Ketika Sertifikat Mengalahkan Kompetensi
Ketika Sertifikat Mengalahkan Kompetensi
Apakah Pendidikan Vokasi Sedang Kehilangan Ruhnya?
Oleh: Chef
Alit
"Jika
kompetensi dapat kedaluwarsa hanya karena masa berlaku sertifikat habis, maka
sesungguhnya yang sedang kita bangun bukanlah sistem pendidikan, melainkan
sistem administrasi."
Kalimat itu
mungkin terdengar keras. Namun, bagi banyak praktisi pendidikan vokasi, itulah
kenyataan yang perlahan menjadi ironi.
Selama
lebih dari tiga dekade, saya hidup di dua dunia yang saling melengkapi: industri
dan pendidikan.
Perjalanan
saya dimulai di industri pariwisata pada tahun 1990. Dari dapur hotel
berbintang saya belajar bahwa profesionalisme tidak pernah lahir dari teori
semata. Ia ditempa oleh disiplin, tekanan, kesalahan, kegagalan, dan pengalaman
yang terus berulang.
Saya
dipercaya mengemban berbagai posisi, mulai dari Chef Tournant, Sous
Chef, Kitchen Artis, hingga Kitchen Trainer. Kesempatan belajar dan Mempromosikan
masakan Indonesia di Prancis,
Thailand, dan Malaysia membuka cakrawala bahwa standar kompetensi bukan
hanya tentang kemampuan memasak, tetapi juga tentang karakter, ketelitian, dan
budaya kerja.
Di sisi
lain, sejak 1998, saya mulai mengajar.
Pagi hingga
siang saya berdiri di depan siswa, SMK. Juga membimbing peserta didik di
Lembaga Pelatihan Kerja.
Sore hari
saya kembali mengenakan seragam hotel.
Banyak
orang bertanya, mengapa harus mengajar ketika masih bekerja di hotel?
Jawaban
saya sederhana.
Saya tidak
ingin ilmu yang berkembang di industri berhenti di dapur hotel. Saya ingin ia
langsung sampai ke ruang kelas.
Karena
dunia pariwisata berubah sangat cepat.
Teknik baru
lahir.
Standar
pelayanan berubah.
Teknologi
berkembang.
Jika guru
vokasi berhenti bersentuhan dengan industri, maka yang terjadi adalah rantai
pengetahuan yang terputus.
Siswa akan
belajar masa lalu untuk menghadapi masa depan.
Itulah
sebabnya selama bertahun-tahun saya memilih menjalani dua profesi sekaligus.
Saya tetap
bekerja secara profesional di hotel, sekaligus mengajar di berbagai SMK di
Tabanan, Denpasar, dan Badung, di Balai Latihan Kerja, serta
berbagai Lembaga Pelatihan Kerja (LPK).
Saya juga
dipercaya sebagai Kitchen Artist, Fruit Carving Artist, juri
berbagai lomba keterampilan, termasuk Pesta Kesenian Tabanan, memperoleh
penghargaan sebagai Guru Berprestasi Kabupaten Tabanan, memiliki Sertifikat
Pendidik, dan dipercaya menjadi Asesor Kompetensi.
Semua itu
saya jalani dengan satu keyakinan.
Ilmu tidak
boleh berhenti pada diri sendiri. Ilmu harus diwariskan.
Namun, pada
suatu titik, saya harus menerima kenyataan yang membuat hati bertanya.
Bukan
karena saya kehilangan kemampuan mengajar.
Bukan
karena saya tidak lagi menguasai kompetensi.
Bukan pula
karena peserta didik tidak lagi membutuhkan pengalaman saya.
Tetapi
karena saya tidak memperpanjang beberapa sertifikat profesi.
Bukan
karena tidak mau.
Melainkan
karena biaya perpanjangan yang harus ditanggung secara pribadi.
Sebagian
memang dibantu oleh lembaga tempat saya mengajar.
Namun
sebagian besar tetap harus saya tanggung sendiri.
Begitu pula
sertifikat asesor kompetensi.
Ironisnya,
biaya perpanjangan itu sering kali lebih berat daripada manfaat yang langsung
dirasakan oleh para pendidik.
Akibatnya,
saya tidak lagi dapat mengajar di salah satu LPK.
Puluhan
tahun pengalaman industri, ribuan jam mengajar, serta kompetensi yang terus
diperbarui melalui praktik nyata, seolah kalah oleh habisnya masa berlaku
selembar dokumen.
Yang lebih
ironis, ketika harus menguji siswa di SMK, saya pernah menggunakan sertifikat
asesor milik rekan lain karena secara administratif sertifikat saya belum
diperpanjang.
Padahal
kemampuan menguji tidak berubah.
Pengalaman
industri tidak hilang.
Kompetensi
tidak berkurang.
Yang
berubah hanyalah status administratif.
Di sinilah
kegelisahan itu bermula.
Apakah
kompetensi benar-benar hilang ketika masa berlaku sertifikat habis?
Apakah
pengalaman tiga puluh tahun menjadi tidak bernilai hanya karena belum membayar
biaya perpanjangan?
Ataukah
kita sedang membangun sistem yang tanpa sadar lebih menghargai administrasi
daripada kompetensi?
Saya tidak
sedang menolak sertifikasi.
Justru
sebaliknya.
Sertifikasi
sangat penting untuk menjaga standar mutu, profesionalisme, dan kepercayaan
masyarakat.
Namun sertifikat
seharusnya menjadi bukti kompetensi, bukan pengganti kompetensi.
Kompetensi
lahir dari pengalaman.
Kompetensi
tumbuh melalui praktik.
Kompetensi
berkembang karena terus belajar.
Sedangkan
sertifikat hanyalah pengakuan administratif atas proses panjang tersebut.
Sayangnya,
dalam praktiknya, yang sering terjadi justru sebaliknya.
Sistem
lebih sibuk memeriksa tanggal kedaluwarsa sertifikat daripada melihat kualitas
orang yang memegangnya.
Padahal
pendidikan vokasi dibangun untuk mendekatkan sekolah dengan dunia kerja.
Guru vokasi
idealnya adalah orang-orang yang masih hidup di tengah industri, memahami
perubahan, menguasai teknologi terbaru, dan membawa pengalaman nyata ke ruang
kelas.
Jika mereka
perlahan tersingkir hanya karena tidak mampu membayar biaya perpanjangan
sertifikat, maka sesungguhnya yang dirugikan bukan para guru.
Yang
dirugikan adalah para siswa.
Karena
mereka kehilangan kesempatan belajar dari orang-orang yang benar-benar memahami
dunia kerja.
Hari ini
kita sedang berbicara tentang Indonesia Emas 2045.
Tentang
bonus demografi.
Tentang
kebutuhan tenaga kerja yang kompeten.
Tetapi
cita-cita itu tidak akan lahir hanya dari tumpukan sertifikat.
Ia lahir
dari guru-guru yang terus belajar, terus berkarya, terus berada di tengah
industri, lalu dengan ikhlas membagikan pengalaman kepada generasi berikutnya.
Sudah
saatnya kita mulai memikirkan sistem sertifikasi yang lebih berpihak kepada
para pendidik.
Mungkin
melalui subsidi penuh bagi guru vokasi.
Mungkin
melalui rekognisi pengalaman kerja.
Atau
melalui mekanisme pembaruan kompetensi yang tidak semata-mata diukur dari
kemampuan membayar biaya administrasi.
Karena
sejatinya, investasi terbesar dalam pendidikan bukanlah pada selembar
sertifikat, melainkan pada manusia yang membawa ilmu di balik sertifikat itu.
Mari kita
jaga marwah pendidikan vokasi.
Jangan
biarkan guru-guru terbaik kehilangan ruang mengabdi hanya karena selembar
dokumen yang masa berlakunya habis.
Sebab pada
akhirnya, siswa tidak belajar dari sertifikat yang tergantung di dinding.
Mereka
belajar dari guru yang mampu menyalakan harapan, menularkan keterampilan, dan
menginspirasi kehidupan.
Dan sejarah
selalu membuktikan, kompetensi sejati tidak pernah lahir dari stempel,
tetapi dari pengabdian yang panjang.
(RAYD) Donasi Suara Umat atas nama PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967



