Detail Artikel

Ketika Air Menjadi Ujian, Iman Menjadi Pegangan

Ketika Air Menjadi Ujian, Iman Menjadi Pegangan

Siang itu, Denpasar masih menyisakan gerimis. Sejak pagi cuaca tak menentu, awan berarak cepat, seakan menyimpan sisa tangis dari malam-malam panjang ketika banjir menelan rumah dan harapan. Usai salat Zuhur, H. Imam, H. Soleh, dan H. Yogo telah menata perencanaan hari. Sementara Posko Bersama dijaga setia oleh Hj. Nining, Lantip Yayuk, dan owner RM Bundo Kanduang.

Sebagai wartawan Suara Umat, saya mengemas kamera. Misi kami sederhana, tapi penuh makna: memotret yang tak terpotret, menulis yang tak sempat dituliskan. Kijang Inova Hybrid yang dikemudikan H. Yogo merayap ke arah Tohpati, menuju kediaman H. Ujang. Jalanan padat, macet tersendat. Di kiri-kanan, sisa-sisa sampah banjir bertebaran, menumpuk bersama kabel-kabel optik yang kusut, seakan menjadi saksi kelalaian manusia yang baru tersadar saat sinyal wifi terputus.

Mobil terparkir rapi di perumahan dosen Unud. Di seberang, pohon karet tumbuh subur, kontras dengan jalan setapak licin menurun yang kami lewati. Salah memilih gang, gonggongan anjing menyambut dengan nada mencurigakan—antara salam atau ancaman. Hati sedikit was-was, tetapi akhirnya kami menemukan arah. Di gang lain, H. Ujang berdiri, seakan mengerti bahwa gonggongan anjing adalah kabar kedatangan kami.

Jejak Banjir di Dinding Batako

Rumah H. Ujang mulai tampak bersih. Namun, dinding batako tanpa plester masih menyimpan jejak ketinggian air yang melukis garis-garis lumpur. Dapur, kamar mandi, toilet—semuanya pernah lumpuh oleh air. Saat bercerita, mata H. Ujang menyimpan getir. Malam itu, menjelang tahajud, ia terbangun. Kasur yang mestinya menghangatkan justru dingin basah terendam air. Dalam kepanikan, ia menggandeng istrinya, Hj. Siti. Dengan menggendong penuh cinta, ia menuntun langkah melewati tembok licin berlumpur.

Air sudah sepinggang. Waktu bergulir cepat. Di sela teriakan membangunkan tetangga, ia sempat menoleh ke rumahnya—atap genteng yang tersisa, tubuh rumahnya hampir lenyap. Harta hanyut, pakaian terbawa arus, sajadah ikut melayang.

Namun, di antara kehilangan itu, tersisa satu peristiwa ajaib: dari sebuah lemari pendek dengan laci-laci kecil, enam pasang pakaian kerja milik Hj. Siti tetap kering, meski lemari itu basah kuyup. Mukjizat, sebuah pesan dari langit bahwa Allah masih menitipkan bekal untuk melanjutkan hidup.

Silaturahmi yang Tak Pernah Padam

Sejak banjir surut, rumah H. Ujang tak pernah sepi. Bukan hanya Posko Bersama yang hadir, tapi juga IKMS dan kerabat lain. Mereka datang membawa sembako, pakaian, dan pelukan. Kehadiran bukan sekadar logistik, melainkan energi spiritual—pengingat bahwa ujian ini harus dijawab dengan sabar, syukur, dan ibadah yang tak boleh kendur.

H. Ujang, dengan wajah teduh, menutup kisahnya dengan kalimat yang menancap: “Air bisa menghapus harta, tapi jangan sampai menghapus doa dan tahajud kita. Itu yang membuat saya tetap berdiri.”

Menjelang Ashar, kami kembali ke Posko Bersama. Di balik lelah dan lumpur yang masih menempel di jalan, hati kami pulang dengan penuh getar. Banjir memang menyapu rumah, tetapi imanlah yang membangun kembali kehidupan. (RAYD) 

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'