Detail Artikel

Ketika Dua Muslimah IMII Bali Hadir di Ruang Diplomasi Palestina

Ketika Dua Muslimah IMII Bali Hadir di Ruang Diplomasi Palestina

DENPASAR, Suara Umat.id — Ada kehadiran yang tidak gaduh, tetapi meninggalkan gema. Tidak banyak bicara, tidak pula berdiri di tengah panggung, namun keberadaannya menyimpan pesan tentang bagaimana sebuah masyarakat membaca zaman.

Pesan semacam itu terasa dalam Dialog Keumatan dan Kebangsaan yang digelar Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Bali di Denpasar, Minggu (13/9/2026). Di tengah pembicaraan tentang Palestina, konflik Timur Tengah, dan posisi Indonesia dalam pusaran geopolitik dunia, hadir dua perempuan dari keluarga besar Ikatan Muslimah Inspiratif Indonesia (IMII) Bali), yakni Ibu Heny dan Ibu Sri Rahmawati Jayadi, A.P.Farm.

Kehadiran keduanya mungkin tampak sederhana. Namun, di tengah dunia yang semakin ditentukan oleh pergeseran kekuatan, perang informasi, kepentingan energi, dan diplomasi antarnegara, hadir untuk mendengar dan memahami persoalan Palestina sesungguhnya merupakan bagian dari tanggung jawab kewargaan.

Sebab Palestina tidak lagi hanya berada di halaman-halaman berita internasional. Ia telah menjadi cermin bagi dunia Islam dalam membaca keadilan, kemanusiaan, kedaulatan, sekaligus keberanian sebuah bangsa mempertahankan haknya.

Forum MUI Bali itu sendiri mengambil tema “Peran Indonesia dalam mewujudkan Kemerdekaan Bangsa Palestina di Tengah Konflik AS & Israel vs. Iran.” Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia H. Muhammad Anis Matta, Lc. hadir sebagai pembicara utama.

Ketika Muslimah memasuki percakapan kebangsaan

Ada kecenderungan lama yang menempatkan persoalan geopolitik sebagai wilayah yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Diplomasi dianggap milik negara. Perang dianggap urusan militer. Politik luar negeri dianggap percakapan para pejabat di balik pintu-pintu perundingan.

Padahal, dampak dari semuanya dapat sampai ke meja makan keluarga.

Harga energi berubah. Jalur perdagangan terganggu. Ekonomi bergerak tidak menentu. Arus informasi membentuk opini publik. Dan yang paling tragis, konflik di satu kawasan dapat menentukan nasib jutaan manusia yang bahkan tidak pernah memilih untuk berperang.

Karena itu, kehadiran perempuan Muslim dalam forum yang membahas Palestina memiliki arti tersendiri.

Ia menunjukkan bahwa kesadaran kebangsaan tidak semestinya berhenti pada institusi negara. Masyarakat sipil pun memiliki ruang untuk memahami bagaimana Indonesia menempatkan dirinya di tengah perubahan dunia.

Di sinilah kehadiran Ibu Heny dan Sri Rahmawati Jayadi menjadi menarik untuk dibaca.

Mereka tidak hadir sebagai penonton dari sebuah percakapan geopolitik. Mereka hadir sebagai bagian dari masyarakat Muslim yang memiliki kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan dan masa depan bangsa.

IMII Bali dan wajah pengabdian Muslimah

Dalam struktur kepengurusan IMII Bali, organisasi ini memperlihatkan rentang bidang pengabdian yang cukup luas. Ada bidang Kehumasan dan Publikasi; Kemanusiaan, Pendidikan dan Keagamaan; Organisasi, Legal dan Hukum; Pelatihan, Kesehatan, Olahraga dan Remaja; Hak dan Perlindungan Wanita, Sosial dan Pariwisata; UMKM dan Industri Kreatif; serta Exhibition dan Kemitraan.
Susunan itu memperlihatkan bahwa ruang pengabdian Muslimah tidak dibatasi oleh satu pagar.

Perempuan dapat bergerak di bidang pendidikan sekaligus kemanusiaan. Dapat berbicara tentang kesehatan sekaligus perlindungan perempuan. Dapat mengembangkan ekonomi dan industri kreatif, sembari membangun jejaring sosial dan kemitraan.

Dengan kata lain, Muslimah tidak hanya menjadi objek dari perubahan sosial. Ia dapat menjadi subjek yang ikut menggerakkan perubahan itu.

Dalam konteks inilah keterlibatan dalam dialog Palestina memperoleh makna yang lebih luas.

Persoalan Palestina menyentuh kemanusiaan. Tetapi membicarakan Palestina hari ini juga berarti membicarakan hukum internasional, diplomasi, keseimbangan kekuatan, ekonomi, keamanan kawasan, serta posisi Indonesia dalam percaturan dunia.

Dan semua itu pada akhirnya kembali kepada satu pertanyaan mendasar: di mana suara kemanusiaan ditempatkan ketika kepentingan geopolitik sedang saling bertabrakan?

Sekretaris Umum di tengah percakapan tentang Palestina

Sri Rahmawati Jayadi, A.P.Farm., memiliki posisi yang jelas dalam struktur IMII Bali. Ia tercatat sebagai Sekretaris Umum, sementara Ketua Umum dijabat Ir. Hj. Nimmi Gulam, CESP. Struktur tersebut ditetapkan di Bali pada 10 Mei 2026.
Posisi sekretaris dalam sebuah organisasi bukan sekadar urusan administrasi. Ia berada pada salah satu simpul penting yang menjaga komunikasi, kesinambungan organisasi, dan gerak bersama.

Maka, kehadirannya dalam forum MUI Bali dapat dilihat sebagai bagian dari keterlibatan organisasi Muslimah dalam memperluas wawasan keumatan—dari persoalan internal organisasi menuju persoalan dunia yang dampaknya dapat kembali kepada kehidupan masyarakat.

Sementara kehadiran Ibu Heny menambah warna pada partisipasi tersebut.

Namun, berdasarkan susunan pengurus IMII Bali yang tersedia, dokumen tersebut tidak mencantumkan nama maupun jabatan Ibu Heny. Karena itu, penyebutan dirinya dalam berita ini ditempatkan sebagai peserta yang hadir, tanpa memberikan atribusi jabatan yang belum didukung dokumen.

Sikap ini penting dalam kerja jurnalistik: setiap nama memiliki kehormatan, dan setiap jabatan memiliki konsekuensi faktual.

Palestina bukan sekadar peta yang jauh

Di forum MUI Bali, Anis Matta membawa peserta melihat Palestina dalam peta yang lebih luas. Konflik tidak berdiri sendirian sebagai perseteruan dua pihak. Ia berkelindan dengan dinamika kawasan Timur Tengah, jalur perdagangan, energi, dan perebutan pengaruh kekuatan-kekuatan besar.

Pembacaan semacam itu penting karena dunia sedang bergerak menuju konfigurasi yang semakin kompleks.

Sebuah konflik regional dapat memengaruhi harga komoditas di negara lain. Ketegangan di jalur pelayaran dapat mengganggu rantai pasok. Persaingan negara besar dapat membentuk kebijakan ekonomi dan keamanan negara-negara yang berada ribuan kilometer dari medan konflik.

Indonesia pun tidak hidup di luar pusaran itu.

Karena itu, memahami Palestina bukan hanya soal mengetahui apa yang terjadi di Gaza atau wilayah-wilayah konflik lainnya. Ia juga berarti memahami bagaimana Indonesia menentukan sikapnya, bagaimana diplomasi bekerja, dan bagaimana kepentingan nasional dipertemukan dengan amanat konstitusi serta kepedulian terhadap kemanusiaan.

Di sinilah forum seperti Dialog Keumatan dan Kebangsaan memperoleh relevansinya.

Ia menjadi ruang temu antara suara umat dan perspektif negara.

Dari ukhuwah menuju tanggung jawab

Dalam kehidupan organisasi, ukhuwah sering kali dimulai dari sesuatu yang sederhana: pertemuan, kebersamaan, dan saling menguatkan.

Tetapi ukhuwah yang matang tidak berhenti pada lingkaran sendiri.

Ia bergerak keluar, menyentuh persoalan masyarakat, bangsa, bahkan kemanusiaan universal.

Itulah yang membuat kehadiran dua Muslimah IMII Bali dalam dialog Palestina terasa lebih dari sekadar agenda seremonial.

Ada kesadaran bahwa dunia sedang berubah dan umat perlu memahami perubahan itu. Ada kebutuhan untuk membaca persoalan secara lebih utuh agar kepedulian tidak berhenti sebagai emosi, tetapi tumbuh menjadi pengetahuan dan sikap.

Sebab membela kemanusiaan membutuhkan hati yang peka. Tetapi menjaga agar pembelaan itu tidak kehilangan arah membutuhkan pengetahuan.

Bali membaca Palestina

Bali hari itu tidak sedang menentukan jalannya perang di Timur Tengah.

Namun, dari sebuah ruang dialog di Denpasar, masyarakat Muslim Bali ikut membaca apa yang sedang terjadi jauh di luar kepulauan Indonesia.

Di sana, Palestina tidak sekadar hadir sebagai nama sebuah negeri yang terluka. Palestina hadir sebagai pertanyaan tentang dunia macam apa yang hendak diwariskan kepada generasi berikutnya.

Apakah kekuatan selalu lebih menentukan daripada keadilan?

Apakah kepentingan geopolitik dapat menghapus penderitaan manusia?

Dan sejauh mana Indonesia dapat menggunakan diplomasi, kekuatan moral, serta posisi politiknya untuk terus mendorong terwujudnya kemerdekaan Palestina?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak memiliki jawaban sederhana.

Tetapi justru karena itulah ruang-ruang dialog menjadi penting.

Dan di antara suara diplomasi negara, pandangan para ulama, organisasi masyarakat, serta para peserta yang hadir, terdapat pula dua perempuan Muslimah dari IMII Bali yang memilih untuk datang dan mendengarkan.

Dari Bali, Palestina dibaca bukan hanya dengan mata, tetapi dengan kesadaran.

Sebab pada akhirnya, jarak geografis tidak pernah cukup untuk memisahkan manusia dari penderitaan manusia lainnya.

Dan kepedulian, ketika dipertemukan dengan pengetahuan, dapat menjelma menjadi amanah. (RAYD)

   Donasi PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'