Ketua DMI Denpasar: Dari Mushola Baitul Mu’minin, Kita Belajar Membangun Peradaban Umat
Ketua DMI Denpasar: Dari Mushola Baitul Mu’minin,
Kita Belajar Membangun Peradaban Umat
Denpasar — Keberhasilan penggalangan dana wakaf
pembebasan lahan Mushola Baitul Mu’minin tidak hanya menuai rasa syukur dari
jamaah, tetapi juga mendapat perhatian khusus dari tokoh kemasjidan di Bali.
Salah satunya adalah H. Mardi Soemitro, yang hadir langsung dalam acara
tasyakuran di lingkungan Yayasan Baitul Mu'miniin BKDI Bali.
Dalam wawancara bersama media, ia menyampaikan
apresiasi mendalam terhadap semangat jamaah yang dinilainya telah melampaui
batas-batas konvensional dalam pengelolaan mushola.
“Apa yang dilakukan di Mushola Baitul Mu’minin ini
adalah contoh nyata bagaimana masjid bisa hidup—bukan hanya untuk ibadah, tapi
untuk seluruh aktivitas umat,” ujarnya.
Masjid Hidup, Umat Tumbuh
Sebagai Ketua Dewan Masjid Indonesia Kota Denpasar,
Mardi Soemitro menekankan pentingnya mengubah cara pandang terhadap fungsi
masjid dan mushola.
Menurutnya, selama ini masih banyak pengurus yang
membatasi peran masjid hanya pada ibadah ritual. Padahal, jika dikelola dengan
visi yang luas, masjid bisa menjadi pusat pemberdayaan umat.
“Masjid itu harus memakmurkan dan dimakmurkan.
Kalau masjid hidup, jamaahnya pasti ikut tumbuh—secara spiritual, sosial,
bahkan ekonomi,” tegasnya.
Ia melihat Mushola Baitul Mu’minin telah bergerak
ke arah tersebut, dengan berbagai program yang menyentuh kebutuhan masyarakat
secara nyata.
Mindset dan Keberanian Membuat
Program
Dalam pandangannya, keberhasilan wakaf senilai
miliaran rupiah yang dicapai dalam waktu sekitar satu tahun bukanlah kebetulan.
Ada fondasi kuat berupa perubahan mindset.
“Kuncinya ada pada keberanian membuat program.
Jangan tunggu ada uang baru bergerak. Justru buat program dulu, publikasikan,
maka kepercayaan akan datang, dan donasi akan mengikuti,” jelasnya.
Pendekatan ini, lanjutnya, menjadi strategi penting
dalam menggerakkan partisipasi umat, terutama di era digital saat ini.
Empat Pilar Masjid Masa Depan
Mardi Soemitro juga memaparkan arah besar
pengembangan masjid yang saat ini didorong oleh Dewan Masjid Indonesia,
khususnya di Denpasar:
1. Manajemen Masjid Profesional
Masjid harus dikelola dengan sistem yang rapi, transparan, dan akuntabel.
2. Ekonomi Umat Berbasis Masjid
Dari bazar, UMKM, hingga layanan sosial seperti pengobatan gratis—semua menjadi
pintu masuk jamaah.
“Orang datang ke masjid tidak harus selalu karena
ibadah, tapi bisa karena kebutuhan. Dari situ hati mereka akan terikat.”
3. Masjid Ramah Lingkungan
Kesadaran menjaga lingkungan menjadi bagian dari dakwah, termasuk pengelolaan
sampah dan penggunaan sumber daya yang bijak.
4. Digitalisasi Masjid
Pemanfaatan teknologi seperti Google Maps, media sosial, dan platform digital
lainnya menjadi keharusan.
“Masjid harus mudah ditemukan, mudah diakses, dan
aktif di ruang digital.”
Inklusivitas di Tengah
Keberagaman
Di Bali, pendekatan inklusif menjadi fondasi utama.
Mardi Soemitro menekankan pentingnya membangun komunikasi dengan semua pihak,
termasuk tokoh adat dan pemerintah setempat.
“Masjid tidak boleh eksklusif. Kita harus hadir
untuk semua, membangun hubungan baik dengan lingkungan sekitar,” ujarnya.
Ia juga mengangkat nilai lokal menyama braya
sebagai prinsip hidup berdampingan yang harmonis, yang sejalan dengan nilai
Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.
Seruan untuk Pengurus Masjid
Menutup wawancara, H. Mardi Soemitro menyampaikan
ajakan kepada seluruh pengurus masjid, khususnya di Bali:
“Mari kita jadikan masjid sebagai pusat peradaban
umat. Berani membuat program, berani berkolaborasi, dan terus menjaga
komunikasi dengan semua pihak.”
Baginya, keberhasilan Mushola Baitul Mu’minin
adalah bukti bahwa dengan niat yang kuat, strategi yang tepat, dan kebersamaan
umat, hal besar dapat diwujudkan—bahkan dari sebuah mushola di sudut kota
Denpasar.
Dari sana, sebuah pesan mengalir kuat: bahwa masjid
bukan hanya tempat sujud, tetapi juga tempat lahirnya solusi bagi umat.
(Laporan: Suara Umat.id | Denpasar (AMBAR & RAYD)



