
Apakah
gurunya sendiri sudah merasa gembira?
Donasi Suara Umat atas nama PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967



