KH Tafsir: Dakwah di Bali Harus Membaca Tradisi, Merawat Akhlak, dan Menghadirkan Kemajuan
KH Tafsir: Dakwah di Bali Harus Membaca Tradisi, Merawat Akhlak, dan Menghadirkan Kemajuan
DENPASAR — Dakwah tidak selalu tumbuh
dengan cara yang sama di setiap tempat. Ia membutuhkan kemampuan membaca ruang,
memahami masyarakat, merawat tradisi, dan menghadirkan nilai Islam tanpa
kehilangan akar kemanusiaannya.
Di tengah
masyarakat Bali yang kaya dengan tradisi dan keberagaman, dakwah Muhammadiyah
dituntut bukan hanya memiliki keteguhan prinsip, tetapi juga kecerdasan membaca
konteks.
Pesan
itulah yang mengemuka dalam kajian Dr. KH. Tafsir, M.Ag., Ketua Pimpinan
Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, pada Tabligh Akbar keluarga besar
Muhammadiyah Kota Denpasar di Mushala Ahmad Dahlan, Komplek Pendidikan
Muhammadiyah Batanta, Denpasar, Ahad (4/10/2026).
Di hadapan
warga Muhammadiyah, guru, tenaga kependidikan, pimpinan Persyarikatan, dan
berbagai unsur organisasi otonom, KH Tafsir mengajak jamaah melihat dakwah dari
sudut yang lebih luas: bukan sekadar bagaimana ajaran disampaikan, melainkan
bagaimana Islam hadir dan diterima sebagai kebaikan dalam kehidupan masyarakat.
Akhlak Bukan Sekadar Kesopanan
Salah satu
bagian penting kajian KH Tafsir adalah tentang akhlak dan sopan santun.
Menurutnya,
keduanya memiliki wilayah yang berbeda.
Sopan
santun lebih banyak tampak pada perilaku lahiriah seseorang ketika berhadapan
dengan orang lain. Ia berkaitan dengan bagaimana seseorang berbicara, bersikap,
dan menampilkan dirinya dalam kehidupan sosial.
Sementara
akhlak memiliki dimensi yang lebih dalam. Akhlak tidak hanya berbicara tentang
tampilan lahir, tetapi juga keadaan batin.
Seseorang
bisa terlihat santun di hadapan manusia, tetapi belum tentu memiliki kebaikan
batin ketika tidak ada orang yang melihat.
Karena itu,
KH Tafsir mengingatkan agar pendidikan kepada anak-anak tidak berhenti pada
pembentukan kesopanan lahiriah.
Akhlak
harus tumbuh dari dalam.
Sopan
santun memang penting, tetapi ia seharusnya menjadi buah dari akhlak yang baik,
bukan sekadar pakaian sosial yang dikenakan ketika seseorang sedang berada di
hadapan orang lain.
Dengan
bahasa yang ringan dan contoh sehari-hari, KH Tafsir menjelaskan bahwa manusia
sering kali menilai seseorang dari apa yang terlihat.
Manusia
melihat wajah.
Manusia
melihat pakaian.
Manusia
melihat cara seseorang berbicara dan membawa diri.
Namun Allah
mengetahui sesuatu yang jauh lebih dalam: hati dan niat manusia.
Di sinilah
pentingnya membangun keselarasan antara lahir dan batin.
Niat, Akhlak, dan Dua Jenis Ganjaran
KH Tafsir
kemudian membawa jamaah pada pembahasan tentang niat.
Ia
membedakan antara ajr dan ujrah dalam konteks sederhana kehidupan
manusia.
Seseorang
yang hadir dalam sebuah kegiatan dapat memperoleh penghargaan sosial dari
manusia. Namun apabila kehadirannya diniatkan karena Allah, ada dimensi lain
yang menyertainya: pahala dari Allah.
Dengan
demikian, satu perbuatan dapat memiliki dua dimensi.
Ada manfaat
sosial yang diterima dalam kehidupan manusia, tetapi ada pula nilai spiritual
yang hanya Allah yang menentukan.
Karena itu,
KH Tafsir mengajak jamaah untuk menghadirkan keikhlasan dalam setiap aktivitas.
Datang ke
pengajian, mengurus organisasi, mengelola sekolah, membangun kampus,
menjalankan dakwah, bahkan melakukan pekerjaan sosial—semuanya dapat menjadi
amal apabila diniatkan sebagai ibadah.
Dalam
kehidupan Persyarikatan, pesan ini menjadi sangat penting.
Muhammadiyah
adalah organisasi besar dengan ribuan amal usaha dan jutaan aktivitas. Namun
sebesar apa pun organisasi, pada akhirnya nilai amal tetap kembali kepada
orang-orang yang mengerjakannya.
Yang
terlihat oleh manusia mungkin hanya hasil akhirnya.
Tetapi
Allah melihat proses, niat, dan keikhlasan di baliknya.
BIMU dan Wajah Indonesia di Mata Dunia
Dalam
kajiannya, KH Tafsir juga mengaitkan kehadiran Bali International
Muhammadiyah University (BIMU) dengan posisi Bali sebagai salah satu wajah
Indonesia di mata dunia.
Bali
dikenal luas oleh masyarakat internasional. Wisatawan dari berbagai penjuru
dunia datang dan mengenal Indonesia melalui Bali.
Karena itu,
menurut KH Tafsir, kehadiran institusi Muhammadiyah di Bali tidak cukup hanya
kuat secara lokal. Ia juga perlu memiliki orientasi internasional.
BIMU harus
mampu menjadi perguruan tinggi yang memiliki kualitas dan wajah internasional.
Gagasan
tersebut bukan semata-mata persoalan nama.
Ada
tanggung jawab yang lebih besar di baliknya.
Jika Bali
merupakan salah satu pintu dunia mengenal Indonesia, maka institusi pendidikan
yang lahir di Bali juga memiliki kesempatan untuk memperkenalkan wajah
Indonesia yang berkemajuan kepada masyarakat internasional.
Dalam
kerangka itulah, perguruan tinggi Muhammadiyah di Bali tidak seharusnya
dipandang hanya sebagai milik warga Persyarikatan.
Ia dapat
menjadi bagian dari ikhtiar Indonesia untuk menghadirkan pendidikan yang
berkelas dunia, tetapi tetap berakar pada nilai-nilai lokal dan kemanusiaan.
Dakwah yang Membaca Tradisi
Bagian
paling menarik dari kajian KH Tafsir adalah ketika ia membawa jamaah membaca
hubungan antara agama dan tradisi.
Ia
menjelaskan bahwa dalam sejarah Islam, penyebaran agama tidak selalu
berlangsung dengan cara yang seragam.
Para ulama
di berbagai wilayah sering kali menemukan cara untuk mempertemukan nilai-nilai
agama dengan kebudayaan setempat.
Hal
tersebut, menurut KH Tafsir, menjadi pelajaran penting bagi para mubalig
Muhammadiyah di Bali.
Dakwah
tidak boleh kehilangan prinsip.
Namun
dakwah juga tidak boleh gagal membaca masyarakat.
Ada tradisi
yang harus dipahami.
Ada budaya
yang perlu dihormati.
Ada
kebiasaan masyarakat yang harus dibaca dengan cermat.
Di situlah
kecerdasan dakwah diperlukan.
KH Tafsir
mengingatkan bahwa agama dan budaya memiliki ruang perjumpaan yang kompleks.
Para pendakwah perlu memiliki kemampuan membedakan mana prinsip agama yang
bersifat mendasar dan mana bentuk-bentuk budaya yang dapat menjadi media
penyampaian nilai.
Dalam
konteks Bali, kemampuan tersebut menjadi semakin penting.
Sebab Bali
memiliki sistem kebudayaan yang kuat, dengan tradisi yang telah hidup lintas
generasi.
Dakwah yang
hadir tanpa memahami konteks dapat menciptakan jarak. Sebaliknya, dakwah yang
mampu membaca konteks dapat membuka pintu dialog dan penerimaan.
Maslahat sebagai Jalan Membaca Kehidupan
KH Tafsir
kemudian membawa pembahasan pada gagasan maslahat.
Dalam
kehidupan sosial, tidak semua persoalan dapat dijawab hanya dengan melihat
bentuk lahiriah suatu perkara. Ada konteks, tujuan, dan kemanfaatan yang harus
diperhitungkan.
Ia
mengingatkan pentingnya kaidah fikih yang melihat keberadaan maslahat sebagai
salah satu pertimbangan dalam kehidupan umat.
Bagi para
mubalig, cara berpikir seperti ini penting.
Dakwah
tidak boleh hanya bertanya, “Apa yang ingin saya sampaikan?”
Lebih jauh,
dakwah harus bertanya:
“Apa yang
dibutuhkan masyarakat?”
“Bagaimana
pesan ini dapat diterima?”
“Apa
manfaatnya bagi kehidupan mereka?”
Pertanyaan-pertanyaan
semacam itu membuat dakwah tidak berhenti pada penyampaian ajaran, tetapi
bergerak menuju perubahan sosial.
Dari Teks Menuju Pemahaman
Dalam
bagian lain kajiannya, KH Tafsir juga mengingatkan pentingnya memahami
Al-Qur'an secara lebih mendalam.
Ia
membedakan antara terjemah dan tafsir.
Terjemah
membantu seseorang memahami makna bahasa. Namun tafsir membawa pembaca lebih
jauh kepada konteks, maksud, kandungan, dan pesan yang terdapat di balik ayat.
Karena itu,
membaca terjemahan saja belum tentu cukup untuk memahami keluasan pesan
Al-Qur'an.
Perbedaan
tersebut menjadi penting terutama bagi para pendakwah.
Seorang
mubalig tidak cukup hanya mengetahui arti kata.
Ia perlu
memahami konteks ayat, hubungan antarayat, latar belakang turunnya ayat, serta
bagaimana pesan Al-Qur'an dapat diterapkan dalam kehidupan.
Dengan
demikian, dakwah membutuhkan keluasan ilmu sekaligus kebijaksanaan dalam
menyampaikannya.
Muhammadiyah dan Tantangan Dakwah di Bali
Dari
keseluruhan kajian tersebut, satu pesan besar KH Tafsir tampak jelas: dakwah
Muhammadiyah di Bali membutuhkan kecerdasan kontekstual.
Tidak cukup
hanya membawa semangat gerakan.
Tidak cukup
hanya membangun amal usaha.
Tidak cukup
hanya memperbanyak kegiatan.
Semua itu
harus disertai kemampuan membaca masyarakat, menjaga akhlak, meluruskan niat,
memahami tradisi, dan menghadirkan maslahat.
Di Bali,
dakwah Muhammadiyah menemukan ruang yang unik.
Di satu
sisi, ia berhadapan dengan masyarakat yang memiliki tradisi dan kebudayaan yang
kuat.
Di sisi
lain, Bali adalah ruang perjumpaan internasional.
Maka
Muhammadiyah memiliki dua pekerjaan sekaligus: mengakar ke dalam masyarakat
dan membuka diri kepada dunia.
BIMU dapat
menjadi salah satu instrumen penting untuk menjalankan ikhtiar tersebut.
Kampus itu
dapat menjadi tempat ilmu bertemu tradisi, Islam bertemu kemajuan, dan
lokalitas bertemu wawasan global.
Pada
akhirnya, KH Tafsir membawa jamaah kembali kepada hakikat dakwah: bagaimana
Islam tidak hanya benar dalam ajaran, tetapi juga indah dalam perilaku dan
bermanfaat dalam kehidupan.
Sebab
masyarakat tidak selalu membaca agama dari buku yang kita bawa.
Sering kali
mereka membaca agama dari wajah kita.
Dari cara
kita menyapa.
Dari cara
kita menghormati tetangga.
Dari cara
kita memperlakukan mereka yang berbeda.
Dan dari
seberapa besar keberadaan kita menghadirkan manfaat.
Di Bali,
pesan itu terasa semakin relevan.
Dakwah
tidak harus kehilangan identitas untuk dapat hidup berdampingan.
Sebaliknya,
dengan akhlak yang baik, ilmu yang luas, niat yang lurus, dan kemampuan membaca
tradisi, Muhammadiyah dapat hadir sebagai gerakan Islam yang berkemajuan
sekaligus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Dari
Mushala Ahmad Dahlan, KH Tafsir seperti mengingatkan kembali: dakwah bukan
sekadar tentang bagaimana membuat orang mendengar Islam, tetapi bagaimana
membuat nilai-nilai Islam terasa dalam kehidupan.
(RAYD) Donasi PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967



