Detail Artikel

Ketika Hati Terluka, Al-Qur’an Menuntun Jalan: Ustaz Irfan El Jawas Ajak Umat Teguhkan Iman dengan Ilmu dan Salat

Ketika Hati Terluka, Al-Qur’an Menuntun Jalan: Ustaz Irfan El Jawas Ajak Umat Teguhkan Iman dengan Ilmu dan Salat


Kajian Tafsir At-Tanwir di Denpasar mengingatkan bahwa keteguhan iman tidak cukup dibangun dengan pengetahuan, tetapi harus menjelma menjadi akhlak, kesabaran, dan amal saleh.

DENPASAR, Suara Umat.id – Di tengah kehidupan yang kerap mempertemukan manusia dengan perbedaan, prasangka, bahkan perlakuan tidak adil, Al-Qur’an menghadirkan jalan yang lebih luhur daripada sekadar membalas luka dengan luka. Ia mengajarkan keteguhan iman, kelapangan hati, dan kedekatan kepada Allah sebagai sumber kekuatan menghadapi ujian kehidupan.

Pesan itulah yang mengemuka dalam Kajian Senin Sore bertajuk Tafsir At-Tanwir yang diselenggarakan Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Denpasar, Senin (2/11/2026), di SD Muhammadiyah 2 Denpasar, Jalan Halmahera Nomor 24, Denpasar.

Hadir sebagai pemateri, Ustaz Irfan El Jawas, Lc., Mudir Pondok Pesantren Muhammadiyah Denpasar. Dalam kajian tersebut, ia mengajak jamaah menyelami kandungan Surah Al-Baqarah ayat 109–110, terutama tentang bagaimana seorang muslim menjaga keimanan ketika menghadapi kebencian, ketidakadilan, dan berbagai ujian yang mengguncang hati.

Bagi Irfan, keteguhan beragama tidak lahir dari sikap merasa paling benar tanpa landasan pengetahuan. Keimanan justru perlu dirawat melalui proses belajar yang berkelanjutan. Sebab, ilmu menjadi jalan bagi seorang muslim untuk mengenali perintah dan larangan Allah, memahami tuntunan Rasulullah, serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Ia mengingatkan hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan dari Mu'awiyah bin Abi Sufyan:

Man yuridillahu bihi khairan yufaqqihhu fid-din.

“Barang siapa dikehendaki Allah mendapatkan kebaikan, niscaya Allah akan memahamkannya tentang agama.”

Hadis tersebut, menurutnya, mengandung pesan mendalam bahwa pemahaman agama merupakan salah satu tanda kebaikan yang Allah karuniakan kepada hamba-Nya. Karena itu, belajar agama bukan kegiatan yang dibatasi usia, keadaan, ataupun tahap kehidupan. Ia merupakan perjalanan panjang yang semestinya terus menyertai seorang muslim.

Pesan itu sejalan dengan sabda Rasulullah SAW tentang keutamaan orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya. Ilmu tidak semestinya berhenti sebagai hafalan atau pengetahuan di ruang pengajian, melainkan harus tumbuh menjadi kesadaran, membentuk akhlak, dan menghadirkan manfaat bagi sesama.

Membalas keburukan tanpa kehilangan kemuliaan

Memasuki pembahasan Surah Al-Baqarah ayat 109, Irfan menguraikan bagaimana Al-Qur'an menggambarkan adanya sebagian Ahlul Kitab yang menginginkan orang-orang beriman kembali kepada kekufuran karena kedengkian, meskipun kebenaran telah nyata bagi mereka.

Namun, perhatian utama ayat tersebut tidak berhenti pada gambaran permusuhan. Justru, Allah menghadirkan tuntunan yang menguji kedewasaan spiritual umat Islam:

Fa'fu washfahu hatta ya'tiyallahu bi amrih.

“Maka maafkanlah dan berlapang dadalah sampai Allah memberikan perintah-Nya.”

Menurut Irfan, ayat ini mengajarkan bahwa keburukan tidak harus dibalas dengan keburukan. Seorang muslim dituntut menjaga kemuliaan akhlaknya, sekalipun berhadapan dengan orang yang menyakiti atau merendahkannya.

Memaafkan, dalam pemaknaan ini, bukan berarti membenarkan kezaliman. Bukan pula menyerahkan diri untuk terus-menerus diperlakukan tidak adil. Ada keadaan ketika seseorang perlu mempertahankan hak dan membela dirinya, terutama apabila kezaliman berpotensi berulang dan menimpa orang lain.

Dengan demikian, Islam tidak mengajarkan kelemahan di hadapan ketidakadilan. Islam mengajarkan keseimbangan: tidak membiarkan kebencian menguasai hati, tetapi juga tidak membiarkan kezaliman berlangsung tanpa ikhtiar untuk menghentikannya.

Irfan mengingatkan bahwa kedengkian merupakan penyakit hati yang dapat menyeret manusia kepada kerusakan. Ia mencontohkan kisah Iblis yang menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam karena kesombongan dan kedengkian, serta kisah Qabil yang membunuh Habil akibat iri dan dengki.

Dua kisah tersebut menjadi peringatan bahwa kerusakan besar dalam kehidupan manusia sering kali bermula dari penyakit yang tumbuh diam-diam di dalam hati.

Lebih jauh, ia mengingatkan adanya konsekuensi ketika seseorang mewariskan keburukan kepada orang lain. Jika perilaku buruk ditiru, kemudian diajarkan kembali kepada generasi berikutnya, dampaknya dapat terus meluas. Karena itu, setiap muslim harus berhati-hati terhadap apa yang diajarkan, dicontohkan, dan diwariskan kepada lingkungannya.

Salat: Tempat hati menemukan kembali kekuatan

Pesan kajian kemudian bergerak menuju Surah Al-Baqarah ayat 110, yang memerintahkan umat Islam mendirikan salat dan menunaikan zakat.

Bagi Irfan, keterkaitan pesan ayat 109 dan 110 menyimpan pelajaran penting. Ketika seseorang menghadapi perlakuan tidak adil, salah satu bagian yang paling terasa terluka adalah hatinya. Mengucapkan kata maaf terkadang jauh lebih mudah daripada benar-benar menghadirkan kelapangan di dalam dada.

Di sinilah salat memiliki kedudukan penting. Salat bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan jalan seorang hamba untuk kembali mendekat kepada Allah, menata batin, dan memperoleh kekuatan menghadapi persoalan kehidupan.

Ia menghubungkan pesan tersebut dengan Surah Al-Hijr ayat 97–99. Allah menyampaikan bahwa Dia mengetahui kesempitan dada Nabi Muhammad SAW akibat perkataan orang-orang yang menentangnya. Kemudian Allah memerintahkan Rasulullah bertasbih dengan memuji-Nya dan terus beribadah hingga datangnya al-yaqin, yang dalam penjelasan para mufasir dipahami sebagai kematian.

Pesan ini menunjukkan bahwa bahkan Rasulullah SAW pun menghadapi tekanan, kesedihan, dan perkataan menyakitkan dari orang-orang yang menolak dakwahnya. Namun, Allah memberikan bimbingan agar beliau tidak larut dalam kesedihan, melainkan menguatkan hubungan dengan-Nya.

Irfan mengajak jamaah menjadikan salat sebagai tempat kembali ketika hati terasa berat. Baik melalui salat wajib maupun salat-salat sunah yang disyariatkan, seorang muslim memiliki kesempatan untuk memperbarui ketenangan dan kekuatan batinnya.

Hak manusia tidak pernah luput dari pengadilan Allah

Dalam kehidupan sosial, Irfan juga mengingatkan bahwa manusia memiliki kewajiban sekaligus hak. Kewajiban harus tetap ditunaikan, sedangkan hak harus diperjuangkan melalui jalan yang dibenarkan.

Apabila seseorang mengalami kezaliman dan tidak mampu memperoleh haknya di dunia, hal itu bukan berarti perkara tersebut berakhir. Di hadapan Allah, setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan. Tidak ada kezaliman yang tersembunyi dari pengetahuan-Nya.

Ia menggambarkan keadilan akhirat melalui hadis tentang hewan bertanduk yang pernah menanduk hewan lain yang tidak bertanduk. Pada hari kiamat, hak hewan yang dizalimi pun dipulihkan. Gambaran tersebut memperlihatkan betapa luas dan sempurnanya keadilan Allah.

Karena itu, manusia tidak boleh merasa bahwa kekuasaan, kedudukan, atau kemampuan menghindari tuntutan hukum dunia dapat menghapus pertanggungjawaban di hadapan Sang Pencipta.

Ayat 110 kemudian memberikan penegasan bahwa setiap kebaikan yang dikerjakan manusia akan didapati balasannya di sisi Allah. Salat, zakat, sedekah, dan berbagai amal kebajikan bukanlah perbuatan yang hilang begitu saja. Semuanya tercatat dalam pengetahuan Allah.

Ilmu harus melahirkan akhlak dan peradaban

Pada akhirnya, kajian ini menyampaikan pesan yang lebih luas daripada sekadar pemahaman terhadap ayat-ayat Al-Qur'an. Belajar agama harus membawa perubahan nyata dalam cara manusia berpikir, bersikap, dan memperlakukan sesamanya.

Keimanan yang benar semestinya melahirkan pribadi yang tidak mudah diombang-ambingkan oleh kebencian, tidak dikuasai kedengkian, serta tidak menjadikan ketidakadilan sebagai alasan untuk kehilangan akhlak.

Dalam perspektif gerakan Muhammadiyah, semangat tersebut menemukan relevansinya dengan tradisi tajdid dan pencerahan. Al-Qur'an tidak hanya dibaca untuk memperoleh pengetahuan, tetapi juga dipahami sebagai petunjuk yang harus dihadirkan dalam kehidupan. Ilmu, ibadah, akhlak, dan kepedulian sosial menjadi bagian yang saling menguatkan.

Kajian Senin Sore itu pun mengingatkan bahwa kekuatan seorang muslim tidak semata-mata terletak pada kemampuannya menghadapi orang lain, tetapi juga pada kesanggupannya mengendalikan diri, mempertahankan kebenaran, dan tetap berbuat baik ketika keadaan tidak berpihak kepadanya.

Sebab, hati yang dekat dengan Allah tidak berarti bebas dari luka. Namun, kedekatan itulah yang membuat seseorang tidak kehilangan arah ketika luka datang menyapa.

Ilmu menerangi pikiran, salat menguatkan jiwa, dan akhlak membuktikan kualitas keimanan. Itulah jalan yang semestinya terus dirawat umat Islam dalam membangun kehidupan yang berkemajuan dan berkeadaban.

  (RAYD) Donasi PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'