Ketua MUI Provinsi Bali Tekankan Sinergi Ulama dan Pemerintah dalam Bingkai Moderasi
Ketua MUI Provinsi Bali Tekankan Sinergi
Ulama dan Pemerintah dalam Bingkai Moderasi
Mangupura
— Dalam rangkaian Halalbihalal dan pengukuhan kepengurusan Majelis Ulama
Indonesia (MUI) Kabupaten Badung periode 2026–2031, sambutan Ketua MUI Provinsi
Bali, Drs. KH. Mahrusun
Hadiyono, M.Pd.I., menjadi salah satu penegas arah gerak
keulamaan di Pulau Dewata. Disampaikan dengan gaya komunikatif dan reflektif,
pidato tersebut menyoroti pentingnya harmoni, kolaborasi, serta penguatan
moderasi beragama di tengah masyarakat majemuk.
Mengawali
sambutannya dengan penghormatan kepada para tokoh agama, unsur pemerintah,
serta seluruh tamu undangan, ia menekankan bahwa momentum ini bukan sekadar
seremoni, melainkan ruang konsolidasi umat. “Kita hadir di sini sebagai satu bangsa dan satu umat beragama
yang memiliki tanggung jawab untuk saling menghormati dan menjaga kebersamaan,”
ungkapnya.
Ia
menegaskan bahwa keberagaman di Bali merupakan anugerah yang harus dirawat
dengan bijak. Dalam konteks tersebut, MUI memiliki peran strategis sebagai
penjaga nilai-nilai keagamaan sekaligus penguat harmoni sosial. “Persaudaraan tidak hanya dibangun dalam
lingkup keagamaan, tetapi juga dalam kebangsaan dan kemanusiaan,”
tegasnya.
Lebih
lanjut, KH. Mahrusun Hadiyono menyoroti pentingnya sinergi antara ulama dan
pemerintah. Ia menolak dikotomi yang memisahkan keduanya, dan justru menegaskan
bahwa kolaborasi adalah keniscayaan dalam membangun masyarakat yang adil dan
sejahtera. “Majelis Ulama
tidak bisa berjalan sendiri, sebagaimana pemerintah juga tidak bisa bekerja
tanpa dukungan moral dan spiritual dari para ulama,” ujarnya.
Dalam
pidatonya, ia juga mengapresiasi langkah MUI Badung yang menginisiasi
Halalbihalal kolaboratif lintas organisasi kemasyarakatan Islam. Menurutnya,
pendekatan ini tidak hanya efisien secara teknis, tetapi juga memperkuat rasa
persatuan di antara elemen umat. “Ini
adalah contoh konkret bagaimana kebersamaan dapat diwujudkan dalam tindakan
nyata,” tambahnya.
Ia
turut menyinggung pentingnya menjaga kerukunan antarumat beragama sebagai
fondasi utama kehidupan sosial di Bali. Dalam hal ini, moderasi beragama
menjadi kunci agar perbedaan tidak menjadi sumber konflik, melainkan kekuatan
yang memperkaya. “Selama kita
mampu menjaga keseimbangan antara keyakinan dan toleransi, maka harmoni akan
tetap terjaga,” katanya.
Menutup
sambutannya, KH. Mahrusun Hadiyono menyampaikan harapan agar kepengurusan MUI
Badung yang baru dapat menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab dan
integritas. Ia juga mendorong agar MUI terus hadir sebagai mitra strategis
pemerintah, sekaligus pelayan umat yang responsif terhadap kebutuhan zaman.
“MUI harus menjadi penguat, bukan pemisah. Menjadi penyejuk,
bukan pemicu. Dan yang terpenting, menjadi teladan dalam menjaga persatuan umat
dan bangsa,”
pungkasnya.
Sambutan
tersebut menjadi penutup yang kuat dalam rangkaian acara, sekaligus menegaskan
bahwa di tengah keberagaman Bali, moderasi
beragama bukan sekadar konsep, melainkan jalan hidup yang harus terus dirawat
dan diperjuangkan bersama.
(AMBAR
& RAYD) Donasi Suara Umat atas nama PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK.
7326712967



