Ketua Terpilih FAHMI UMMI Bali: Amanah Bukan Seremoni, Perempuan Harus Mengisi Bali dengan Manfaat
Ketua Terpilih FAHMI UMMI Bali: Amanah Bukan
Seremoni, Perempuan Harus Mengisi Bali dengan Manfaat
Dr. Hj. Zuhro Nurindahwati SH., MH.: FAHMI UMMI
Harus Bersinergi dengan Seluruh Organisasi Perempuan untuk Merawat Toleransi di
Bali
Badung,
Suara Umat.id —
Pelantikan bukanlah garis akhir sebuah kepemimpinan. Bagi Dr. Zuhro Nurindahwati,
Ketua Pimpinan Wilayah FAHMI UMMI Provinsi Bali periode 2026–2031,
pelantikan justru merupakan titik awal untuk membuktikan bahwa sebuah amanah
organisasi dapat diterjemahkan menjadi kerja nyata dan manfaat bagi masyarakat.
Pesan itu
disampaikan Zuhro dalam sambutannya setelah dikukuhkan sebagai Ketua PW
FAHMI UMMI Bali dalam acara pelantikan Pengurus Wilayah FAHMI UMMI Provinsi
Bali dan Pengukuhan Pengurus Daerah FAHMI UMMI kabupaten/kota se-Bali, Rabu
(23/9/2026), di Ruang Sidang Utama Gosana, Kantor DPRD Kabupaten Badung,
Sempidi, Mengwi.
Di hadapan
jajaran pengurus, pemerintah, tokoh masyarakat, serta organisasi perempuan yang
hadir, Zuhro menegaskan bahwa menerima amanah kepemimpinan tidak semestinya
dipahami sebagai kebanggaan personal.
Menurut
dia, kepemimpinan organisasi harus bertumpu pada kesadaran bahwa setiap amanah
pada akhirnya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
“Sebuah
pelantikan ini tidak hanya sekadar seremoni belaka, tetapi sebuah momentum,”
kata Zuhro.
Ia
mengatakan, amanah tersebut akan menjadi landasan bagi dirinya dan seluruh
jajaran PW FAHMI UMMI Bali dalam menjalankan roda organisasi sesuai dengan
anggaran dasar dan anggaran rumah tangga.
Karena itu,
ia meminta dukungan, doa, bimbingan, dan sinergi dari seluruh elemen
masyarakat.
“Mohon doa
restunya, mohon bimbingannya, serta support seluruh elemen, baik pemerintah,
tokoh masyarakat, serta seluruh ormas perempuan,” ujarnya.
Merawat Bali dengan Toleransi
Salah satu
pesan paling kuat dalam sambutan Zuhro adalah keinginannya agar FAHMI UMMI Bali
tidak berjalan sendiri. Organisasi perempuan, menurut dia, harus membangun
ruang kerja bersama untuk menghadirkan kehidupan sosial yang lebih baik.
Ia menyebut
Bali sebagai wilayah yang memiliki karakter sosial dan keagamaan yang khas.
Karena itu, keberadaan FAHMI UMMI di Bali diharapkan mampu memberi warna pada
kehidupan masyarakat melalui praktik toleransi yang dapat dirasakan secara
nyata.
“Bagaimana
membawa Bali menjadi sebuah pulau yang notabene minoritas, tapi memberikan
nuansa toleransi yang benar-benar dapat dirasakan seluruh umat yang ada di
Provinsi Bali,” katanya.
Pernyataan
tersebut sekaligus memperlihatkan arah kepemimpinan FAHMI UMMI Bali lima tahun
ke depan: tidak sekadar membangun struktur internal organisasi, tetapi ikut
mengambil bagian dalam merawat ruang sosial Bali.
Bagi Zuhro,
perempuan memiliki posisi penting dalam agenda tersebut.
Ia
mengingatkan bahwa peran perempuan tidak berhenti pada persoalan penampilan
atau ruang domestik semata. Perempuan, kata dia, harus mampu mengambil bagian
dalam mengisi kehidupan sosial dan membangun masa depan Bali.
“Fenomena
perempuan tidak hanya sebagai perempuan yang pandai berhias, tapi bagaimana
perempuan ke depan untuk mengisi Pulau Bali ini menjadi sebuah pulau yang lain
daripada yang lain,” ujarnya.
Mengajak Ormas Perempuan Berjalan Bersama
Karena itu,
Zuhro menyerukan agar seluruh organisasi perempuan di Bali tidak berjalan dalam
ruang masing-masing.
Ia mengajak
organisasi-organisasi perempuan membangun sinergi, bertukar gagasan, dan
menghadirkan agenda bersama yang memberi manfaat lebih luas.
“Mari kita
tunjukkan seluruh ormas perempuan, mari kita bersinergi untuk bisa memberikan
suatu wacana kepada perempuan yang lebih baik dari yang sudah baik,” katanya.
Pesan
tersebut menjadi penting karena tema besar pelantikan FAHMI UMMI Bali sendiri
adalah “Peran Perempuan Merajut Kerukunan Umat Beragama di Bali.”
Dengan
demikian, menurut arah yang disampaikan Zuhro, kerukunan tidak cukup
dibicarakan sebagai gagasan. Ia perlu diterjemahkan melalui hubungan sosial,
kerja sama lintas organisasi, dan kontribusi nyata perempuan di tengah
masyarakat.
Mengisi Sisa Usia dengan Keberkahan
Nada
religius juga kuat dalam sambutan Ketua PW FAHMI UMMI Bali tersebut. Zuhro
mengaitkan amanah organisasi dengan kesadaran tentang keterbatasan usia
manusia.
Ia
mengingatkan bahwa tidak seorang pun mengetahui kapan akan kembali kepada
Allah. Karena itu, masa kepemimpinan harus digunakan untuk menghadirkan
keberkahan dan manfaat.
“Usia kita
tidak ada yang tahu. Hanya Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tahu kapan kita
akan kembali ke ribaan-Nya,” ujarnya.
Dari
kesadaran itu, ia mengajak para perempuan yang tergabung dalam FAHMI UMMI untuk
mengisi sisa usia dengan karya yang memiliki nilai kemanfaatan.
“Mari
terutama hormat-hormat perempuan, mari kita berjibaku mengisi sisa usia ini
dengan sebuah keberkahan, sebuah manfaat yang akan mengiringi kita ketika Allah
memanggil kita semuanya,” katanya.
Apresiasi untuk Pemerintah dan DPRD Badung
Dalam
sambutannya, Zuhro juga menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang
mendukung terselenggaranya pelantikan tersebut.
Ia secara
khusus menyebut dukungan Made Gajah, yang menurutnya membuka ruang
komunikasi dan membantu FAHMI UMMI dalam mempersiapkan kegiatan.
Zuhro
menilai dukungan tersebut membuat FAHMI UMMI Bali merasa tidak berdiri
sendirian dalam menjalankan agenda organisasi.
Ia juga
menyampaikan terima kasih kepada jajaran Pemerintah Kabupaten Badung dan DPRD
Kabupaten Badung yang telah memfasilitasi penggunaan Ruang Sidang Utama Gosana
sebagai tempat pelantikan.
Menurut
Zuhro, penggunaan ruang tersebut memiliki makna tersendiri karena menjadi
simbol keterbukaan lembaga publik terhadap kegiatan masyarakat.
“Ini tempat
rakyat dan alhamdulillah rakyat bisa duduk di sini,” ujarnya.
Ia juga
mengapresiasi jajaran panitia, staf, protokol, serta pihak-pihak lain yang
membantu kelancaran acara.
Bagi Zuhro,
suksesnya pelantikan bukan hasil kerja satu orang atau satu kelompok.
“Ini
bukannya kerja kita sendiri, tapi kekompakan dan kebersamaan yang kita
wujudkan,” katanya.
Kepemimpinan yang Dimulai dari Amanah
Pada
akhirnya, sambutan Ketua PW FAHMI UMMI Bali periode 2026–2031 itu kembali
kepada satu kata: amanah.
Bagi Zuhro,
jabatan organisasi bukanlah ruang untuk mengejar kebanggaan diri. Ia adalah
tanggung jawab yang harus dijalankan dengan ketulusan, kebersamaan, dan
kesediaan untuk terus belajar.
Dari titik
itulah FAHMI UMMI Bali akan memasuki periode kepengurusan baru.
Bukan
sekadar dengan struktur baru, tetapi dengan tantangan yang lebih besar:
bagaimana perempuan hadir sebagai kekuatan sosial yang mampu merajut hubungan,
memperluas sinergi, dan menjadikan toleransi bukan sekadar slogan, melainkan
pengalaman yang dirasakan masyarakat Bali.
Di
penghujung sambutannya, Zuhro menyampaikan pantun yang sekaligus menjadi pesan
sederhana bagi kepengurusan yang baru dilantik:
Pergi ke
sawah untuk menanam padi,
Acara pelantikan FAHMI UMMI Bali sudah selesai.
Dukungan para hadirin dinanti,
Supaya kami tetap amanah dan berjaya. (RAYD)
Donasi PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967



