Ketua Panitia Hari Santri di Bali Ajak Umat Mengenang Resolusi Jihad dan Merawat Syukur atas Kemerdekaan
Ketua Panitia Hari Santri di Bali Ajak Umat Mengenang Resolusi Jihad dan Merawat Syukur atas Kemerdekaan
SuaraUmat.id | DENPASAR, BALI — Peringatan Hari Santri Nasional bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan momentum untuk mengenang perjuangan ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan sekaligus memperbarui semangat pengabdian kepada umat dan bangsa.
Pesan itu mengemuka dalam sambutan Ketua Panitia peringatan Hari Santri Nasional 2026, Dr. K.H. Muhammad Maimun Nur, M.Pd., dalam kegiatan Pengajian Akbar dan Dialog Kiai–Santri yang digelar Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) bersama Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) di Pendopo Joglo Kalifa Nusantara, Denpasar, Bali, Sabtu (17/10/2026).
Dalam sambutannya, Maimun menyampaikan terima kasih kepada para ulama, kiai, ustaz, santri, dan seluruh undangan yang hadir. Ia juga menyampaikan permohonan maaf atas berbagai keterbatasan dalam penyelenggaraan kegiatan serta ketidakhadiran sejumlah undangan yang sebelumnya telah mengabarkan keadaan mereka.
Di tengah situasi yang belum sepenuhnya ideal, ia berharap kegiatan tetap berlangsung dengan baik dan menjadi ruang silaturahmi yang membawa manfaat. Ia juga mendoakan agar keadaan segera membaik sehingga masyarakat dapat menjalankan aktivitas duniawi maupun keagamaan dalam suasana aman, damai, dan sejahtera.
Bagi Maimun, kehadiran para peserta merupakan bentuk dukungan yang patut disyukuri. Ia pun berharap seluruh tamu yang datang dari berbagai tempat dapat kembali ke kediaman masing-masing dengan selamat.
Mengenang jasa ulama dan Resolusi Jihad
Salah satu pokok penting dalam sambutan tersebut ialah ajakan untuk mengingat jasa para pahlawan, terutama para ulama yang berperan dalam menggerakkan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Maimun menyoroti peran Hadratussyekh K.H. Hasyim Asy’ari dalam Resolusi Jihad, sebuah tonggak sejarah yang menegaskan keterlibatan ulama dan santri dalam perjuangan bangsa pada masa awal kemerdekaan.
Dalam konteks peringatan Hari Santri, pengenangan sejarah itu bukan semata-mata untuk mengulang kisah perjuangan masa lalu. Lebih dari itu, sejarah menjadi pengingat bahwa kemerdekaan lahir dari pengorbanan, keberanian, dan pengabdian banyak pihak yang patut dihormati oleh generasi penerus.
Semangat tersebut, menurut pesan yang disampaikan dalam sambutan, perlu diteruskan melalui kontribusi nyata sesuai tantangan zaman. Santri dan masyarakat pesantren memiliki tanggung jawab untuk menjaga nilai-nilai perjuangan, memperkuat kehidupan keagamaan, dan turut memberikan manfaat bagi lingkungan serta bangsa.
Syukur bukan hanya ucapan
Dalam sambutannya, Maimun juga mengingatkan pentingnya bersyukur dan menghargai kebaikan orang lain. Ia merujuk pada hadis yang maknanya menyatakan bahwa orang yang tidak berterima kasih kepada manusia belum sempurna dalam bersyukur kepada Allah.
Pesan itu menjadi pengingat bahwa rasa syukur tidak hanya diwujudkan melalui doa dan ucapan, tetapi juga melalui sikap menghargai pertolongan, pengorbanan, dan kebaikan sesama.
Dalam sebuah kegiatan yang mempertemukan kiai, santri, pendidik, dan masyarakat, nilai tersebut menemukan bentuknya melalui silaturahmi dan gotong royong. Terselenggaranya kegiatan bukan semata-mata hasil kerja panitia, melainkan juga dukungan para peserta dan pihak-pihak yang ikut menyukseskannya.
Maimun menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang hadir dan mendukung kegiatan tersebut. Ia berharap kebersamaan yang terbangun dalam peringatan Hari Santri dapat memperkuat hubungan antarelemen umat sekaligus menumbuhkan semangat untuk terus berbuat baik.
Merawat semangat pengabdian dari Bali
Peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Denpasar mengangkat tema “Santri Bersatu, Berkhidmat untuk Umat dan Negeri.” Tema ini memberi penekanan bahwa peran santri tidak berhenti pada penguasaan ilmu agama, tetapi juga mencakup pengabdian kepada masyarakat dan tanggung jawab terhadap kehidupan berbangsa.
Dalam konteks Bali yang memiliki masyarakat dengan latar belakang agama dan budaya beragam, semangat pengabdian tersebut memiliki makna tersendiri. Kehadiran santri di tengah masyarakat diharapkan menjadi bagian dari ikhtiar merawat hubungan baik, memperkuat kepedulian sosial, dan menjaga kehidupan bersama yang damai.
Sambutan ketua panitia menjadi pembuka bagi rangkaian kegiatan yang kemudian dilanjutkan dengan dialog kiai–santri dan tausiah utama oleh Prof. Dr. K.H. Asep Saifuddin Chalim, M.A. Berbagai pembahasan dalam acara itu mengarah pada pentingnya menjaga tradisi pesantren, membangun karakter, serta menyiapkan santri menghadapi perubahan zaman.
Dari pendopo di Denpasar, pesan yang disampaikan Maimun mengingatkan bahwa mengenang perjuangan para ulama semestinya beriringan dengan kesediaan meneruskan nilai-nilai perjuangan tersebut. Rasa syukur, penghormatan kepada para pendahulu, dan kepedulian terhadap sesama perlu tumbuh menjadi pengabdian yang dapat dirasakan manfaatnya oleh umat dan negeri. (RAYD)



